Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (1)

Harinjing yang Pertama Sebut Kata Kediri

19 Maret 2019, 16: 12: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

sungai serinjing harinjing kediri

Ekspedisi Kali Serinjing Radar Kediri (Didin Saputro - radarkediri.id)

Kali Serinjing menjadi sungai penting dan bersejarah bagi Kabupaten Kediri. Sungai buatan ini menjadi titik awal berkembangnya daerah menjadi wilayah sebesar sekarang ini. Ditandai dengan Prasasti Harinjing, yang mencatat nama Kediri untuk pertama kali.

Sejak dulu sebagian besar wilayah Kabupaten Kediri dikenal memiliki tanah yang subur. Didukung dengan sistem pengairan yang sangat mumpuni. Sistem pengairan itu berupa sungai buatan yang dibuat sejak ribuan tahun lalu. Membelah wilayah Kabupaten Kediri. Membujur dari timur ke barat.

Masyarakat menyebutnya Kali Serinjing. Satu sungai yang awalnya saluran irigasi yang dibuat oleh Bagawanta Bhari. Memecah aliran Sungai Konto yang berhulu di Gunung Kelud. Upaya Bagawanta Bhari inilah yang membuat dia menerima anugerah tanah sima dari raja yang berkuasa saat itu. Pada saat Bagawanta Bhari melakukan upaya itu, daerah ini masuk wilayah kerajaan Mataram Kuno, atau juga dikenal dengan Kerajaan Medang, yang berpusat di Jawa Tengah.

Bukti pembuatan Kali Serinjing ini tertulis pada Prasasti Harinjing. Prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Kerajaan Medang Rakai Layang Dyah Tulodhong pada 11 suklapaksa bulan Caitra tahun 726 Saka. Atau 25 Maret 804 Masehi.

Bagi warga Kediri, Prasasti Harinjing sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Dan menurut penggiat budaya Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib, Prasasti Harinjing ini ditemukan pada 1916. Di perkebunan kopi Onderneming Soekabumi, yang  sekarang masuk wilayah Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung. Prasasti ini menjadi bukti cerita tentang pemberian anugerah tanah bebas pajak kepada Bagawanta Bhari dan keluarganya.

harinjing

SEJARAH KEDIRI: Prasasti Harinjing. (Didin Saputro - radarkediri.id)

“Jadi tidak hanya Bagawanta Bhari saja. Keturunannya juga mendapat anugerah serupa. Karena telah membuat mahakarya yang luar biasa dan bermanfaat,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Mahakarya itulah yang masih bisa dimanfaatkan hingga kini. Bisa mengairi sebagian besar persawahan di Kabupaten Kediri. Tak hanya berfungsi sebagai pengairan saja, keberadaan Kali Serinjing juga sebagai sarana penanggulangan banjir di Kediri.

Novi menerangkan, anugerah itu tidak hanya diberikan sang Raja Rakai Layang Dyah Tulodhong saja. Namun diteruskan oleh raja kedua, yakni masa Raja Rakai Sumba Dyah Wawa, raja sebelum Mpu Sindok bertahta. “Mpu Sindok tidak mengeluarkan Prasasti Harinjing tetapi Prasasti Paradah yang ditemukan di Desa Siman,” imbuhnya.

Secara keseluruhan ada tiga bagian maklumat raja pada Prasasti Harinjing. Yakni Harinjing A, B, dan C. Untuk Harinjing A merupakan prasasti bagian depan yang menceritakan tentang penganugerahan tanah sima atau tanah perdikan yang bebas dari pajak kepada Bagawanta Bhari.

Sementara Harinjing B adalah bagian belakang prasasti. Menyebut pada 15 suklapaksa bulan Asuji tahun 843, atau 19 September 921 Masehi, yang mengakui hak-hak para pendeta di Culanggi, satu nama daerah di wilayah sekitar Waduk Siman saat ini. Karena mereka masih tetap harus memelihara saluran Harinjing. Para pendeta itulah yang masih keturunan Bagawanta Bhari.

Prasasti Harinjing C, terletak di samping, pada kedua sisi. Menyebutkan bahwa hak serupa yakni pembebasan pajak dan upeti juga masih diakui pula pada 1 Suklapaksa bulan Caitra tahun 849 Saka atau 7 Maret 927 Masehi.

Saat ini prasasti yang menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Kediri itu ada di Museum Nasional. Dengan kode D-173. Sementara yang tersimpan di museum yang ada di Pemkab Kediri adalah replikanya.

Dari keterangan Novi prasasti ini menjadi batu tulis pertama yang menyebut kata Kadiri pada salah satu bagiannya. Sehingga prasasti ini menjadi acuan untuk menentukan hari jadi Kediri berdasarkan pertimbangan prasasti yang pertama kali menulis kata "Kadiri".

Penelusuran hari jadi Kediri ini dilakukan oleh Profesor MM Sukarto Kartoatmojo. Seorang dosen epigrafi dan guru besar arkeologi di Universitas Gadjah Mada. Dikukuhkan dalam Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat (Dati) II Kediri, Nomor: 82 Tahun 1985. Yang ditandatangani oleh pejabat Bupati Kediri Drs Usri Sastradiredja pada 22 Januari 1985.

Prasasti Harinjing juga menjadi bukti bahwa sistem pertanian pada zaman itu sudah masuk pada kategori canggih. Dengan pengaturan irigasi yang sudah tertata. Yang bahkan bisa dimanfaatkan hingga masa modern saat ini.

Seputar Prasasti Harinjing

-         Ditemukan di perkebunan kopi pada 1916. Dulu Onderneming Soekabumi, Kepung, Pare. Sekarang Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung.

-         Penemu administratur kebun Bernama W. Pet.

-         Terbuat dari batu andesit.

-         Puncak prasasti berbentuk lonjong dan datar di bagian bawah.

-         Lapik atau alasnya berbentuk padma atau teratai

-         Dimensi prasasti ini adalah, tinggi 118 cm, lebar 55-88 cm, dan tebal 33 cm.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia