Rabu, 24 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Puluhan CJH Kategori Risiko Tinggi

Dinkes Gelar Tes Kebugaran

16 Maret 2019, 09: 53: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

Haji

JADI PANTAUAN: Salah satu CJH lansia mengikuti senam dalam rangkaian tes kebugaran di BLK Pemprov Jatim, Kelurahan Cangkringan, Kota Nganjuk. Dari ratusan CJH, ada puluhan yang masuk kategori risiko tinggi. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK–Ratusan calon jamaah haji (CJH) mengikuti tes kebugaran dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nganjuk, kemarin. Hasilnya, lebih dari 70 orang masuk kategori risiko tinggi (risti). Baik yang lanjut usia (lansia) maupun yang CJH yang parobaya.

          Koordinator Kebugaran dan Kesehatan Haji Kabupaten Nganjuk Ikrom Wijayadi mengatakan, ada 140 orang CJH yang mengikuti tes kebugaran di Balai Latihan Kerja (BLK) Pemprov di Kelurahan Cangkringan, kemarin. “Seharusnya sesuai daftar ada 152 orang. Tapi ada yang tidak hadir,” ujar Ikrom kepada koran ini.

Haji

UJI FISIK: CJH diharuskan berjalan dan berlari selama enam menit untuk mengetahui kebugaran mereka dalam rangkaian tes kemarin. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

          Dari jumlah itu, menurut Ikrom sebanyak 62 CJH memang belum mengikuti tes kebugaran di puskesmas. Sedangkan sebanyak 78 orang sudah tes di puskesmas. Namun hasilnya kurang baik. Karena itulah, untuk memperbaiki hasil kebugaran, mereka mengikuti tes ulang di dinkes.

          Ikrom menerangkan, CJH yang ikut tes kebugaran ulang termasuk risti. Bahkan, sebagian dari mereka bukan tergolong lansia “Ada yang di bawah 70 tahun, tetapi memiliki gangguan jantung. Kelompok risti sebenarnya bukan hanya lansia saja,” urainya.

          Dia menerangkan, ada metode tes yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kebugaran masing-masing CJH. Untuk yang risti, mereka diharuskan berjalan atau berlari selama 6 menit. Metode tersebut digunakan untuk mengetahui jarak tempuh CJH.

          Sedangkan yang bukan risti, mereka menerapkan metode rock port. Yaitu, setiap CJH berlari atau berjalan sejauh sekitar 1,6 kilometer. “Nanti yang kami ukur waktu tempuhnya,” ungkap pria kelahiran Bali ini.

          Dari catatan dinkes, Ikrom mengungkapkan, ada dua CJH yang perlu mendapat perhatian khusus. Pasalnya, yang bersangkutan harus menggunakan kursi roda karena sakit. Namun, keputusan terakhir kelayakan berangkat ke Tanah Suci bukan wewenang dinkes.

“Nanti ada dokter yang memutuskan atau lewat siskohat (sistem informasi dan komputerisasi haji terpadu). Hasil tes kami kirim ke siskohat,” urainya.

          Sementara itu, Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agaman (Kemenag) Kabupaten Nganjuk M. Afif Fauzi menambahkan, besaran biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) sudah turun. Sesuai keputusan presiden (keppres), nominal BPIH tahun ini sebesar Rp 36.586.945. “Hari ini (kemarin, Red) kami baru terima suratnya,” ujar Afif.

          Dibanding 2018, BPIH mengalami kenaikan sebesar Rp 495.100. Seperti diketahui, BPIH tahun lalu ditetapkan sebesar Rp 36.091.845. Sedangkan 2017, nominalnya sebesar Rp 35.600.000.

          Meski BPIH sudah ditetapkan, Afif mengaku, waktu penulasan masih menunggu peraturan dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag RI. “Kemungkinan dalam minggu ini sudah turun (peraturan dirjen),” tuturnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia