Selasa, 16 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Events

Pladu, Sungai Brantas Banjir Manusia

12 Maret 2019, 11: 29: 32 WIB | editor : Adi Nugroho

pladu di kediri

PESTA RAKYAT: Warga masih berada di salah satu tanggul di Bendung Gerak Waru Turi saat menjelang senja kemarin. Warga tetap bertahan di tepi sungai hingga pukul 21.00 WIB tadi malam. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA - Bantaran Sungai Brantas Kota Kediri kemarin siang menjadi ramai. Penuh dengan manusia. Warga Kediri dan sekitarnya berbondong-bondong berkerumun di sepanjang sungai terpanjang di Jawa Timur tersebut. Itu lantaran mereka menunggu datangnya ikan mabuk. Mabuk akibat aktivitas fleshing yang dilakukan bendungan di wilayah Kabupaten Blitar.

Istilah resminya memang fleshing. Yaitu kegiatan pengurasan air waduk. Kemarin yang dibilas adalah Waduk Wlingi Raya dan juga Lodoyo, keduanya di daerah Kabupaten Blitar. Dampak dari fleshing tersebut adalah mabuknya ikan di sepanjang aliran Sungai Brantas. Mulai dari Tulungagung, Kediri, hingga Jombang. Orang awam menyebutnya pladu.

Salah satu warga Kota Kediri yang larut dalam aktivitas pladu itu adalah Dedik Susilo. Warga Kelurahan Bandarlor, Mojoroto ini mengaku sangat senang dengan ‘banjir ikan’ ini. “Karena hanya satu tahun sekali, jadi ya senang,” katanya.

pladu

MENUNGGU: Warga mempersiapkan diri mencari ikan. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Dedik bahkan telah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Hingga kemarin dia pun rela pergi ke Tulungagung untuk menyisir sungai. Mencari ikan sebanyak-banyaknya. Pria ini mengawali penyisirannya dari area Jembatan Ngujang Tulungagung. Kemudian turun ke daerah Ngantru, Jeli, dan terakhir ke Jembatan Mojo. Itu dilakukannya sejak siang hari pukul 14.00 WIB. “Dapat lumayan banyak, sekitar 5 kilogram. Jenis ikan lele dan ikan patin,” terangnya.

Sebagai masyarakat tepi Sungai Brantas ia merasa senang. Fenomena itu dianggap sebagai berkah tersendiri. Meski hasil tangkapan ikan tak seberapa namun menjadi kepuasan baginya.

“Buat senang-senang dan dibagikan kepada keluarga,” imbuhnya.

Tak puas melakukan penyisiran dari Tulungagung, dia juga melanjutkan ke Bendung Gerak Waru Turi, Gampengrejo. Itu dilakukannya pada malam hari.

Memang ikan mabuk mulai muncul di wilayah Kediri sekitar pukul 19.00 WIB.

Namun meski ikan mulai kodal sore hingga malam, warga sudah menantinya sejak siang hari. Mereka terlihat memadati sejumlah lokasi bantaran sungai di Kota Kediri. Mulai di bawah Jembatan Bandar Ngalim, depan Ponpes Kedunglo, daerah Jembatan Lama, dermaga, juga di bawah Jembatan Semampir. Yang paling terlihat ramai adalah di bantaran dermaga.

Sartono misalnya, dia sejak pukul 12.00 WIB telah menunggu di tempat itu. Warga Banyakan, Kabupaten Kediri ini mengaku telah mempersiapkan peralatan pladu sejak pagi hari. Peralatan yang dibawanya berupa jaring dan ember. “Biasanya jam 2 siang sudah datang ikannya. Tapi sampai sekarang (Pukul 16.00 WIB, Red) belum ada,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri kemarin.

Dia mengaku setiap tahun selalu memanfaatkan kesempatan langka ini. Terakhir adalah Mei 2018. Bahkan dia dan temannya sampai memperoleh ikan hampir 10 kilogram. “Nanti cari terus sampai Bendungan Gampengrejo (Waru Turi, Red),” imbuhnya.

Memang selama ini lokasi favorit dan paling ramai untuk pladu adalah di Bendungan Waru Turi. Dan itu menjadi lokasi terakhir mencari ikan warga Kabupaten dan Kota Kediri.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia