Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Events

Memajang Foto di Medsos

23 Maret 2019, 08: 06: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

Dialog Jumat

Dialog Jumat

Share this          

Seorang muslimah yang telah bersuami namun memajang foto dirinya di media sosial (medsos), bagaimana menurut pandangan Islam? Terima kasih penjelasannya.

Endah, Kediri, 085745450xxx

Jawaban: Media sosial adalah saluran atau sarana pergaulan sosial secara online di dunia maya (internet). Di mana para penggunanya berkomunikasi, berinteraksi, saling kirim pesan, saling berbagi, dan membangun jaringan di media tersebut. Media sosial bagi umat Islam dapat dimanfaatkan untuk menyambung silaturahmi, dan ini diperbolehkan. Karena Islam tidak membatasi cara dan media apa yang bisa dipergunakan untuk menjalin silaturahmi.  Islam hanya membatasi  tidak boleh menjalin silaturahmi dengan cara atau media yang dilarang dan bertentangan dengan ajaran Islam. Misalnya menjalin silaturahmi dengan berkumpul sambil main judi atau minum-minuman keras.

Memasang foto pada media sosial pada dasarnya adalah boleh bila bertujuan untuk kebaikan. Misalnya untuk menunjukkan pemilik akun tersebut atau sekadar untuk berbagi berita kepada para pengguna media tersebut. Namun demikian niat seseorang memasang foto di sebuah media sosial dapat diidentifikasi memiliki banyak motif.

Yang paling umum adalah orang memasang foto diri pada akunnya untuk menunjukkan bahwa dia adalah pemilik akun tersebut. Atau bisa juga bila dibagikan pada kolom status bertujuan untuk menunjukkan kabar dan berita dirinya  atau ekspresi diri (self expression), pencitraan diri (personal branding), ajang curhat dan keluh kesah. Bisa jadi, motif memasang foto tersebut untuk memamerkan diri, untuk riya, atau menunjukkan gambar dirinya agar dipuji orang, dari segi penampilan, kecantikan, ketampanan dan lain sebagainya.

Hukum memasang foto diri seorang muslimah sendirian padahal telah bersuami dapat dilihat dari motif pemasangan tersebut. Bila bertujuan untuk memamerkan dirinya, riya, menunjukkan kecantikan dirinya pada orang lain, atau motif lain yang tidak baik, maka hal itu tidak diperbolehkan. Sama hukumnya dengan perbuatan itu di luar media sosial. Bila pemasangan tersebut sangat diperlukan maka menjadi diperbolehkan. Dengan mempertimbangkan manfaatnya lebih banyak daripada mudaratnya.

Selain itu perlu diperhatikan, bahwa meminta izin kepada suami adalah lebih bisa menghindarkan diri dari fitnah yang sangat mungkin terjadi. Juga, menghindari terjadinya fitnah itu harus lebih dahulu dipertimbangkan dari pada ingin mengambil manfaat yang belum jelas. Semoga kita terhindar dari fitnah karena media sosial. (Muhammad Muhaimin, Pengajar pada Fakultas Syari’ah IAIN Kediri).

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia