Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Sepi, Pedagang Pasar Kelutan Kompak Jual Kios

Dewan Anggap Desa Tidak Koordinasi dengan Pemkab

18 Maret 2019, 12: 16: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

Pasar

MINIM PEMBELI: Sejumlah pedagang memasang pengumuman penjualan kios milik mereka yang sengaja ditutup karena dagangan yang dijual tidak laku. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK-Pasar Desa Kelutan, Ngronggot, kembang kempis. Pedagang pun memutuskan untuk menjual kios mereka agar tak terus-menerus merugi. Setidaknya ada sepuluh kios yang dilepas oleh pedagang dengan harga puluhan juta rupiah.

          Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk menyebutkan, sepuluh kios di pasar itu dijual dengan harga antara Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per kios. 

         Salah satunya Slamet. Pria asal Desa/Kecamatan Baron itu mengatakan, sejak dibangun dia belum pernah menggunakan kios miliknya.  Ia terpaksa menjual kios tersebut karena sepi. Selain itu, ia juga sudah punya usaha lain. "Yang ramai di bagian depan dan timur pasar," katanya.

            Warga Desa Kelutan, lanjut Slamet, lebih memilih belanja ke Pasar Papar yang jauh lebih besar. Apalagi, kini warga tinggal menyeberang jembatan jika ingin berbelanja di salah satu pasar terbesar di wilayah barat Kediri itu.

          Karenanya, bersama sembilan pedagang lainnya, Slamet memutuskan menjual kiosnya. Bagaimana jika tak laku? Jika tak ada yang mau membeli, dia juga bersedia menyewakannya.

Sayang, Kepala Desa Kelutan Yuni Rohmawati belum bisa dikonfirmasi terkait matinya pasar desa yang dibangun 2016 lalu itu. Saat dihubungi koran ini melalui ponselnya, selalu dialihkan.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Nganjuk Heni Rochtanti mengatakan, pasar di Desa Kelutan, Ngronggot tersebut murni dikelola desa. Karenanya, perawatan fasilitas semuanya diserahkan ke pemerintah desa (pemdes). “Itu (Pasar Kelutan, Red) aset desa, belum masuk ke pemkab,” ungkapnya. 

          Wakil Ketua Komisi I DPRD Nganjuk Marianto menyayangkan tidak terawatnya pasar yang dibangun oleh pemerintah desa itu. Menurutnya, saat ini sudah ada payung hukum untuk pasar tradisional. Baik pasar milik desa atau Pemkab Nganjuk dilindungi perda pasar tradisional. Harapannya, perda tersebut bisa memberdayakan pasar-pasar tradisonal yang ada di Nganjuk. “Ya jangan sampai terbengkalai,” tegasnya.

          Sejauh ini, Marianto menyebut pasar milik desa cenderung berjalan sendiri. Tidak ada koordinasi dengan instansi atau organisasi perangkat daerah (OPD) yang berkaitan dengan pasar.

Padahal, menurutnya harus ada penataan ulang untuk memberdayakan pasar desa. Setidaknya, Pemkab Nganjuk bisa memberi masukan kepada  pemerintah desa untuk mencari solusi agar pasar tradisional tidak mati.

Bila ada kendala dengan pengelolaannya, Marianto meminta pemkab tetap membantu. Sebab, selama ini pasar desa bisa meningkatkan perekonomian warga. “Saat ini kan desa sudah berinisiatif membangun BUMDes dari pasar desa. Ini yang harus kita didorong,” tandas politisi PDI Perjuangan itu.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia