Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Features

Fakris Muslim, Atlet sekaligus Kreator Frame Motor Motocross

Lebih Nyaman dengan Rangka Bikinan Sendiri

23 Maret 2019, 15: 45: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

atlet kreator frame motor

BERTALENTA: Fakris Muslim mengutak-atik kerangka motor yang akan digunakan untuk lomba grasstrack, di bengkelnya. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Presisi, geometris, dan harus pas dengan ukuran tubuh. Rumus-rumus itu yang selalu dia terapkan saat membuat rangka motor untuk keperluan olahraga motocross. Agar sang pengendara merasa nyaman.

IQBAL SYAHRONI

Bengkel motor di Desa Gadungan, Wates, itu terlihat ramai. Dua orang terlihat sedang melakukan setting motor trail. Sesekali mereka mencoba melajukannya di jalanan depan bengkel. Suara yang dihasilkan motor untuk olahraga motocross itu pun seperti meraung-raung.

Di antara mereka yang sibuk itu ada seorang lelaki yang serius mengutak-atik frame motor trail. Bentuk motor itu juga hampir terlihat. “Hampir jadi ini, Mas,” ucap lelaki itu.

Lelaki itu adalah Fakris Muslim. Dia adalah pemilik bengkel tersebut. Namun, Fakris bukan hanya seorang teknisi atau perakit motor yang identik pengendara laki-laki itu. Fakris juga seorang atlet motocross.

Jawa Pos Radar Kediri yang menunggu di ruang tamu yang persis berada di sebelah bengkel jadi ikut merasakan suasana bengkel yang riuh. Raungan mesin motor beberapa kali terdengar.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, adik kandung  Kepala Desa Gadungan, Wates Khairul Basir ini mendekati Jawa Pos Radar Kediri. Menceritakan tentang kerangka motor yang sedang dikerjakannya itu.  Frame itu adalah pesanan dari seorang pembeli. Butuh waktu sekitar 10 hari untuk menyelesaikan satu frame pesanan seperti itu.

Fakris bukan orang baru di bidang itu. Dia mulai berkecimpung di dunia otomotif, khususnya motocross ini, sejak duduk di bangku sekolah menengah kejuruan (SMK). “Awalnya sepeda motor yang pertama kali saya dapat motor Yamaha FIZ-R (yang) dibelikan oleh kakak saya (Kades Basir, Red),” kenangnya.

Fakris kemudian mengingat-ingat sejenak. Sejurus kemudian dia kembali bercerita. Motor bebek standar itu kemudian dia modifikasi menjadi berspesifikasi  motor untuk cross. Beberapa bagian dia ganti. Di antaranya roda dan shock breaker. Setelah selesai dia kemudian menjajalnya dengan langsung ikut kejuaraan.

Pertama kali terjun di kejuaraan adalah ketika dia berlomba di Blitar. Hebatnya, dia langsung bisa merengkuh juara pertama walaupun mengendarai Yamaha FIZ-R modifikasi. “Waktu itu lomba grasstrack,” imbuhnya.

Grastrack sendiri agak berbeda dengan motocross yang mensyaratkan motor ber-cc lebih besar dan dari pabrikan langsung. Meskipun sama-sama berlomba di tanah, grasstrack lebih terbuka untuk semua jenis motor. Termasuk motor modifikasi dari bebek sport seperti milik Fakris. Selain itu, grasstrack memang ‘hanya’ ada di tanah air. Sedangkan motosport memang sudah masuk kategori internasional.

Tapi Fakris tak hanya besar di ajang grasstrack. Lelaki ini juga jago dalam ajang motocross. Sudah tak terbilang medali yang dia dapatkan dari berbagai kejuaraan. Tak hanya Kediri saja, juga kejuaraan di Blitar, Banyumas, hingga Kalimantan.

Setiap kali berlomba dia nyaris tak pernah absen naik ke podium juara. Jatah lima slot juara seperti menjadi langganannya. Bila tak menjadi kampiun, dia hampir selalu masuk 5 besar.

Prestasi terbarunya adalah saat mengikuti kejuaraan satu minggu silam di Prigi, Trenggalek. Dia mendapatkan gelar sebagai peringkat keempat Junior FFA non-usia. Sebentar lagi dia juga akan mengikuti ajang lomba lain. Yaitu pada Juni mendatang.

“Selalu mempersiapkan sebelum lomba,” sebutnya membuka rahasia sukses di berbagai ajang itu.

Salah satu persiapannya adalah dengan membuat frame sepeda motornya sendiri. Karena menurutnya, hanya dirinya sendiri yang dapat menilai keenakan saat berkendara. “Seperti ilmu yang saya dapatkan ketika kuliah, karena juga kebetulan jurusan teknik mesin dan skripsi saya tentang penghitungan geometri tentang frame motor untuk motocross,” terangnya.

Ia membuat frame motor untuk sepeda motornya sendiri sejak 2013. Seiring berjalannya waktu, ia mendapatkan banyak pesanan frame. Frame buatannya bisa laku dengan harga Rp 2-3,5 juta. Hal itu membuatnya bersyukur karena bisa menyalurkan hobi sekaligus menjadi pendulang pendapatan.

Bapak satu anak ini menjelaskan, konsumennya datang dari berbagai daerah. Mulai Kediri, Blitar, Tulungagung, hingga daerah Pegunungan Kerinci, Jambi. Ia merasa sangat beruntung dapat menerapkan segala ilmu yang didapat saat sekolah hingga kuliah. Sekaligus untuk memacu hobi dan pekerjaannya sekarang.

Ucapan Fakris bahwa frame bikinannya banyak digunakan para crosser mendapatkan bukti. Beberapa motocrosser yang berjajar di depan bengkel menganggukkan kepala ketika ditanya apa frame itu dari hasil karya Fakris. Bagi Fakris, kebanggaannya saat ini adalah karyanya dapat membawanya menikmati hobi yang ia sukai.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia