Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Pemilik Tempat Pijat Jalani Sidang

Terancam Pasal Permudah Perbuatan Cabul

23 Maret 2019, 07: 02: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

panti pijat

DISIDANG: Murti saat berdiskusi dengan penasihat hukumnya. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

KEDIRI KOTA – Sidang pertama yang menyeret terdakwa Murti, 42, warga asal Kecamatan Sendang, Tulungagung, dimulai. Dalam sidangnya (21/3) ia didakwa dengan pasal 296 KUHP oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Munir Supriyadi.

          Suasana sidang tersebut tertutup. Murti, memasuki ruang sidang kartika di Pengadilan Negeri Kelas I-B (PN) Kota Kediri, diiringi oleh petugas kejaksaan. “Sidang tertutup, mohon agar para pengunjung sidang keluar terlebih dulu,” ujar Hakim Ketua Charni Wati Ratu Mana.         

          Setelah berlangsung sekitar 20 menit. Murti pun keluar didampingi dengan penasihat hukumnya, Budi Nugroho. Sebelum dikembalikan ke ruang tahanan sementar PN Kota Kediri, keduanya terlihat sedang membicarakan hal saat sidang.

          Selesai berbicara dengan kliennya, Budi menyempatkan waktu ketika ditanyai oleh wartawan koran ini. Ia menjelaskan bahwa agenda sidang yang barusan selesai itu adalah pembacaan dakwaan.

          Ia menjelaskan bahwa berdasarkan dakwaan yang dibacakan oleh JPU, menurutknya kurang tepat. Karena menurut Budi, pemilik panti pijat Iin Shiatsu yang berada di Jalan Mauni, Kecamatan Pesantren itu tidak melanggar jika dilihat dari surat izin yang kliennya miliki. “Lagian, saat dilakukan penggrebekan oleh Polda, klien saya tidak sedang berada di lokasi, ia masih sakit saat itu, sekitar 10 hari tidak ke panti pijat miliknya,” terang Budi.

          Berdasarkan keterangannya, kliennya memiliki surat izin resmi, Mulai dari SIUP, Tanda Daftar Perusahaan, Izin Komersial dan Operasional, Nomor Induk Berusaha (NIB), Izin Usaha TDUP, dan Surat Terdaftar Penyehat Tradisional yang masa habisnya hingga tahun 2020.

          Dalam sidang tersebut, Budi mengajukan banding permohonan terhadap majelis hakim, yakni mengubah status tahanan rutan menjadi tahanan rumah, tahanan rutan menjadi tahanan kota, dan penangguhan penahanan. “Hasilnya akan diumumkan pada sidang mendatang,” imbuhnya.

          JPU Munir saat setelah sidang mengatakan bahwa terdakwa Murti dikenai pasal 296 KUHP tentang mempermudah perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain yang diancam pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan. “Dari fakta yang berada di berkas, ada pelanggan yang tertangkap oleh Polda Jatim sedang dilayani oleh terapis secara tidak sepatutnya. Sedangkan terdakwa adalah sebagai pemilik tempat usaha tersebut,” imbuhnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia