Rabu, 24 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Belajar Lucu dari Core of The Core

11 Maret 2019, 16: 55: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

Belajar Lucu dari Core of The Core

Share this          

“Bedanya dengan Pak Ndul, humor yang dilontarkan para tokoh ini memiliki “pasar” dan segmen tersendiri.”

Ahlinya ahli. Intinya inti. Core of the core. Beberapa kali mendengar orang-orang bercanda menggunakan tagline itu, saya tetap belum ngeh. Maklum, meski tangan hampir tak pernah lepas dari gadget, tetapi saya tergolong orang yang jarang ngubek-ubek Youtube atau membuka grup di Facebook.

Meski telat, lawakan Pak Ndul dari Waton Guyon yang sudah viral selama beberapa minggu atau bahkan mungkin jauh sebelum itu, akhirnya sampai juga. Jika biasanya saya cuek saat mendengar tagline ahlinya ahli. Intinya inti. Core of the core. Kemarin saya langsung ngakak. Tertawa terbahak-bahak.

Tagline itu, tidak hanya lucu dari segi bahasa. Tetapi didukung dengan ekspresi Pak Ndul yang mencitrakan diri sebagai orang desa. Lugu. Apa adanya. Menjadikan setiap tema humor yang dibawakannya menjadi semakin menarik.

Humor gaya Pak Ndul memberi warna tersendiri. Pak Ndul membuat orang tertawa tanpa harus memelesetkan kata-kata. Atau slapstick yang lebih mengandalkan kelucuan gerak.

Pak Ndul, dengan kecerdasannya, mengangkat tema-tema sederhana menjadi humor yang jauh lebih menarik. Ditambah dengan gaya ndesa-nya, gaya sok seriusnya, Pak Ndul mampu mengocok perut orang-orang sampai terbahak-bahak.

Unggahan videonya yang viral dan dilihat jutaan  orang, menunjukkan jika lawakan Pak Ndul disukai banyak orang. Setidaknya, salah satu fans baru Pak Ndul adalah saya.

Humor Politik

Banyaknya media sosial dan akses internet yang menjangkau pelosok Indonesia, membuat ruang untuk menjangkau publik semakin banyak alternatifnya. Siapapun bisa jadi terkenal dengan cara mereka masing-masing.

Tidak hanya Pak Ndul yang terkenal lewat chanel Youtube miliknya. Beberapa orang, mendadak terkenal setelah membuat konten yang menarik lewat media sosial. Seperti Pak Ndul, konten mereka disukai karena memiliki ciri khas dibanding konten kebanyakan. Dibalut dengan kreativitas masing-masing.

Kata kunci “kreativitas” ini yang belakangan memiliki banyak arti. Saking kreatifnya, beberapa orang mendadak viral. Mereka mendadak terkenal karena kreasinya yang entah disengaja atau tidak.

Jika Pak Ndul sengaja membuat humor yang diselipi percakapan bahasa Inggris, ada emak-emak di Jawa Barat yang beberapa waktu lalu viral di media sosial karena diduga melakukan black campaign. Tiga emak-emak yang sekarang mendekam di tahanan itu, barangkali tidak pernah menyangka jika aksi mereka kampanye door to door di Karawang, Jawa Barat itu akan jadi perhatian banyak orang.

Mereka juga pasti tidak ingin terkenal seperti Pak Ndul. Pun diwawancarai banyak wartawan. Apalagi, mereka terkenal setelah ditahan polisi karena diduga menjelek-jelekkan pasangan calon presiden dalam berkampanye.

Aksi mereka pun berubah menjadi humor dengan gaya baru. Meme yang menggunakan foto dan video kampanye mereka bertebaran di media sosial tanpa bisa dikontrol lagi.

Selain tiga emak yang disebut-sebut anggota Pepes, relawan dari salah satu pasangan calon presiden itu, sebenarnya banyak humor-humor lain yang juga tak kalah viral. Jelang pemilu April nanti, para tokoh level lokal hingga nasional seolah berlomba membuat “humor”.

Bedanya dengan Pak Ndul, humor yang dilontarkan para tokoh ini memiliki “pasar” dan segmen tersendiri. Para pendukung sang tokoh akan selalu bertepuk tangan, tertawa terbahak-bahak saat melihat atau mendengar lawakan sang tokoh. Entah lawakan itu benar-benar lucu, membosankan atau bahkan memuakkan.

Sebaliknya, pembenci sang tokoh juga akan memberikan respons yang sama setiap melihat atau mendengar lawakannya. Apakah itu lucu, membosankan atau memuakkan, mereka akan tetap mencaci dan menghujatnya.

Belakangan, lawakan-lawakan mereka diwarnai perang tanda pagar (tagar) di Twitter. Yang paling banyak di retweet atau di-like dianggap yang paling lucu. Merasa menang.

Yang jadi materi perang tagar terbaru adalah lawakan tentang hasil survei elektabilitas calon presiden. Satu pihak mengklaim menang mengandalkan hasil survei yang dirahasiakan. Sebaliknya, mereka menuding hasil survei lembaga kebanyakan yang memenangkan pihak lain dianggap settingan.

Perang para “komedian” itu masih akan terus terjadi sampai pemilu usai. Tujuannya, untuk membuat masyarakat yang melihat mereka tertawa, menyukai dan ujung-ujungnya bersimpati.

Mereka lupa, untuk membuat masyarakat tertarik, harus menggunakan cara-cara yang tak biasa. Semakin ngoyo, ngeyel, usaha mereka biasanya akan berbuah sebaliknya.

Para lawak dadakan itu seharusnya belajar dari Pak Ndul. Mereka bisa mencuri perhatian masyarakat lewat kesederhanaannya. Lewat gaya apa adanya. Lewat wajah ndesa-nya. Tetapi, tentu saja tetap dibalut kecerdasan yang dikemas dalam tawa.

Jika ada tokoh yang lebih dulu menjual kesederhanaannya, wajah ndesa-nya, tokoh lain mungkin bisa mengambil cara berbeda untuk membuat masyarakat tertawa dan menyukainya. Bukan hanya sibuk menghujat dan saling serang. Tolong buat kami tertawa. Bukan semakin menambah pusing kepala. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia