Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Serba Salah

24 Maret 2019, 11: 27: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh : Mahfud

Oleh : Mahfud

Share this          

Kira-kira, apa yang bisa membuat manusia benar-benar terpuaskan? Harta, kuasa, atau paduan keduanya? Apakah menumpuknya kekayaan mampu membuat sang manusia itu bahagia? Terpuaskan semua dahaganya? Atau justru sebaliknya? Ibarat air garam, semakin banyak kita teguk semakin terasa tinggi dahaga di raga.

Bagi manusia, justru harta dan kuasa bukanlah sarana untuk membuat puas. Buktinya, mereka yang terjerat korupsi apakah yang berkubang dalam kekurangan harta? Mereka yang berebut kursi kuasa apakah yang selama ini termarginalkan dalam kehidupan politik dan kekuasaan?

Tidak. Karena justru premis itu terbalik. Mereka yang korupsi adalah mereka yang bergelimang dalam kemuliaan dunia. Mereka yang berebut kuasa adalah mereka yang berulang kali mengecap kenikmatan kekuasaan. Mungkin, saya dan Anda saat ini bisa saja mengolok-olok para koruptor itu sebagai orang tak bermoral. Orang tak berjiwa atau orang tak beragama-meskipun banyak di antara mereka yang dahinya menghitam karena salat tapi masih juga tega melakukan korupsi. Tapi, apakah saya dan Anda yakin ketika kita mendapatkan sesuatu yang sama dengan para koruptor itu kita tidak melakukan hal yang sama? Ketika kita bergelimang harta dan kekuasaan, apakah kita tak ada keinginan untuk mengambil hak orang lain?

Karena sejatinya manusia itu adalah tempatnya semua yang serba salah. Tak ada yang benar pada diri seorang manusia. Aturan yang dibuat pun sejatinya juga menunjukkan bahwa manusia itu selalu serba salah. Persis seperti kutipan dari penyanyi reggae, Bob Marley, yang saya ambil sebagai pembuka tulisan ini. “Kau bilang kau suka hujan, tapi kau memakai payung saat berjalan di bawahnya. Kau bilang kau suka matahari tapi kau justru berteduh ketika matahari bersinar. Kau bilang kau suka angin tapi kau malah menutup jendela saat angin menghampirimu.”

Skeptis? Mungkin saja. Tapi, itulah kenyataan yang semakin menampak pada situasi saat ini. Ingar-bingar politik membuat udara di sekitar kita terasa panas, pengap. Besarnya wilayah negara Indonesia seperti tak cukup luas untuk memenuhi ego para pendukung dua kubu yang berebut kuasa. Semakin kuat ajakan untuk bersikap damai, semakin besar pula hasrat untuk menjatuhkan satu sama lain. Ah….., dunia…..

Tapi coba kita tak membahas hal itu. Sudah terlalu banyak suara yang terlibat. Sudah terlalu tinggi ego yang terlibat. Bisa-bisa menjadi orang yang skeptis bisa semakin jengah.

Coba kita bahas keserbasalahan manusia pada alam. Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dengan menyediakan dunia seisinya seperti tak berarti bagi kita. Apapun yang disediakan alam ternyata juga serba salah. Bagaimana manusia sudah meninggalkan kearifan lokal. Tak lagi bisa membaca tanda-tanda alam. Yang terjadi, ketika musim kemarau kekeringan selalu menghantui. Sedangkan bila musim penghujan seperti sekarang ini, banjir akan rajin menerjang.

Kesalahan alam? Tentu saja tidak. Karena alam memang bergerak sesuai jalannya. Alam punya hukumnya sendiri. Yang sebenarnya diciptakan Sang Pencipta untuk tempat manusia, makhluknya.

Sayangnya, justru manusia yang tak bisa menempatkan diri di tengah-tengah sang alam. Bagaimana manusia dengan serakahnya menghabisi hutan di bukit-bukit. Bagaimana manusia mengubah tempat-tempat yang seharusnya jadi resapan justru sebagai hunian. Bagaimana manusia menciptakan kemajuan justru dengan tak memperhitungkan bagaimana alam itu berjalan. Yang terjadi akhirnya adalah banyaknya bencana. Ironisnya, ketika bencana itu terjadi, bukannya manusia menjadi instropeksi pada diri sendiri, justru lebih banyak yang menuding orang lain sebagai penyebabnya. Misal, bencana muncul karena si A yang pemimpin sudah tidak direstui oleh Tuhan lagi. Ah…..serba salah.

Ketika musim angin kencang seperti sekarang ini, tak terhitung berapa banyak pohon bertumbangan. Apa yang kita lakukan untuk mengantisipasinya? Beramai-ramai kita tebang pohon-pohon itu. Dasarnya tentu pemikiran sederhana, bila tak ada pohon  maka tak ada yang tumbang terkena angin.

Padahal, pohon itu sangat penting justru untuk menahan angin. Kalaupun kemudian ada kenyataan pohon tersebut bertumbangan, maka yang perlu kita pikirkan adalah apakah pohon tersebut cocok dengan iklim kita. Karena penanaman pohon di iklim tropis seperti tempat hidup kita ini tentu tak bisa sembarangan. Jangan hanya karena pohon itu berbunga indah kemudian dibuat untuk pohon peneduh di tepi jalan. Karena bisa jadi pohon-pohon itu akarnya tak kuat untuk menahan sang batang dari terpaan angin. Atau, batangnya yang mudah patah.

Nenek moyang kita mengajari seperti apa pohon yang benar-benar kuat sebagai peneduh. Pohon beringin bisa berumur hingga ratusan tahun dan tetap tegak berdiri dalam ratusan kali pergantian musim. Pohon trembesi di tepi jalan bisa tegak berdiri hingga berpuluh-puluh tahun. Lalu, mengapa saat ini justru pohon-pohon yang ada mudah sekali bertumbangan?

Mungkin, sudah saatnya kita kembali berkenalan dengan alam. Membaca dan mengenali apa keinginan sang alam. Sebelum akhirnya kita bisa menentukan langkah bagaimana berkompromi dengan alam. Agar bisa menciptakan tata kehidupan seimbang. Bukan berat sebelah. Bukan tata kehidupan yang memenangkan manusia tapi mengalahkan sang alam.

Kalau kemudian bencana masih banyak terjadi, jangan juga gampang menuduh akibat si A, si B, si C, si anu, si itu, dan si si yang lain. Tapi bagaimana kita bisa meluruskan sikap kita terhadap alam. Kalau tak percaya, silakan bertanya pada rumput yang bergoyang. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia