Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (4)

Arung Kuno Mirip Terowongan Surowono

23 Maret 2019, 07: 09: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

arung kuno

BAWAH TANAH: Penggiat sejarah menelusuri arung kuno di Desa Brumbung. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Teknologi sistem pengairan sudah ada sejak zaman nenek moyang. Selain Kali Serinjing yang mengairi persawahan di sekitarnya, juga masih ada arung kuno. Asalnya juga dari sungai tersebut.

Selama ini arung kuno yang telah dikenal di Kabupaten Kediri adalah terowongan Surowono, di Desa Canggu, Badas. Namun ternyata masih banyak arung kuno lain yang ada. Terutama di wilayah timur Kabupaten Kediri. Salah satunya adalah arung yang ditemukan di Desa Brumbung, Kepung. Satu peninggalan bersejarah di dekat Kali Serinjing yang nyaris terlupakan.

Arung kuno atau saluran air berupa terowongan buatan di bawah tanah tersebut belum diketahui secara pasti sejak kapan dibuat. Yang jelas dari karakteristiknya mirip dengan arung Surowono.

Selama ini tak banyak yang tahu lokasi arung tersebut. Karnea berada di tengah areal persawahan. Aksesnya pun cukup sulit dijangkau yang membuat kawasan arung jarang di jamah.

Lokasi arung ini tepatnya di areal persawahan bekas penemuan Prasasti Gneng (Brumbung) I dan II. “Daerah sawah sekitar sini disebut Watu Tulis. Ada tiga gua di bawah. Yang satu seperti sumur,” kata Maliyadi, petani yang berada di daerah Watu Tulis itu.

Dari pantauan, ada tiga arung yang bisa dijumpai di kawasan Watu Tulis. Lokasinya berada di satu lembah yang masih dialiri air. Kondisinya lembab, dengan berbagai macam jenis vegetasi tumbuh di daerah tersebut. Arung berbentuk sumur yang dimaksud Maliyadi letaknya ada di bagian paling atas. “Belum ada yang berani masuk sini. Karena takut tidak ada jalan tembusnya,” ungkap pria 60 tahun tersebut.

Sementara dua arung lainnya terletak lebih ke bawah. Jaraknya sekitar 100 meter dari arung pertama. Arung kedua yang dimaksud berbentuk gua. Meski terlihat kecil, namun satu orang dewasa masih bisa masuk ke dalam. “Kalau yang ini pernah dimasuki sampai ke dalam. Katanya ada percabangan. Warga sini yang masuk,” ujar pria yang karib disapa Yadi tersebut.

Arung ini berada sekitar 10 meter di bawah persawahan. Letaknya di bagian dasar tebing. Dari dalam mengalir deras air jernih di atas mata kaki. Kondisi dindingnya sudah menjadi batuan padas. Sementara arung terakhir berukuran lebih kecil dibanding arung kedua. Tingginya 2 meter tetapi tidak bisa dimasuki orang karena kondisinya yang sempit.

Sebenarnya masih ada arung lain di Desa Brumbung. Tepatnya di daerah Beji. Karakteristik arung tersebut sama dengan arung-arung lain.

Menurut ketua Pasak sekaligus Penggiat Budaya Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib, arung kuno di Desa Brumbung ini tidak terlepas dari teknologi pengairan di zaman kerajaan dahulu. Namun dia belum bisa menyebut secara pasti sejak kapan arung tersebut dibuat. Yang jelas itu merupakan bukti sejarah kejayaan Kediri masa lalu. Terutama pada sistem pengairan yang digunakan untuk irigasi areal persawahan. Apalagi di daerah Kepung juga dikenal dengan penemuan Prasasti Harinjing yang berisi tentang penganugerahan tanah sima kepada sang Bagawanta Bhari atas kehebatannya dalam membuat sebuah saluran irigasi berupa Kali Serinjing.

Dari penjelasan Novi, sebenarnya di daerah Kabupaten Kediri, utamanya bagian timur ini banyak arung kuno. Namun sebagian besar telah tertutup akibat aktivitas vulkanik Gunung Kelud. “Terutama di daerah Kecamatan Kepung yang dikenal banyak sumber mata airnya,” sebutnya.

Menurutnya arung Brumbung tersebut masuk kategori arung besar. Karena bisa dilalui orang seperti arung yang ada di Surowono yang sudah dikenal banyak orang. Di sekitar arung, juga masih ditemukan pecahan keramik dan batu bata merah. Bukti bahwa kawasan itu dahulu memang menjadi daerah pemukiman.

Novi juga sempat menyinggung bahwa arung kuno merupakan sebuah karya nenek moyang yang luar biasa. Mereka memanfaatkan teknologi saluran bawah tanah untuk mengambil urat-urat air di dalam tanah dengan membuat lorong-lorong yang cukup dalam. Dengan keberadaan arung kuno tersebut, menjadi bukti bahwa kawasan sekitar Kali Serinjing sejak dulu telah dimanfaatkan sebagai kawasan pemukiman dengan mata pencaharian utama adalah bertani.

Arung Watu Tulis Brumbung

-         Arung Berbentuk Sumur: Diameter 2 meter, kedalaman belum diketahui, setelah dilihat, di dasar sumur tersebut sekitar 4 meter terdapat percabangan yang mengarah ke tenggara.

-         Arung 2: Ketinggian 1,5 meter, Lebar Bibir 1 meter, lebar bagian dalam 70 Sentimeter, Kedalaman belum terhingga.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia