Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Ahmad Romdi Rijohansyah, Balita Penderita Hidrosefalus

Selangnya Beku, Tangis pun Langsung Pecah

20 Maret 2019, 17: 05: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

Balita Penderita Hidrosefalus

CINTA KASIH: Suciati dengan penuh cinta kasih menunggui Johan saat dirawat di RSUD Pare karena sakit batuk kemarin (19/3). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Johan harus lahir prematur. Melalui operasi caesar. Pilihan berat demi keselamatan sang ibu dan dirinya sendiri. Karena Johan menderita hidrosefalus sejak di dalam kandungan.

ANDHIKA ATTAR

Tatapan mata Suciati tak bisa lepas dari anak keduanya itu, Ahmad Romdi Johansyah. Balita yang akrab disapa Johan itu tengah terbaring di kasur RSUD Pare. Menjalani perawatan karena sakit batuk.

Bagai elang, mata Suciati selalu memperhatikan keadaan sang anak dengan seksama. Tangannya tak berhenti mengelus-elus punggung sang buah hati. Mengusapnya dengan lembut.

Bagi keluarga tersebut, RSUD Pare sudah bukan tempat yang asing. Johan dahulunya juga dilahirkan di RS tersebut. Melalui operasi caesar. Keputusan yang diambil karena sang janin divonis menderita hidrosefalus sejak dalam kandungan.

Hal itu diketahui saat dilakukan pemeriksaan ultrasonography (USG). Pada saat itu kandungan Suciati baru menginjak bulan kedelapan. Pemeriksaan USG itu baru pertama kalinya dilakukan oleh Suciati. Biasanya ia hanya memeriksakan kehamilan di bidan dekat rumahnya. Di Desa Jambu, Kayenkidul, Kabupaten Kediri.

Siapa sangka bila USG itu justru membuat pasangan Suciati dan Andri Budi Santoso mendapatkan berita mengejutkan. “Hari ini USG, besoknya langsung diminta untuk operasi caesar. Kata dokter kalau tidak segera dioperasi akan berbahaya bagi kesehatan bayi dan ibunya,” kenang perempuan 33 tersebut.

Mendengar dan mengetahui kondisi sang anak, Suciati tak bisa menutupi hatinya yang sangat terpukul. Perasaannya bercampur-aduk. Ia senang anak keduanya lahir dengan selamat. Namun di sisi lain, penyakit yang diderita Johan membuat hatinya hancur.

Penolakan dan rasa tidak terima sempat hinggap di hatinya. Bahkan ia sering kali merasa sedih jika melihat keadaan sang anak. Belum lagi ketika ada orang lain yang melihat kondisi Johan dengan tatapan aneh.

“Kadang ada anak kecil yang dengan polos tanya kepalanya adik (panggilan sayang Suciati pada Johan, Red) kok besar itu saya langsung nelangsa rasanya,” ungkapnya sembari terisak dan mengusap air mata.

Pernah juga teman anak pertamanya, Rendi Bagus Susanto, yang bertanya hal serupa. Di saat hati Suciati sudah merasakan nelangsa, jawaban si sulung justru menenangkan hatinya. Rendi dengan tegas menjawab pertanyaan temannya dengan bijaksana.

“Yo ben sirahe adikku gede, seng penting sehat (Biar saja kepala adikku besar, yang penting dia sehat, Red),” ucap Suciati menirukan jawaban Rendi.

Di umur Rendi yang baru memasuki delapan tahun, kedewasaan dan kebesaran hatinya sudah terbentuk. Rendi sangat sayang kepada sang adik. Tak peduli dengan keadaannya seperti apa.

Perilaku dan sikap yang ditunjukkan Rendi itu menjadi salah satu yang menguatkan hati Suciati. Selain itu, dukungan dari suami pun sangat berarti baginya. Suciati tidak lagi merasa sendiri dalam menghadapi kondisi tersebut.

Hari demi hari dilalui dengan perjuangan oleh keluarga tersebut. Andri bekerja serabutan sebagai perajin batako. Dalam seminggu, jika bekerja secara penuh ia bisa mengantongi uang Rp 450 ribu. Namun pada saat sepi dan tidak ada panggilan, bisa dipastikan pendapatannya pun berkurang.

Dengan kehidupan yang sederhana tersebut, Andri dan Suciati diminta untuk membawa Johan operasi di salah satu RS di Kota Malang. Yaitu tak lama setelah Johan dilahirkan. Sayang, rencana tersebut tidak jadi dilaksanakan. Mereka mengaku terkendala oleh dana.

Operasi baru bisa dapat direalisasi pada saat usia Johan tiga bulan. Kali ini operasinya berada di RS Gambiran Kediri. Tujuannya untuk pemasangan selang di bagian kanan bawah kepala Johan. Saluran itu berguna untuk mengeluarkan cairan di kepalanya secara berkala.

“Setiap tiga kali sehari harus diurut karet selang tersebut untuk memastikan selang tidak membeku. Kalau membeku dan alirannya tidak lancar biasanya anaknya langsung nangis kesakitan,” ujarnya.

Kalau sudah menangis, biasanya Suciati harus menimang sang anak. Johan baru bisa tenang dalam pelukan sang ibu. Untuk menggendong sendiri, ia harus menunggu hingga delapan bulan lamanya. Pasalnya pada awal kelahirannya, kepala Johan masih lembek. Sehingga belum bisa digendong.

Dengan kondisi tersebut, keluarga mereka tetap saling menguatkan. Tidak peduli apa kata orang yang melihat negatif kondisi Johan, mereka tetap menyayanginya. “Bagaimanapun juga Johan merupakan hadiah titipan dari Tuhan. Kami harus merawatnya dengan sepenuh hati,” tutur Suciati.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia