Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (8)

Situs Brumbung, Bukti Peradaban Kuno

26 Maret 2019, 17: 04: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

arca dwarapala kediri

AGAR AMAN: Arca Dwarapala dan beberapa artefak kuno yang ditemukan ditempatkan di Balai Desa Brumbung. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

 Situs Brumbung menjadi salah satu bukti peradaban kuno di sekitar aliran Kali Serinjing. Berbagai benda purbakala ditemukan di sini. Juga ada prasasti dari zaman kerajaan yang berbeda.

Kebaradaan Situs Brumbung menjadi sarana mengungkap peradaban di daerah timur Kabupaten Kediri. Selain pada era Kerajaan Medang yang dibuktikan dengan Prasasti Harinjing dan Paradah di Desa Siman, ada lagi yang lain. Ternyata, pada era keemasan Kerajaan Kediri hingga Majapahit daerah ini masih menjadi lokasi penting.

Untuk mengetahui situs ini tidaklah sulit. Saat ini Situs Brumbung ini telah diamankan di kantor desa setempat. Dekat dengan jalan utama penghubung Desa Siman dan Desa Damarwulan, Kecamatan Kepung. Sebelumnya situs ini ditemukan di areal persawahan warga yang dinamakan watu tulis. Hal ini lantaran pada situs tersebut juga ada dua prasasti. Gneng (Brumbung) I dan II. Karena prasasti itu lah warga menyebutnya watu tulis.

Berbeda dengan Prasasti Harinjing dan Paradah II, Prasasti Gneng I berasal dari Kerajaan Kediri. Yakni pada masa pemerintahan Kameswara. Hal tersebut ditandai dari adanya lancana Candra Kapala (tengkorak menggigit bulan, Red) yang selama ini dikenal sebagai lancana dari Raja Kameswara. Prasasti ini masih membahas tentang penerimaan sejumlah warga atas penghargaan tanah perdikan di utara Kali Serinjing.

Sedangkan Prasasti Gneng II berasal dari Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi yang dikeluarkan pada tahun 1329 Masehi. Dua prasasti inilah menjadi bukti kuat bahwa Desa Brumbung merupakan daerah kuno. Menjadi salah satu daerah peradaban di sekitar Kali Serinjing. Tepatnya di utara sungai bersejarah tersebut.

Penggiat budaya Novi Bahrul Munib menyebut, di sekitar Watu Tulis Brumbung  banyak ditemukan struktur dan benda bersejarah. Di antaranya adalah struktur batu persegi. Juga ada beberapa keramik Tiongkok. Sebuah umpak yang terguling dan serpihan batu-bata kuno. "Di sekitar watu tulis juga ada tiga arung kuno sebagai sarana irigasi zaman dulu," katanya.

Penemuan benda sekaligus prasasti di watu tulis itu kini dikumpulkan di depan kantor desa. Pihak pemerintah desa (pemdes) membuatkan pendapa kecil untuk melindungi situs tersebut. Di sekelilingnya diberi pembatas berupa kawat besi. Ada gerbang sebagai tempat masuk. Namun lebih sering terkunci. Hal ini untuk melindungi situs tersebut.

Selain dua prasasti, ada juga yoni berjumlah 3, arca dewa, umpak, dorpel, dan jambangan. Juga sepasang dwarapala yang dikenal sebagai patung penjaga pintu tempat suci. Selain itu ada juga kepala kala yang terlihat masih utuh.

Dari bukti-bukti tersebut sangat besar kemungkinan bahwa kawasan watu tulis adalah bekas candi atau tempat pemujaan yang terpendam. Benda tersebut sebagian besar tampak masih utuh. Sangat terawat dan kini menjadi sarana edukasi warga di sana.

Warga Desa Brumbung meyakini bahwa di watu tulis masih banyak benda yang belum diangkat. Bahkan mereka pernah menyebut masih ada satu lagi prasasti yang masih terpendam.

Situs Brumbung ini melengkapi bukti sejarah di wilayah timur Kabupaten Kediri. Bisa dibilang sebuah kawasan budaya yang masih terpendam. Kawasan yang sangat makmur kala itu hingga menjadi daerah penting di berbagai era-kerajaan.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia