Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Omzet PKL Taman Ringin Budho Tak Jauh Berbeda

17 Maret 2019, 12: 53: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

taman ringin budho

LAYANI PEMBELI: Sutriono, salah satu PKL di taman Ringin Budho Pare saat sedang melayani pembeli es bubur ketan hitam di lapaknya kemarin siang. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Pedagang kaki lima (PKL) di taman Ringin Budho Pare telah menempati lapak baru hampir dua bulan ini. Dalam kurun waktu tersebut, perbedaan pendapatan kotor yang mereka dapatkan tidak begitu berbeda. Yaitu jika dibandingkan sebelum dan sesudah menempati lapak resmi tersebut.

Sutriono, 50, salah seorang PKL di Ringin Budho, mengatakan semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebelum ada renovasi taman penjualan es bubur ketan hitamnya bisa laku keras. Sedangkan sekarang penjualan es miliknya justru mengalami sedikit penurunan.

“Kalau jualan di depan dulu kan tidak ada saingannya. Kalau di sini teman-teman yang jualan minuman dingin juga banyak macamnya. Dulu bisa jual sepertiga panci, sekarang hanya setengah saja,” akunya kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di lapaknya kemarin siang (16/3).

Meskipun begitu, ia tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Pasalnya ketika dagangan minuman dinginnya berkurang, dagangan nasi bungkusnya ganti yang mengalami peningkatan.

Dulu ia hanya bisa menjual nasi bungkus sebanyak 85-90 bungkus saja. Tetapi, sekarang bisa terjual hingga 140 bungkus per hari. Oleh karena itu, menurutnya, nilai omzetnya jadinya hampir sama dengan sebelumnya. Yaitu sekitar Rp 600 ribu per hari.

Mudoyo, 42, pedagang kue putu, juga mengaku tidak mengalami perbedaan omzet yang signifikan. Saat berjualan di pinggir jalan ia sudah meraup omzet setara dengan yang didapatkannya sekarang. “Sama saja dapatnya. Pendapatan kotor seharinya sekitar Rp 1,2 juta,” akunya kepada koran ini.

Hanya saja, jika saat berjualan di pinggir jalan pembelinya bisa langsung bertransaksi tanpa harus parkir. Sedangkan di lapaknya sekarang pelanggannya harus parkir dahulu. Menurutnya hal itu tidak menyurutkan minat pelanggannya. Hanya saja pada minggu-minggu pertama perpindahannya beberapa pelanggannya sempat kebingungan.

Sistem berjualan di sana dibagi dalam dua sesi. Yaitu PKL yang berjualan pada siang dan malam hari. Pedagang hanya diperbolehkan berjualan di satu shift saja. Total pedagang per shift sendiri ada 22 PKL.

Meskipun tidak ada perbedaan signifikan dari sisi pendapatan, namun di lapak tersebut pedagang mendapatkan beberapa fasilitas. Yaitu untuk listrik dan air tidak dipungut biaya. Namun untuk kebersihan diberlakukan sistem iuran.

Sementara itu, di Taman Hutan Kota Pare kondisi PKL juga tidak jauh berbeda. Menurut Widyawati, 30, pedagang es degan dan kopi omzet hariannya juga masih berkutat di angka yang sama. Yaitu antara Rp 300 – 400 ribu per harinya.

“Pengunjung di sini hanya ramai pada sebulan pertama saja. Setelahnya mulai berkurang,” klaimnya.

Menurutnya pengunjung di sana tidak begitu ramai karena wahana yang ada kurang beragam. Bahkan belum ada penambahan wahana di taman tersebut. Hanya dilakukan pengecatan ulang saja. Tidak seperti wahana di taman Ringin Budho yang memiliki banyak macamnya. Sehingga warga lebih banyak yang memilih menghabiskan waktu senggang di taman tersebut.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia