Selasa, 17 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Events
Dialog Jumat

Menjual Tanah Wakaf

15 Maret 2019, 14: 05: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

Dialog Jumat Wakaf

Dialog Jumat Wakaf

Share this          

Assalamualaikum wr wb. Kami ingin menanyakan bagaimana hukumnya menjual tanah warisan yang telah diwakafkan orang tua untuk musala? Sementara hasil penjualannya untuk membiayai hidup para ahli waris yang terdesak kebutuhan ekonomi.

(Handoyo, 081335736xxx)  

 

Jawaban:

Waalaikumsalam wr wb. Wakaf adalah tindakan hukum seseorang menyerahkan sebagian harta bendanya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu guna keperluan ibadah atau kesejahteraan umum menurut Islam. Oleh karena itu, harta benda yang diwakafkan harus memiliki daya tahan lama atau manfaat jangka panjang. Serta memiliki nilai ekonomi menurut Islam. 

Para ulama telah sepakat bahwa harta benda yang sudah diwakafkan tidak boleh dijual, dihibahkan, atau diwariskan. Akan tetapi, apabila tanah wakaf tersebut sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi maka boleh dijual. Dan hasil penjualannya digunakan untuk menggantikan yang serupa.

Dalam contoh kasus di atas, boleh menjual tanah wakaf musala yang sudah tidak layak dan uang hasil penjualannya digunakan untuk membangun musala yang lain. Sebaliknya, tidak boleh menggunakan hasil penjualan tanah wakaf musala untuk kepentingan pribadi atau biaya hidup para ahli waris. Karena tanah wakaf tersebut sudah berpindah kepemilikannya menjadi milik Allah SWT.

Dalam praktik di masyarakat, sering dijumpai para ahli waris yang menjual tanah wakaf orang tua mereka. Hal ini dapat terjadi karena banyak sekali tanah wakaf yang belum dilengkapi dengan sertifikat tanah wakaf. Untuk menghindari praktik jual beli tanah wakaf, setiap tanah wakaf perlu didaftarkan ke Kantor Pertanahan dengan dilengkapi Akta Ikrar Wakaf (AIW) atau Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf (APAIW) dan sertifikat hak milik atas tanah.  

Pendaftaran tanah wakaf dilakukan oleh Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW). Yaitu kepala Kantor Urusan Agama (KUA). Setelah wakif mengucapkan ikrar wakaf kepada nadzir di hadapan PPAIW dengan disaksikan dua orang saksi. Setelah diucapkan ikrar wakaf ini maka status harta wakaf menjadi milik Allah SWT. Yang harus dimanfaatkan dan hanya boleh digunakan untuk untuk kepentingan agama Islam. Wallahu a’lam.

(Dr H Imam Annas Mushlihin MHI, dosen Fakultas Syariah IAIN Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia