Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Harus Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

19 Maret 2019, 16: 56: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

revolusi industri 4.0

KOMITMEN: Gubernur Khofifah bersama KH Kafabihi Mahrus usai memberi kuliah tamu di Aula Muktamar Lirboyo, kemarin. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak mahasiswa dan santri agar siap menghadapi revolusi industri 4.0. Mereka harus bisa memanfaatkan era digital ini untuk mengembangkan industri kreatif yang diciptakan. Terutama untuk produk makanan dan minuman.

“Kalau kita ingin jadi bagian dari itu, maka sebaiknya menyiapkan banyak start up mulai sekarang,” pesannya usai memberikan kuliah tamu bertema “Peran Perguruan Tinggi dan Ponpes Menyongsong Era Industri 4.0,” di Aula Muktamar Ponpes Lirboyo Kota Kediri kemarin.

Selain start up, santri juga disarankan bisa berkolaborasi dengan mereka yang sudah sukses. Seperti situs Bukalapak, Tokopedia, dan lain sebagainya. Menurutnya ini merupakan terobosan yang sudah dilakukan oleh anak-anak muda di Indonesia, termasuk di Jatim.

“Maka pesantren yang memiliki jejaring yang luar biasa pasti akan lebih cepat jika jejaring tersebut dilakukan dengan jejaring digitalisasi,” paparnya.

Menurutnya bagaimana di era seperti ini bisa mengambil hikmah dari four point zero melalui format-format lima sektor strategisnya yang tertinggi. Yakni produk makanan dan minuman. Termasuk produk makanan yang mudah diakses.

“Dengan one pesantren one product kita berharap menjadi bagian dari penguatan. Bagaimana terutama kita mengambil yang sederhana yakni makanan minuman dijadikan sebuah produk yang kreatif,” jelasnya.

Terkait inovasi itu, Gubernur Khofifah juga sudah meminta Duta Besar Tiongkok terkait penerapan teknologi agro. Khususnya teknologi bunga mawar dan anggrek. Menurutnya, pada 2001 Tiongkok sudah membuat informasi teknologi pengolahan agro. Sehingga informasi kapan bunga tersebut mekar akan bisa diketahui.

“Kediri memiliki sektor agro bunga anggrek yang luar biasa, karenanya teknologi ini harus kita ambil. Dan IAIT Lirboyo bisa ikut ambil peran dalam pengembangannya,” tukasnya.

Hadir dalam acara itu, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, Rektor IAIT Lirboyo KH Abdullah Kafabihi Mahrus, pengurus Ponpes Lirboyo, Forkopimda Kota Kediri, serta ratusan mahasiswa-mahasiswi IAIT Lirboyo Kediri.

Sementara itu, di Pare, Kabupaten Kediri, Khofifah juga menegaskan komitmen terhadap industri dan usaha kecil menengah. Saat menghadiri harlah Muslimat NU di Stadion Canda Bhirawa Pare, dia menilai industri yang ada di Kabupaten Kediri sudah mumpuni. Hanya saja diperlukan beberapa dukungan dan komitmen dari pemerintah untuk mengembangkannya.

“Waktu saya tanya kepada pelaku industri tersebut kebanyakan mereka mengeluhkan pemasaran dan perizinan dari produknya. Hal itu merupakan kendala yang harus kita carikan solusinya,” kata Khofifah saat berada di stadion Canda Bhirawa Pare kemarin siang.

Dia mengaku sudah menemui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Mencarikan solusi untuk para pelaku industri dan usaha kecil menengah itu. Hasilnya BPOM Jatim akan membentuk pelayanan satu pintu. Untuk mempermudah proses perizinan. Dia meminta sinyal positif tersebut terus dikembangkan untuk lima bakorwil BPOM lainnya.

“Dengan begitu akan mendekatkan dengan masyarakat dan penggunanya nanti. Saya juga telah mendatangi perizinan terpadu satu pintu. Mereka akan membuka layanan hingga 13 sektor,” bebernya.

Di Kabupaten Kediri, baru memiliki 5 dari 13 sektor tersebut. Ke depannya ia berharap Kabupaten Kediri bisa genap memiliki 13 sektor tersebut. “Kita ingin menggerakkan menjadi 13 sektor di Kabupaten Kediri pada minggu ini. Sehingga mereka yang kesulitan mendapatkan izin bisa dipercepat,” lanjutnya.

Dengan dukungan dan komitmen tersebut, dia mengaku pemprov telah memiliki grand design. Khofifah sendiri telah memiliki gambaran bagaimana potensi di Kabupaten Kediri ke depannya. Ia berupaya agar Kabupaten Kediri bisa menjadi inisiator budidaya anggrek nomor satu di Indonesia.

“Pada dasarnya sudah ada embrio ke arah sana. Tinggal bagaimana sekarang dikembangkan. Sehingga Kabupaten Kediri bisa menjadi eksportir anggrek. Karena kebutuhan anggrek di dunia ini sangat luar biasa,” ujarnya.

Selain anggrek, dia melihat potensi besar dari budidaya ikan lele di Kabupaten Kediri. Menurutnya produk tersebut juga bisa menjadi produk unggulan daerah. Akan tetapi dibutuhkan dorongan dan dukungan dari berbagai sektor untuk mewujudkannya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia