Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

-- Peraturan --

21 Maret 2019, 19: 43: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

Sego Tumpang

Sego Tumpang

Share this          

Dari mana datangnya peraturan? Pasti dari sesuatu yang kacau. Yang tidak teratur. Atau, setidak-tidaknya dianggap begitu. Dan, sesuatu yang kacau atau tidak teratur, pasti muncul dari sesuatu yang diperebutkan.

Antre sego tumpang Mbok Dadap, misalnya. Semua berharap bisa dilayani lebih dulu. Selak kesusu. Kesusu anaknya budal sekolah. Kesusu suaminya berangkat bekerja. Dan, kesusu-kesusu lainnya. Apalagi di era sekarang di mana waktu terasa balapan.

“Aku dhisik, Mbok…”

“Lho, aku sing dhisik, Mbok..”

“Ra iso, kowe teka keri. Aku sing dhisik…!”

Lalu, bag-bug... Bras-bress… Geduwel-geduwel… Glodaakk, bruukk..! Ndlosooorrrr…

Itu jika situasinya dibiarkan. Ndak ada yang mau ngalah. Semua berebut. Pek menange dewe. Makanya, terkadang Mbok Dadap harus bikin aturan. Biar ndak kacau. Sebab, tidak teratur itu ternyata ndak enak. Dan, bisa menimbulkan kerawanan. Seperti bag-bug, brass-bress, lalu ndlosor itu.

Yang sederhana, aturan itu cukup dengan meminta mereka anteng-antengan. Yang paling anteng, dilayani lebih dulu. “Mayaangg, kowe pesen pirang bungkus, cah ayu?” tanya Mbok Dadap kepada Jeng Mayang yang paling anteng.

Semua ndak bisa protes karena ndak ada yang punya bukti siapa yang datang paling dulu. Datang-datang sudah pada kruntelan. Uyel-uyelan. Makanya, akhirnya diminta anteng-antengan sama Mbok Dadap.

Yang lebih tersistem, Mbok Dadap bikin keplek. Keplek antrean. Seperti di tempat-tempat praktik dokter. Atau, poli-poli rumah sakit yang melayani BPJS itu. Cuma, biar ndak ada yang nakal, keplek-nya ndak diperjual-belikan, Mbok Dadap naruh keplek itu di tempat yang bisa dilihatnya langsung dengan jelas. “Hoee..kae ojo nyrobot!,” teriaknya ketika ada yang ndusel untuk meraih keplek duluan. Padahal, datangnya belakangan.

Peraturan itu bisa berjalan efektif karena Mbok Dadap yang membikin. Bukan pelanggannya yang biasa berebut dulu-duluan. Karena Mbok Dadap yang bikin, dia bebas dari kepentingan. Kalaupun ada, kepentingannya cuma satu: membuat semua pelanggannya puas. Ndak ada yang dikecewakan. Semua merasa terlayani. Secara adil. Fair. 

Di situ, Mbok Dadap bertindak sebagai wasit. Tapi, sekaligus pemegang kuasa tertinggi. Kalau ndak mau ikut aturannya, ya ndak akan didoli. Itu yang membuat para pelanggannya manut. Ndak bisa protes. Lha wong sego tumpang yang enaknya sak ndonya cuma ada di warung Mbok Dadap.

Beda jika aturan itu dibuat oleh mereka yang ikut berebut dulu-duluan. Pasti akan disesuaikan dengan kepentingan masing-masing. Dan, itu rawan untuk ditolak oleh yang beda kepentingan. Bisa kacau lagi.

Padahal, itu cuma berebut sarapan sego tumpang. Apalagi jabatan. Kekuasaan. Yang sejak manusia ada, memang punya kecenderungan untuk selalu diperebutkan. Dari zaman Nabi Adam, sampai Adam Malik, sampai Maleek Berry. Dari presiden sampai kamituwa, bahkan ketua RT.

Itu makanya, dalam tiap event perebutan jabatan atau kekuasaan seperti itu, kisruh rawan terjadi. Seperti pengisian perangkat desa di Kabupaten Kediri hari-hari ini. Juga, hari-hari lalu. Konyolnya, semua gara-gara peraturan.

Jika hari-hari lalu karena peraturan yang itu, hari-hari ini karena peraturan yang ini. Jika hari-hari lalu yang protes kelompok itu, hari-hari ini yang protes kelompok ini. Itu-ini, ini-itu, gantian protesnya.

Padahal, itu sama-sama ada peraturannya. Yang lahir untuk meminimalkan ketidakteraturan. Agar tidak kacau. Ndahneya kalau ndak ada peraturannya. Bisa-bisa tidak sekadar bag-bug, bras-bres, lalu ndlosor. Tapi, blas-bles, lalu nggletak. Tewas. Ditusuk keris. Kebenaran ditentukan oleh yang menang.

“Ndak perlu nggletak, ndak perlu tewas, Kang,” makclebung Dulgembul bilang. “Cukup peraturannya yang diperjelas.”

“Maksudmu?,” tanya Kang Noyo.

“Ya yang lolos ditentukan berdasar yang paling gede mbayar-nya. Dijamin, yang banda cupet akan langsung mlipir..,” jawab Dulgembul tanpa dosa. Membuat Kang Noyo kejet-kejet.

“Itu pengaturan, Mbuuulll…!” (tauhid wijaya)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia