Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Pengungsi Banjir Papar

Terbangun karena Selimut Basah

23 Maret 2019, 07: 24: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

banjir papar

MENGUNGSI: Pita Cahyaningsih bersama anak-anaknya saat berada di pengungsian sementara di kantor PNPM Desa Papar, Kamis (21/3). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Di tengah tidur lelapnya, Pita terbangun karena banjir bertambah tinggi. Bersama anak pertama dan bayinya yang baru berumur dua bulan ia pun terpaksa mengungsi.

ANDHIKA ATTAR

 

banjir papar

EvAKUASI: Tim membawa warga menggunakan perahu penyelamat. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Pita Cahyaningsih sempat bimbang. Rumahnya di Dusun Bulurejo, Desa/Kecamatan Papar sudah tergenang air. Tetapi ia masih berusaha bertahan. Padahal ia memiliki dua anak yang masih kecil. Anak keduanya, Nadia Aulia Putri, bahkan masih berumur dua bulan.

Setelah dibujuk beberapa kali, akhirnya ia setuju ikut mengungsi. Perempuan yang biasa disapa Pita itu lalu ganti membujuk anak pertamanya, Bayu Saputro, untuk mau naik perahu. Ia pun lalu naik ke perahu karet oranye milik BPBD Kabupaten Kediri itu.

Tanpa banyak membawa perlengkapan, Pita siap dievakuasi. Perahu pun mulai berjalanan. Dibantu petugas, ia bersama kedua anaknya bisa mencapai lokasi yang lebih aman. Sebuah mobil Ranger milik Polsek Papar pun telah menunggu. Bersama dengan tetangganya yang juga mengungsi, ia diantar ke kantor PNPM desa setempat.

Di perahu, Pita memeluk erat sang bayi. Menjaga agar tidak kedinginan dan menangis. Di balik selimut merah dan penutup kepala warna kuning, Nadia tenang di pelukan ibunda. Tak ada tangis yang pecah meski keadaan sedang tidak bersahabat.

“Padahal tadi melek (terjaga, Red). Untungnya tidak rewel atau nangis. Bisa tambah repot nanti,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri saat tiba di pengungsian.

Pita mengungsi bersama belasan jiwa lainnya di sana. Menempati satu ruang kosong yang disediakan. Mereka berkumpul, beralaskan karpet merah. Saling berbincang mengusir gundah. Mengisi waktu yang tak lama lagi menjelang subuh.

Bocah-bocah tak kalah dengan yang sudah berumur. Seperti mendapatkan waktu lebih untuk bermain dan berkumpul, mereka justru asyik bercanda. Tak terkecuali Bayu. Seperti tidak ada hal buruk yang terjadi. Mereka tetap gayeng menikmati malam.

Sesekali tangan Pita mengayun di atas kepala Nadia yang direbahkan di karpet. Mengusir nyamuk yang bersiap menyedot darah sang buah hati. Terkadang dengan tangan kosong, terkadang dengan kipas. Nyamuk hilang, Pita kembali tenang.

Sebelum dijemput oleh petugas evakuasi, Pita mengaku sedang terlelap. Bersama kedua anaknya mereka tidur di ranjang yang bawahnya tergenang air. Ia sendiri baru terbangun pada tengah malamnya. Saat ia merasa kedinginan menjalar di tubuhnya.

“Ujung selimut saya terkena air yang menggenang. Lha lama-lama selimut saya basah. Baru saya terbangun karena kedinginan,” cerita Pita.

Ia pun langsung terbangun. Menyadari ketinggian air sudah lebih tinggi dari sebelumnya, ia memutuskan tetap terjaga. Lagipula kala itu suaminya masih bekerja di peternakan ayam. Praktis, Bayu adalah satu-satunya pria yang ada di rumah pada Kamis (21/3) kemarin.

Beruntung, pada malam harinya sebelum tidur, barang-barangnya sudah dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi. Tetapi tetap saja perabotannya tergenang oleh air banjir.

Di pengungsian, Pita pun tetap terjaga. Baginya hal itu sudah biasa. Bukan hal baru baginya. Bagaimana tidak, memiliki bayi sudah sewajarnya Pita sering terjaga di tengah malam. “Setiap satu jam sekali itu pasti terbangun. Tengah malam pun seperti itu. Biasanya haus anaknya,” ungkap perempuan kelahiran 1987 tersebut.

Di saat Nadia tertidur lelap di pengungsian, Bayu justru asyik menggoda sang adik. Berulang kali diciumnya sang adik dengan gemas. Meski dilarang sang ibunda, ia tetap melakukannya. Pita khawatir kalau Nadia nanti terbangun.

Kehangatan keluarga kecil tersebut memang tak bisa disembunyikan. Dalam keadaan seadanya di pengsungsian, mereka tetap kompak. Kehangatan mereka menjadi penawar nelangsa yang dirasa.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia