Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

--- Hasrat ---

28 Maret 2019, 18: 22: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

sego tumpang

Sego Tumpang Hasrat

“Abot,” gumam Dulgembul, “Apa yang di-ji Mas Ulil itu abot.”

Apalagi bagi dirinya. Yang mendapat julukan abdul butun. Alias kawula telih. Yang takaran makannya bukan wareg. Tapi isin. Baru berhenti kalau sudah malu. Malu untuk imbuh terus menerus. Selama belum isin, ya dia akan terus makan. Meski perutnya sudah wareg. Bahkan kewaregen.

Ngaji Ihya’, pada dasarnya memang belajar mengendalikan diri. Mengendalikan nafsu. Nafsu apa saja. Pada diri Dulgembul, yang paling terasa ya nafsu makannya. Apalagi kalau sudah ngambus sego tumpang, sekali ndodok dia bisa imbuh tiga pincuk. Belum lauknya. Belum gorengannya.

Padahal, dalam Ngaji Ihya’, nafsu yang boleh dituruti hanya sebatas kebutuhan tubuh. Kebutuhan. Bukan keinginan. Sepotong roti itu kebutuhan. Dua potong roti sudah termasuk nafsu, keinginan. Apalagi jika sampai merasa keenakan. Larut dalam kenikmatan. Itu berarti saatnya berhenti. Untuk putar balik.

“Lha aku kalau mulai merasa enak, pengin-nya nambah terus,” kata Dulgembul sambil menghela napas panjang-panjang.

Beda lagi dengan Jeng Mayang. Kalau sudah masuk mal, apa saja pengin dibeli. Apalagi, mal sekarang bisa dimasuki sambil leyeh-leyeh di rumah. Lewat aplikasi belanja di layar HP. Begitu dibuka, apa saja tersedia. Mulai peralatan dapur, interior rumah, perhiasan, elektronik, komputer, fashion, properti, kendaraan, aaaapa saja ada.

Semua bikin ngiler. Bikin kemecer. Pengin membeli. Memiliki. Bukan hanya untuk barang-barang yang belum ada di rumah. Tapi, bahkan, juga barang-barang yang sebenarnya sudah punya: dua, tiga, atau empat.

“Yang ini kan beda. Warnanya ndak sama. Model baru. Kita belum punya lo yang jenis ini,” katanya sambil mliliki barang yang menarik hati.

Bahkan untuk sekadar pisau, Jeng Mayang punya berset-set di dapur rumahnya. Padahal ya ndak buka usaha katering. Paling sering ya buat ngirisi bawang, brambang, dan bumbon lain. Yang agak berat ya buat ngonceki tewel. Atau, kalau pas masak daging. Itu pun ndak sampai berkilo-kilo. Ndak seperti Mbok Dadap yang tiap hari bikin sambel tumpang berpanci-panci.

Mirip dengan Matnecis yang selalu tampil dengan rambut klimis dan kumis tipis. Julukan pria metroseksual membuatnya selalu memerhatikan detail penampilan. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yang menempel selalu berganti-ganti tiap hari. Topi, kacamata, kalung, kemeja, kaus, jas, celana, ikat pinggang, kaus kaki, sepatu, dan sandal. Ganti hari, ganti model dan warna. Bahkan, pagi, siang, sore bisa beda. “Lha aku ini kan setengah entertainer to, Mbul. Jadi, ya harus selalu menarik perhatian,” katanya.

Itu sih belum seberapa dibanding Bang Tajir. Yang bukan sekadar suwal, topi, atau jas yang berganti pagi, siang, dan malam. Tapi, juga mobil. Sesuai tema dan kebutuhan.

“Kalau sekadar ganti-ganti kendaraan, aku ini sehari bisa lima enam kali ganti, Mbul. Kadang ojek, kadang mikrolet, kadang bus. Semua dengan merek dan jenis yang beda. Tapi, Bang Tajir memang beda,” timpal Kang Noyo yang kadang juga terlalu bernafsu untuk beli ‘sekadar’ buku.

Menahan nafsu untuk memiliki lebih dari sekadar yang diperlukan tubuh memang bukan urusan gampang. Apalagi jika kondisi kita memang sangat mampu untuk memilikinya. Toh itu bukan hasil dari nyolong. Bukan pakai uang orang lain. Dan, ndak ada yang dirugikan. Wong sugih oleh nyapo ae. Boleh beli apa saja. Terlebih dunia yang kapitalistis seperti sekarang memang menyajikannya. Merangsang konsumerisme penghuninya.

Cuma, perspektif tasawuf yang menghendaki tingginya spiritualitas memang beda. Ia tidak hanya tegas menolak yang haram. Akan tetapi, juga sangat berhati-hati dan membatasi yang halal sekalipun. Ibarat untuk memperoleh postur tubuh yang ideal, manusia harus berhati-hati untuk mengonsumsi makanan yang dihalalkan sekalipun. Karena bisa mengandung lemak, purin, karbohidrat, gula, dan zat-zat lain yang ketika dikonsumsi berlebih akan mengganggu metabolisme tubuh. Ia juga harus rajin-rajin ‘menyiksa’ tubuh dengan olahraga yang cukup dan teratur.

Begitu pula untuk memperoleh jiwa, spiritualitas yang tinggi. Meski dibolehkan, nafsu tidak boleh diumbar sembarangan. Seperti ucap Malik bin Dinar, yang dikutip dalam Ihya’, setiap kali pergi ke pasar. “Sabarlah engkau wahai jiwaku. Aku tidak melarangmu untuk memiliki kecuali karena aku begitu menyayangimu.” Jiwa yang disayang, ndak boleh sering-sering diajak nafsu keluyuran.

“Abot, Mas Ulil…!,” kata Dulgembul sambil memegangi perutnya yang mulai kerucukan lagi. (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia