Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Temukan Retakan Tanah Baru di Ngetos

Bencana Longsor Susulan Mengintai Desa Kepel

21 Maret 2019, 12: 33: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

Retakan

BERBAHAYA: Relawan desa siaga bencana memperlihatkan retakan tanah baru di tebing Desa Kepel, Ngetos, kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK–Hujan deras dan gempa berkekuatan 3,5 skala richter (SR) di kawasan Gunung Wilis Selasa (19/3) lalu, langsung ditindaklanjuti oleh badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) Nganjuk. Kemarin, mereka mengecek sejumlah kawasan rawan longsor di Desa Kepel, Ngetos. Hasilnya, tim menemukan beberapa retakan tanah baru yang berpotensi menyebabkan longsor. 

          Koordinator Tim Lapangan BPBD Nganjuk Agus Sulistiyono yang kemarin mengecek lokasi bersama timnya, menemukan sedikitnya ada lima retakan tanah baru di tebing yang 2017 lalu terjadi longsor hebat itu. Panjang retakan bervariasi. Ada yang mencapai belasan meter.

          Selain retakan tanah baru, tim BPBD juga melihat retakan tanah lama yang semakin membesar. Jika sebelumnya hanya selebar lima sentimeter, kemarin lebar retakan menjadi sekitar 15 sentimeter. “Ini berbahaya. Rawan terjadi longsor susulan,” ujar Agus.

          Lebih jauh Agus mengungkapkan, melebarnya retakan tanah juga membuat satu pohon mangga berdiameter sekitar 30 sentimeter tumbang. Ditanya tentang penyebab munculnya retakan tanah baru di tebing tersebut, Agung mengaku belum bisa memastikannya. “Kami belum bisa memastikan apakah ini terkait dengan gempa atau tidak,” lanjutnya tentang retakan tanah sepanjang 150 meter di tebing itu.

          Dikatakan Agus, selain gempa berkekuatan 3,5 SR, kemarin wilayah Nganjuk juga diguyur hujan deras selama beberapa jam. Hujan deras dan gempa, lanjut Agus, sama-sama bisa memicu terjadinya retakan tanah di tebing. Karenanya, dia belum bisa membuat kesimpulan.

          Untuk diketahui, retakan tanah tidak hanya ditemukan di tebing area longsor. Sekitar satu kilometer dari sana, warga juga menemukan retakan tanah baru. Panjangnya sekitar 50 meter dan terbagi dalam beberapa titik.

          Munculnya banyak retakan tanah itu, lanjut Agus, harus jadi peringatan bagi warga. Yaitu, untuk tidak beraktivitas di sekitar area tebing saat hujan deras mengguyur lingkungan mereka. “Selama ini warga hanya menganggap retakan tanah itu hal biasa,” keluhnya tentang tanda ancaman longsor itu.

          Terpisah, Kepala Kelompok Teknisi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sawahan Sumber Harto berujar, kemarin tim BMKG Sawahan sudah mengecek lokasi pusat gempa, kemarin. Hasilnya, mereka tidak menemukan kerusakan.

          Karenanya, Harto memastikan retakan tanah baru di Desa Kepel, Ngetos tidak terkait dengan gempa Selasa sore lalu. “Semuanya dalam kondisi aman dan terkendali,” katanya.

          Dikatakan Harto, gempa yang terjadi Selasa lalu merupakan sesar lokal. Dari hasil pantauan pusat gempa, tidak semua penduduk yang tinggal radius 500 meter dari epicenter gempa, bisa merasakan getarannya.

          Pernyataan Harto itu diperkuat dengan tidak ada respons dari alat pendeteksi getaran atau early warning system (EWS) yang terpasang di Ngetos. Saat tim BPBD mengecek alat tersebut kemarin, tidak ada rekaman getaran di sana. “Tidak ada respons,” tandas Agus sembari mengecek alat yang dipasang di perbukitan itu.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia