Selasa, 22 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Widarta, Petenis Junior Kediri yang Berlaga di ITF WJTC di Malaysia

Pagi Fisik, Siang Teknik, Sore Permainan

28 Maret 2019, 17: 58: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

petenis widarta

LENTUR: Widarta berpose di depan deretan medali yang dia raih selama ini. Petenis junior ini akan berlaga di ajang final kualifikasi Asia-Oceania ITF-World Junior Tennis Competition di Malaysia. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Meski muda usia, prestasi remaja ini di cabang tenis sudah banyak. Tak hanya dari pertandingan dalam negeri tetapi juga turnamen di luar negeri. Latihan keras pun dia lakoni.

HABIBAH A. MUKTIARA

Namanya Widarta Nurhidayat. Biasa dipanggil Gendut. Rumahnya di Perumahan Dermo RT 01 RW 03, Kota Kediri. Usianya baru 14 tahun. Namun, di usia belasan itu bocah ini sudah menampakkan talenta di cabang olahraga tenis.

Baca juga: Pengisian Perangkat Desa: Sesuai BAN-PT, IAIN Tulungagung Anggap Legal

Kemarin (28/3) ia tampak sedang sibuk menjalani latihan di Lapangan Tenis PG Mritjan. Siang terik, sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu Gendut terlihat melakukan latihan servis.

“Kakinya kurang nekuk,” teriak Wahyudi, sang pelatih.

Belum lama berlatih, kaos olahraga warna biru di tubuh Gendut sudah basah kuyup. Di hujani oleh keringat yang mengucur deras. Beberapa kali setelah melakukan servis Gendut terlihat mengusap keringat yang bercucuran.

“Persiapan pertandingan di Malaysia,” ucapnya saat beristirahat sejenak dari latihannya.

Pertandingan di Malaysia yang akan diikuti oleh Gendut itu adalah ajang Asia-Oceania Final Qualifying ITF World Junior Tennis Competitio (WJTC) boys. Ada tiga atlet junior yang mewakili Indonesia. Selain Widarta yang dari Kediri, ada Feried Widya dari DI Jogjakarta dan Cowen Lau asal Jawa Barat.

Menghadapi ajang itu Gendut mengaku sangat bergairah.  Dia sangat senang. Dan berjanji akan tampil all out demi Merah Putih.

“Saya bersyukur dan senang sekali bisa kembali membela Indonesia,” ujar Gendut.

Karena antusias itu, Gendut tak ingin setengah-setengah mempersiapkan diri. Siswa kelas 7 SMP Negeri 4 Kota Kediri ini sudah berlatih khusus jauh-jauh hari. Meskipun itu dia lakukan dengan harus meninggalkan pelajaran sekolah. Apalagi saat mendekati hari pelaksanaannya seperti sekarang ini, intensitas latihan pun bertambah.

Setiap pukul 08.00 WIB dia berlatih fisik. Tempatnya di Stadion Brawijaya. Selama dua jam dia melahap berbagai menu peningkatan stamina. Joging yang dia lakukan tak hanya berlari mengitari track lari yang mengelilingi lapangan saja. Tapi juga naik turun tribun sebanyak empat kali putaran. Selain meningkatkan stamina hal itu juga untuk meningkatkan kelincahan.

Usai genjot fisik di Stadion Brawijaya, Gendut kemudian pindah ke lapangan tenis PG Meritjan. Mulainya di saat yang ekstrim, pukul 12.00 WIB. Tengah hari pas saat matahari juga sedang terik-teriknya. Untungnya, lapangan tenisnya punya atap.

Kali ini, menu latihan lebih ke soal kelenturan. Sebelum melakukan servis, ia terlebih dahulu melakukan stretching untuk pemanasan. “Nanti sore gendut juga latihan di (lapangan) Pelti. Latihan lebih ke pertandingan,” terang Wahyudi.

Gendut mengaku sangat optimistis menghadapi pertandingan tersebut. Karena bukan pertama kali ini saja ia melakukan pertandingan di luar negri. Tahun sebelumnya, dia juga pernah mengikuti pertandingan event yang sama. Hanya, saat itu berlangsung di Thailand. Juga, saat itu dewi fortuna belum berpihak. “Saat itu juara tiga,” tutur Gendut.

Kemampuan bermain tenis Gendut tak lepas dari sang ayah, Ipda Totok Nurwidarto. Sang ayah pula yang mendorong Gendut menekuni tenis. Ketika masih berusia lima tahun, ia melihat ayahnya sedang berlatih.

Saat pertama kali belajar tenis, Gendut sedikit kesulitan berlatih. Sebab, antara besar raket dan tubuhnya tak seimbang. Saat itu tubuhnya memang mungil.

Untuk melatih kemampuan tenisnya, ia melakukan latihan setiap hari. Setelah jam sekolah usai. Tidak hanya berlatih di lapangan tenis Pelti saja, juga di lapangan tenis lainnya. Untuk menjaga staminanya, setiap pagi dia berlari memutari lapangan Brawijaya.

“Bahkan gendut sudah diminta untuk gabung di sekolah kusus olahragawan,” tutur Wahyudi.

Sebenarnya, pelatih di SMA Ragunan Jakarta beberapa kali menelepon orang tua Gendut. Memintanya segera bergabung. Namun, karena merasa belum bisa mandiri, Gendut belum bisa menuruti ajakan itu. “Nanti kalau sudah SMA baru bergabung (di SMA Ragunan),” aku Gendut. 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news