Selasa, 23 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Enam Kecamatan Jadi Endemis

Dispertan Akan Lakukan Pengapuran

13 Maret 2019, 10: 18: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

Padi

TERANCAM RUGI: Petani di Desa Sombron, Loceret memanen padinya kemarin. Serangan jamur pyricularia membuat banyak butir padi kosong dan membuat harga gabah anjlok. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK–Serangan jamur pyricularia yang menyebabkan penyakit potong leher di tanaman padi, masih menghantui petani di musim tanam (MT) kedua. Untuk mencegah meluasnya penyebaran jamur, dinas pertanian akan melakukan pengapuran di daerah endemis.

          Plt Kepala Dispertan Nganjuk Istanto Winoto mengatakan, MT kedua padi akan dimulai April nanti. Belajar dari pengalaman MT pertama, pihaknya akan mengantisipasi serangan penyakit potong leher yang dipicu jamur pyricularia. “Kami harus antisipasi di musim tanam kedua,” ungkap Istanto kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

          Istanto mengungkapkan, dinas akan menggalakkan pengapuran pH (tingkat keasaman) tanah di sejumlah areal persawahan. Terutama, wilayah endemis penyakit potong leher.

          Di Kabupaten Nganjuk, lanjut dia, ada beberapa kecamatan yang menjadi daerah endemis. Di antaranya, Tanjunganom, Sukomoro, Bagor, Rejoso, Gondang, dan Nganjuk. “Biasanya yang jadi endemis musim tanamnya (padi) maksimal dua kali setahun,” ujarnya.

          Di wilayah endemis, Istanto menerangkan, pH tanah rata-rata di bawah 5. Padahal, idealnya tingkat keasamannya antara 6,5 sampai 7. Dengan angka tersebut, peluang tanaman padi terserang jamur sangat kecil. “Bisa mencegah serangan jamur,” tutur pria yang juga kepala badan pendapatan daerah (bapenda) ini.

          Dia menambahkan, pengapuran dilakukan saat awal musim tanam. Pemberian kapur dilakukan berbarengan dengan pengolahan tanah. “Jadi saat tanah diolah, pengapuran bisa dilakukan di masing-masing lahan,” imbuh Istanto.

          Selain pengapuran, dispertan juga bakal mengoptimalkan penyuluh pertanian lapangan (PPL). Setiap penyuluh ditugasi mengawasi satu petak lahan pengamatan. Ketika terjadi serangan hama, penyuluh bisa mencegahnya agar tidak meluas ke petak lain. “Kami punya 167 penyuluh,” urainya.

          Sementara, dari sisi cuaca, menurut Istanto sebenarnya MT kedua lebih menguntungkan dibanding MT pertama. Pasalnya, pada April nanti, intensitas hujan mulai menurun. Dengan kondisi tersebut, kelembapan di sekitar lahan berkurang. “Kondisi yang lembap bisa menjadi habitat jamur,” tandasnya.

Untuk diketahui, di MT pertama, dispertan mencatat penyakit potong leher menyerang tanaman padi seluas 1.560 hektare  di enam kecamatan. Yakni, Kecamatan Lengkong, Baron, Pace, Nganjuk, Kertosono, dan Gondang. Serangan yang sama juga terjadi di Kecamatan Loceret. Di antaranya di Desa Sombron, Kwagean, dan Loceret.

          Akibat penyakit tersebut, produktivitas padi dipastikan menurun. Dari sekitar delapan ton per hektare menjadi hanya 5 ton  per hektare. Selain itu, kualitas gabah dan harganya pun ikut anjlok.

          Ketua  Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sri Sedono Desa Sombron Sumadi memprediksi, harga gabah kering panen bisa anjlok sampai Rp 3.500 per kilogram. Padahal, harga pokok pembelian (HPP) sebesar Rp 3.700 per kilogram. “Kualitas gabah buruk setelah terkena potong leher,” keluh pria 70 tahun ini.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia