Jumat, 18 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Temui Mantan Istri usai Membunuh Mertuanya

JPU Hadirkan Lima Saksi dalam Sidang Pembunuhan

20 Maret 2019, 10: 07: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Sidang

BEBER BUKTI: JPU menunjukkan berita acara pemeriksaan (BAP) terdakwa disaksikan oleh penasihat hukum dan Darsono (lima dari kanan), dalam sidang di PN Nganjuk, kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK-Sidang kasus pembunuhan Siti Munawaroh, 65, warga Desa Banjaranyar, Tanjunganom, dengan terdakwa Sudarsono, 51, menantunya, kembali digelar kemarin. Dalam sidang yang menghadirkan saksi istri dan anak pria tua itu, terungkap jika dia sempat mendatangi mantan istrinya di Jombang usai menghabisi nyawa mertuanya.

          Sidang digelar mulai pukul 10.30. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan Supiyatin, istri Sudarsono; M. Amin, adik ipar; Devian Puspita, anak Sudarsono; Isman, tetangga, dan Didik Purwanto, seorang anggota polisi.  

          Di depan majelis hakim, M. Amin, membeberkan ancaman yang didapat Supiyatin, kakaknya, sebelum Sudarsono membunuh Siti Munawaroh. “Dia (Sudarsono, Red) mengancam Mbak (Supiyatin, Red) lewat SMS,” ujar Amin.

          Mengetahui kakaknya diancam oleh suaminya, Amin sempat mendatangi Darsono dan menanyakannya. Kepada sang adik ipar, Darsono berkilah ancaman itu hanya gertakan. “Dia (Darsono, Red) meminta maaf. Katanya, tidak mungkin melakukan ancaman itu,” lanjut Amin sembari menyebut Darsono berjanji akan menyelesaikan masalahnya dengan sang istri secara kekeluargaan.

          Keterangan Amin diperkuat dengan pengakuan Supiyatin. Dia mengaku sudah kerap mendapat ancaman dari suaminya. Selain mengancam akan membunuh Siti Munawaroh, mertuanya, Darsono juga pernah mengancam akan bunuh diri dengan anaknya jika Supiyatin yang bekerja di Surabaya itu tak pulang.

          Lebih jauh Supiyatin yang telah menikah dengan Darsono selama 13 tahun itu menjelaskan, hubungan keduanya retak karena Darsono cemburu. Hal itu pula yang berujung pada pembunuhan Siti Munawaroh. Perempuan tua itu dianggap jadi penghalang kepulangan Supiyatin.

          Melihat nyawa sang ibu terancam, Supiyatin meminta agar kunci rumah digandakan. Tidak hanya itu, Siti Munawaroh juga sempat menginap di rumah tetangga selama dua hari.

          Rupanya, hal tersebut tak membuat Darsono mengurungkan niatnya. Dia tetap saja menghabisi nyawa Siti Munawaroh pada Minggu, 21 Desember 2018 lalu. Dia tega memukul kepala mertuanya dengan palu saat perempuan tua itu keluar dari dapur hendak mengambil air wudhu sekitar pukul 04.30.

Usai beraksi, Darsono yang sempat pulang ke rumah kontrakannya langsung kabur dengan berlari. Rupanya, aksi Darsono sempat dilihat oleh Isman, tetangganya. Kemarin dia juga membeberkan kesaksiannya. “Habis  salat subuh di musala, saya melihat Mas Dar (Darsono, Red) lari seperti orang jogging,” bebernya.

Saat itu dia mengaku tak curiga dengan aksi Darsono. Dia baru membeberkan kesaksiannya itu kepada polisi setelah mendengar kabar Siti Munawaroh meninggal karena dibunuh.

Rupanya, selama dalam pelarian, Darsono sempat ke rumah mantan istrinya di Jombang. Di sana pula, Darsono bertemu dengan Devian Puspita, putrinya dari istri pertama.

Dalam sidang kemarin, Devian mengaku bertemu dengan sang ayah Desember 2018 lalu. Saat itu, Darsono meminta uang Rp 300 ribu. “Setelah itu bapak tidak ada. Saya lapor ke polisi,” tuturnya.

Sementara itu, usai mendengar keterangan dari para saksi, Darsono yang duduk di kursi terdakwa sama sekali tak memberikan bantahan. Saat ditanya tentang kebenaran keterangan para saksi, dia hanya mengangguk tanda membenarkannya. Sidang langsung ditutup dan dilanjutkan Selasa (26/3) dengan agenda pemeriksaan saksi.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia