Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Politik

BMKG Akan Survei Pusat Gempa

Jalan Kota Nganjuk Tergenang

20 Maret 2019, 09: 51: 04 WIB | editor : Adi Nugroho

Banjir

TEROBOS BANJIR: Dua pengendara yang melintas di Jl Wakhid Hasyim Kota Nganjuk nekat memacu laju motornya meski jalan di sana tergenang air setinggi sekitar 30 sentimeter. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK-Gempa berkekuatan 3,5 skala richter mengguncang tiga kecamatan di Nganjuk, kemarin sore. Menindaklanjuti gempa yang berpusat di barat daya Kota Kediri atau di kawasan Gunung Wilis itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sawahan berencana melakukan survei. Terutama, untuk memastikan ada tidaknya rekahan tanah di sana.

          Kepala Kelompok Teknisi BMKG Sawahan Sumber Harto mengungkapkan, gempa yang terjadi sekitar pukul 17.34 kemarin dirasakan warga di tiga kecamatan. Mulai Sawahan, Ngetos dan Loceret. Dengan skala I hingga II modified mercalli intensity (MMI), gempa kemarin sore termasuk berkekuatan besar. Sebab, gempa terjadi di darat dengan kedalaman lima kilometer.

          Meski demikian, Harto, sapaan akrab Sumber Harto, belum bisa menyimpulkan apakah gempa tersebut menunjukkan kondisi Gunung Wilis yang aktif atau tidak. “Kami belum bisa memberi penjelasan, kejadian ini akan kami koordinasikan dengan BMKG pusat,” lanjut Harto tadi malam.

          Menindaklanjuti gempa kemarin sore, Harto berujar, hari ini tim BMKG Sawahan akan mengecek lokasi pusat gempa. Tujuannya, untuk memastikan ada tidaknya rekahan baru akibat gempa tersebut.

Pasalnya, sebelumnya BMKG telah menemukan rekahan tanah di Gunung Wilis. Tepatnya di Desa Margopatut, Sawahan. Jika muncul rekahan akibat gempa kemarin sore, Harto menyebut BMKG akan menganalisa apakah rekahan itu terhubung dengan rekahan di Margopatut atau bahkan ke Kediri. “Temuan lapangan itu yang akan dianalisa BMKG,” tandasnya.

          Terkait rilis dari BMKG Kelas I Jogjakarta yang menyebut gempa bumi di Gunung Wilis kemarin sore tergolong gempa dangkal akibat aktivitas sesar lokal, Harto menegaskan, gempa tersebut termasuk gempa bumi tektonik. “Kami berharap warga tidak perlu panik dan tidak terpengaruh dengan isu-isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” pintanya.

          Pascagempa kemarin sore, Harto meminta masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem selama satu minggu ke depan. Sebab, di Nganjuk berpotensi terjadi hujan lebat pada siang hari.

Hujan dengan intensitas tinggi itu dipicu oleh siklon savannah di perairan Samudera Hindia dan pusat tekanan rendah di selatan Nusa Tenggara Timur (NTT). “Pola angin konvergensi, yakni pertemuan masa udara itu mengakibatkan pembentukan awan cumulonimbus yang menyebabkan terjadinya hujan,” tegasnya.

          Untuk diketahui, dampak awan tersebut sudah dirasakan warga Nganjuk. Sejak sekitar pukul 15.00, wilayah Nganjuk diguyur hujan deras. Hujan selama lebih dari dua jam itu membuat sejumlah jalan di Kota Nganjuk tergenang.

Pantauan koran ini, jalan di Kota Nganjuk yang tergenang di antaranya Jl Dermojoyo, Jl Kartini, Jl Jaksa Agung Suprapto dan beberapa ruas jalan lainnya. Genangan juga terlihat di jalan protokol Kertosono.

 Sumiati, 51, warga Kelurahan Kauman, Kota Nganjuk mengatakan, genangan air di lingkungannya berasal dari selokan dan sungai. “Hujannya terlalu deras, sungainya meluap,” ujar perempuan tua itu terkait genangan setinggi 30 sentimeter di depan rumahnya. 

          Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Seokonjono memastikan, genangan di sejumlah jalan di Kota Nganjuk itu hanya bersifat sesaat. Terkait banyaknya jalan di Kota Nganjuk yang tergenang, Soeko, sapaan akrab Soekonjono menyebut hal itu akibat adanya pendangkalan dan penyempitan.

Terutama dari sungai Sukomoro yang muaranya masuk ke sungai Kedungsoko. “Sampai sekarang tidak ada normalisasi,” terangnya sembari menyebut saluran sebelum sungai Kedungsoko merupakan saluran utama yang menampung air dari wilayah barat Kota Nganjuk.

Adapun genangan setinggi sekitar 50 sentimeter di Kertosono, menurut Soeko akibat tidak tertampungnya air hujan di saluran. “Untuk mencegah banjir, perlu kajian teknis tentang saluran yang langsung ke sungai Brantas menggunakan gorong-gorong besar,” tegasnya. 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia