Selasa, 22 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Features

Melongok Aktivitas Bank Sampah di Desa Mlati, Kecamatan Mojo

Hasil Penjualan Kerajinan untuk Lunasi PBB

21 Maret 2019, 19: 47: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

bank sampah mojo

LAKU: Dwi Rahmawati membuat seserahan dari kardus bekas di rumahnya, kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Awalnya kelompok ini mencari solusi menjaga lingkungan tetap bersih. Namun, dalam perkembangannya kelompok ini juga membuat hubungan antartetangga semakin harmonis. Akrab dan kompak.

 

HABIBAH A. MUKTIARA

Siang itu, sekitar pukul 11.30 WIB, hujan mengguyur di kawasan Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Kebanyakan warga desa memilih untuk tak beraktivitas di luar rumah. Berganti dengan menyibukkan diri di rumah masing-masing. Atau sekadar bercengkerama dengan keluarga.

Demikian pula yang ada di satu rumah yang ada di Dusun Besi. Dwi Rahmawati duduk bersimpuh di lantai. Di ruangan yang biasa digunakan ibu-ibu anggota kelompok bank sampah berkumpul. Tangannya sibuk merekatkan kardus menggunakan lem. Mengubahnya menjadi kotak untuk seserahan. Yang biasa digunakan untuk pengiring mempelai dalam pernikahan.

“Kotak ini terbuat dari kardus yang sudah tidak terpakai,” jelasnya.

Sampah kardus yang sudah tidak terpakai itu merupakan hasil yang dikumpulkan oleh kelompok Bank Sampah Mlati Asri. Bank sampah yang beranggota warga RT 02 RW 03 ini berdiri 2 Januari setahun silam. “Masih tergolong baru. Anggotanya hanya ada enam orang,” terang wanita yang juga ketua kelompok bank sampah ini.

Idenya bermula setelah ada kegiatan di Desa Mlati. Ibu dua anak ini awalnya mencari ide untuk menjaga kebersihan lingkungan desa. Lalu tercetuslah ide pembentukan bank sampah. Dengan bank sampah, tidak hanya menjaga kebersihan desa tapi juga bisa membuat warga saling berkomunikasi.

Kelompok bank sampah merupakan salah satu bentuk pengabdian warga. Yang merasa peduli terhadap kelangsungan lingkungan. Munculnya bank sampah itu membuat masyarakat terbantu. Mereka tidak lagi kesulitan membuang sampah-sampah yang semakin hari kian menumpuk.

Pihak bank sampah sudah menyiapkan tempat terpisah untuk sampah. Dibedakan jenis sampahnya. Mana yang sampah plastik, kardus, atau yang lain. “Agar sampah-sampah tidak bercampur, kami terlebih dahulu memilahnya," terang Dwi.

Hampir satu tahun lebih bank sampah ini berdiri. Mereka  hingga saat ini hanya menerima sampah-sampah yang bisa didaur ulang. Untuk sampah basah, kelompok ini masih belum bisa menerima. Bukan hanya karena kurang tenaga kerja, juga karena belum mencukupi tempat dan peralatannya untuk sampah basah.

Pengumpulan sampah berlangsung dua hari setiap minggunya. “Saya keliling rumah untuk mengumpulkan sampah, tanpa ada pungutan biaya,” terang Dwi.

Sampah-sampah yang dikumpulkan tersebut kemudian dipilah-pilah sesuai dengan jenisnya. Tempat penyimpanan sampah tersebut berada di belakang rumah istri Bambang Setia Budi ini. Tempatnya hanya beratap genting dan bertiang bambu. Agar tidak lagnsung menyentuh tanah diberi alas dari bambu juga. Di dindingnya ditempel pengelompokan jenis sampah. “Sampah ini akan dijual setiap bulan kepada pengepul,” imbuhnya.

Sedangkan untuk barang-barang yang masih bisa digunakan, seperti kardus, koran, hingga kain perca, dijadikan bahan kerajinan. Mulai dari kotak seserahan, miniatur kapal, hingga lampion. Ada beberapa barang, salah satunya kotak seserahan yang layak jual. Dan sudah disetor ke Pasar Mojo untuk dijual di sana.

Berdirinya bank sampah juga menjadi salah satu solusi problem yang muncul di desa tersebut selama ini. Sebelum ada bank sampah, warga selalu membakar sampah yang ada. Asapnya pun sering mengganggu warga juga.

Selain itu, dari bank sampah ada pemasukan yang diperoleh anggotanya. Yang bisa digunakan untuk membayar pajak bumi dan bangunan (PBB). “Kalau sedang ada acara agustusan, uang tersebut dapat digunakan untuk membeli tiang bendera,” terangnya.

Kini, bank sampah yang punya yel-yel ‘nandur becik ngolah sampah, lingkungan resik neng kene onok bank sampah’ ini juga mulai mengembangkan area. Tak hanya mengambil sampah di lingkungannya saja. Tapi juga mengambil sampah dari sekolah di sekitar desa.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia