Selasa, 18 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Events

Juara Lomba Baris Kreasi dan School Choir Festival School Contest XII

Pantang Makan Gorengan

15 Maret 2019, 13: 46: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

school contest

HASIL LATIHAN KERAS: Para pemenang School Contest XII berbaris usai menerima piagam. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Upaya keras dilakukan para siswa ini. Latihan hingga malam hari. Tak pernah menyentuh makanan gorengan. Dan yang utama, berusaha keras mengompakkan personil. Semua itu terbayar lunas ketika nama mereka disebut sebagai juara.

HABIBAH A. MUKTIARA

Rabu siang itu (13/3), sekitar pukul 13.00 WIB. Suasana SMKN 1 Kota Kediri terlihat masih ramai. Banyak siswa yang memilih bertahan di sekolah. Duduk di lorong-lorong. Apalagi, hujan juga baru saja mengguyur. Membuat langkah pulang ke rumah mereka harus tertahan untuk sementara waktu.

Di antara para siswa itu ada David Agus Kurniawan. Pemuda 17 tahun ini adalah komandan peleton ekstra kurikuler pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka). Dia juga baru saja memimpin rekan-rekannya memenangi ajang Lomba Baris Kreasi (LBK) dalam School Contest XII di Convention Hall SLG beberapa waktu lalu.

Tim dari sekolah ini bernama Brigadsa. Akronim dari barisanpengibar bendera Smeka. Persiapan yang mereka lakukan juga tak lama. Sekitar dua minggu. Rutinitas mereka yang bergelut dengan soal baris berbaris membuat waktu dua minggu dianggap cukup.

“Karena di lomba sebelumnya kami mendapatkan juara umum jadi kami optimistis untuk menang (di lomba kali ini),” terang David.

Meskipun demikian, untuk mempersiapkan kelompok dengan 15 anggota ini mereka harus melalui dengan usaha ekstra. Tiga kali seminggu berlatih membuat tenaga mereka terforsir. Imbasnya banyak anggota regu yang tumbang. “Latihan akhirnya dikurangi,” kenangnya.

Mereka berlatih setiap pulang sekolah. Sekali latihan selama dua jam. Lokasinya di lapangan sekolah. Pelatihnya adalah anggota paskibraka yang lebih senior. Koreografi yang digunakan pun tak terlalu diubah dari penampilan mereka di lomba sebelumnya, dalam lomba Barata Yudha di SMAN 1 Boyolali. Yang membedakan adalah lagu yang digunakan untuk yel-yel.

Tantangan mereka tak hanya mepetnya waktu latihan. Tim ini juga dihadapkan pada cedera salah seorang anggotanya. Alfian Caisar, 16, cedera kaki karena ikut pertandingan pencak silat. Namun karena motivasi tinggi Alfian tetap ikut latihan hingga hari H.

Dan, hasil selalu tak menghianati usaha. Kerelaan mereka berlatih di terik panas matahari hingga ada yang pingsan, serta upaya mereka menjaga kekompakan akhirnya terbayar. Kelompok yang terdiri dari David Chusaini Santoso, Sasadhara Puspita, Alwan Razan Badylan, Mumahamad Aulia Riski, Dita Luppy Antikasari, Alfin Nur Ismunarto Putra, Bintang Kurniawan Putra Pratama, Adhelya Eka Puspita, Hifdzan Maulana Al Salsa Bila, Muhamad Widhan Atho’illah, Arina Hidayataka, Dede Alfianto, Sendy Gunawan Putra, Rima Asri Purwanti, Aqhsal Muhammad Thoriq, dan Alfan David Suyanto berhasil meraih juara. Menyisihkan lima peserta lain.

Sementara itu, kelompok paduan suara G-Seven dari SMAN 7 Kota Kediri tampil sebagai juara School Choir Festival. Kelompok ini beranggotakan Didi Krisna, Dani Eka, Gabriela Elvina, Khezia Febriabelia, Grace Septiana, Andreas Stefano, Gresselda Hilda, Karisko Dwi, Egil Dwi, Kezia Angelin, Yunika Hastiwi, Baiq Bhakti, Josephine Amelia, Cornelia Grace, Suci Ayu C, dan Syalom Miracle. Juara pertama bukan hal baru bagi mereka. “Dalam lomba ini kami optimistis dapat juara satu,” ujar Nuri Wulandari, pembimbing paduan suara.

Agar persiapan lebih maksimal, mereka melakukan latihan selama tiga minggu. Puluhan siswa ini harus menjalani latihan ekstra. Latihan tidak hanya dilakukan pada pagi hari, juga malam hari. “Jadi ketika malam hari anak-anak kembali lagi ke sekolah,” imbuhnya.

Demi mendapatkan suara yang sempurna, mereka rela berpantang makanan. Yaitu menghilangkan kebiasaan minum es dan makan gorengan.

Mereka berlatih mulai pukul 18.00 hingga 21.00. Karena latihan malam, kondisi tubuh pun harus fit. Para personilnya rutin mengonsumsi vitamin. Hal itu juga dilakukan untuk mempertahankan stamina.

Untuk menyempurnkan perfoma, mereka tidak hanya melatih pernfasan dan suara.  Namun juga melatih koreografi yang mengiringi nyanyian. Performa semakin sempurna sesuai dengan lagunya. Tim G- Seven menggunakan pakaian adat bali selama pertunjukan dimulai. Bahkan disela-sela nyayian, ada salah satu murid menarikan tari janger.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia