Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing: Hulu Sudetan Itu Kini Jadi Waduk

19 Maret 2019, 18: 15: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

waduk siman bagawanta bhari

SUMBER AIR: Waduk Siman di Desa Siman, Kecamatan Kepung (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Kali Serinjing mengular hingga sejauh sekitar 35 kilometer. Melewati enam kecamatan di Kabupaten Kediri. Bermuara di Sungai Brantas yang ada di Desa Minggiran, Kecamatan Papar.

Lalu, di mana hulunya? Selama ini hulu sungai yang dikenal dibuat oleh Bagawanta Bhari tersebut ada di daerah Waduk Siman, di Desa Siman, Kecamatan Kepung. Berdasarkan penelitian selama ini, Kali Serinjing merupakan hasil sudetan dari Sungai Konto yang berhulu di Gunung Kelud. Dahulu sungai ini disebut dengan istilah Harinjing. Seperti nama prasasti yang ditemukan di daerah tersebut. Namun, di zaman Belanda juga ada nama Serinjing untuk menandai sungai tersebut.

Menariknya, sungai ini tak seperti sungai pada umumnya di Kabupaten Kediri. Jika selama ini hulu semua sungai yang ada di timur Brantas adalah Gunung Kelud, tidak dengan Serinjing.  Karena sungai ini sebenarnya adalah aliran irigasi. Yang berawal dari sudetan Sungai Konto.

“Jadi sungai ini benar-benar sudetan. Kalau kita lihat rupa bumi, Sungai Serinjing ini memutus sungai-sungai corah (sungai alami, Red) yang berasal dari Gunung Kelud,” kata Novi Bahrul Munib.

Ia menyebut, biasanya karakter sungai itu dari daerah atas ke bawah dan menyebar. Namun untuk Serinjing, jika dilihat dari atas, karakternya adalah memotong sungai-sungai yang secara normal bagian atas atau hulunya dari Gunung Kelud. Pada masa Belanda, di Kali Serinjing banyak muncul rekayasa. Berupa bendungan yang dialirkan. Namun secara dominan masih menggunakan jalur aliran kuno dari masa Bagawanta Bhari. Karena itu, jasa Bagawanta Bhari sebenarnya adalah membuat proyek sudetan sungai tersebut.

kali serinjing

Ekspedisi Kali Serinjing (Didin Saputro - radarkediri.id)

“Jadi bukan (membuat) Waduk Siman. Karena banyak orang yang menganggap bahwa Waduk Siman itu dari masa Bagawantha Bari,” terangnya.

Memang, berdasar catatan yang ada, waduk tersebut dibuat saat awal orde baru. Tepatnya pada 1972. Merujuk pada peta Belanda, dahulu di lokasi itu hanya berupa sungai. Tidak ada dawuhan atau waduk. Nah, hulu sudetan Serinjing yang berasal dari Sungai Konto itulah yang sekarang dibuat untuk waduk. Itu pun saat ini air waduk berasal dari buangan aliran PLTA Siman-Mendalan.

Pembuatan Kali Serinjing selain sebagai sarana irigasi utama zaman dahulu juga diperkirakan sebagai pemutus aliran lahar jika Gunung Kelud meletus. “Karena Gunung Kelud yang paling membahayakan adalah air danau yang ada di puncak. Makanya sejak dulu kalau Kelud meletus ada istilah Kediri dadi kali, Blitar dadi latar, dan Tulungagung dadi kedung,” jelasnya.

Kemungkinan besar proyek pembuatan sudetan tersebut juga dimaksudkan untuk mengamankan wilayah-wilayah yang ada di utara Kali Serinjing. Sebagai contoh adalah di wilayah Pare dan sekitarnya. “Seperti Candi Tegowangi dan Candi Surowono yang tidak terpendam layaknya Candi Kepung dan Candi Dorok yang ada di selatan Serinjing,” tegasnya.

Candi Kepung sampai butuh ekskavasi sedalam delapan meter untuk mencapai dasarnya. Jadi sangat dalam timbunan material Gunung Kelud kala itu. Juga banyak peninggalan lain yang ada di selatan Kali Serinjing yang hilang dan terpendam.

“Bisa jadi Serinjing ini dimanfaatkan sebagai pengaman,” imbuhnya.

Seperti pengamanan saat ini. Pada era Belanda dan pasca-kemerdekaan juga dibuat cek dam di semua sungai aliran sungai corah dari Kelud. Selain untuk membagi air ke sawah, juga untuk menghambat laju aliran lahar, lumpur, dan pasir dari Gunung Kelud.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia