Rabu, 11 Dec 2019
radarkediri
icon featured
PERSIK KEDIRI
Persik Kediri

Menpora RI: Jangan Ulang Kebiasaan Lama

26 Maret 2019, 17: 40: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

Logo Persik

Logo Persik

Share this          

KEDIRI  KOTA - Permasalahan klasik terkait pencairan hadiah masih saja terjadi hingga saat ini. Seperti yang dialami oleh Persik Kediri. Hadiah juara liga 3 yang menjadi haknya belum juga dibayarkan oleh PSSI.

Terkait kabar negatif itu, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi justru mengaku belum mengetahui. Menpora mengaku baru mengetahui hal tersebut ketika ditanya oleh para pewarta pada Sabtu (23/3) kemarin.

“Kalau itu sudah menjadi hak Persik, apalagi menjadi juara (Liga 3), saya kira PSSI harus segera membayarkannya,” ujarnya.

menpora persik kediri

PEDULI: Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Nahrowi menegaskan bahwa hal semacam itu tidak baik bagi wajah persepakbolaan Indonesia. Terlebih saat sedang dalam masa sulit seperti sekarang ini. Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada induk persepakbolaan tersebut agar segera memberikan apa yang menjadi hak Persik Kediri. Tidak boleh ditunda-tunda lagi.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, yang belum dibayarkan oleh PSSI kepada Persik tidak hanya hadiah juara saja. Melainkan bonus untuk kategori pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak juga belum dibayarkan.

Pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak juga disabet oleh penggawa Macan Putih. Galih Akbar Febriawan menyabet gelar pemain terbaik dalam gelaran liga 3. Sedangkan gelar pencetak gol terbanyak disabet oleh Septian Satria Bagaskara.

Total hadiah yang seharusnya menjadi hak klub asal kota tahu sebanyak Rp 330 juta. Dengan rincian Rp 300 juta sebagai juara Liga 3 Indonesia. Sedangkan masing-masing Rp 15 juta untuk gelar pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak. Ketiga kategori itu pun belum sampai ke kantong manajemen maupun Galih dan Bagas.

Dalam kesempatan itu Nahrowi mengaku kecewa dengan masih ditemukannya permasalahan tersebut. “Jangan ulang-ulang kebiasaan lama. Setahun kemudian (hadiahnya) baru diberikan, jangan!” tegas pria kelahiran Bangkalan tersebut.

Ia pun mengaku memahami kondisi tim jika mendapatkan terpaan hal negatif seperti itu. Menurutnya klub tentu ingin selalu tampil prima dan eksis dalam liga yang kompetitif. Eksis yang dimaksudkan juga meliputi sehat dalam hal keuangan.

“Klub memang harus sehat secara keuangan karena nantinya akan dipakai untuk persiapan tim dan  perbaikan manajemen. Tidak boleh ditunda lagi. Harus segera dicairkan,” imbuhnya.

Menurut Imam, seharusnya hal serupa sudah tidak terjadi lagi dalam penyelenggaraan event olahraga apapun. Apalagi dalam sepak bola yang merupakan olahraga yang paling diminati oleh masyarakat.

“Toh, hak siar, bonus dan hadiah telah direncanakan sejak awal oleh operator. Saya kira hal yang mudahlah seperti itu,” pungkas pria berumur 46 tahun tersebut.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia