Selasa, 12 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Hujan Dua Hari, Puluhan Hektare Sawah Terendam

BPBD Minta OPD Terkait Evaluasi Fungsi Drainase

23 Maret 2019, 10: 43: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

Banjir

TERANCAM BUSUK: Puluhan Hektare sawah di Desa Sumengko, Sukomoro terendam air bah selama dua hari terakhir. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK-Hujan deras yang terjadi sejak Selasa (19/3) lalu membuat puluhan hektare sawah di Desa Sumengko, Sukomoro dan Desa Nglaban, Loceret terendam. Petani pun waswas. Mereka khawatir padi yang mendekati masa panen itu akan membusuk.

          Seperti dikatakan oleh Puryanto, 48, warga Desa Sumengko, Sukomoro. Pria yang kemarin mengecek tanaman padinya yang terendam mengaku khawatir. Sebab, setelah dua hari terendam, air belum surut. “Kalau terus begini padinya bisa membusuk,” ujar Puryanto.

          Apalagi, kemarin sore hujan kembali turun cukup deras di Nganjuk. Dia pun semakin resah. Sebab, tanaman padinya bisa terendam dalam waktu yang lebih lama lagi. “Saya berharap ke depan tidak ada hujan deras lagi agar saluran irigasi tidak meluber ke sawah,” lanjutnya.

          Puryanto juga menyesalkan kondisi saluran irigasi yang dangkal. Kondisi itu pula yang menurutnya membuat saluran tidak mampu menampung air dan meluber ke sawah.

          Kondisi banyaknya saluran air yang dangkal juga dibenarkan oleh Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Soekonjono. Menurutnya, genangan yang muncul di perkotaan saat hujan turun deras selama beberapa hari terakhir ini karena beberapa faktor. Selain karena penyempitan sungai dan saluran irigasi, juga karena pendangkalan. “Drainase tidak bisa berfungsi dengan baik,” ungkapnya.

          Genangan air, lanjut Soeko, muncul karena saluran tidak bisa berjalan efektif. Termasuk saluran air di Desa Nglaban, Loceret dan Desa Sumengko, Sukomoro.

Beruntung luapan air irigasi itu tidak sampai masuk ke dalam rumah. Melainkan hanya menggenangi area persawahan selama dua hari. Hingga kemarin sore, irigasi yang mengalir ke sungai Ganggang Malang itu belum turun debitnya.

Bahkan, sebagian ada yang meluap ke jalan desa. Selain di dua desa tersebut, menurut Soeko, Desa Jekek, Baron, juga tergenang air bah. Luapan air tidak hanya menggenangi jalan. Melainkan juga masuk ke rumah warga.

“Ada empat rumah yang terendam air bah dengan ketinggian air 10-50 sentimeter,” terang Soeko sembari menyebut dalam waktu satu jam air langsung surut.

          Lebih jauh Soeko menjelaskan, semakin banyaknya daerah di Nganjuk yang tergenang saat hujan turun deras itu seharusnya menjadi kajian. “Harus dievaluasi fungsi drainase. Idealnya dicek saat musim hujan seperti sekarang agar tidak selalu tergenang,” pintanya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia