Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Terinspirasi Panji-Sekartaji, Tenun Ikat Kediri Tampil di JFF

11 Maret 2019, 16: 12: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

jogja fashion festival

CANTIK: Deretan model yang memeragakan busana berbahan tenun ikat Kediri saat tampil di ajang Jogja Fashion Festival beberapa waktu lalu. (HUMAS PEMKOT KEDIRI  for radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA - Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri tengah gencar memperkenalkan kerajinan khas tenun ikat Bandar. Setelah menggelar Dhoho Street Fashion pada awal tahun, kini tenun ikat baru saja melenggang di ajang nasional, yakni Jogja Fashion Festival (JFF) 2019. Kegiatan tersebut berlangsung Sabtu (9/3).

Ketua Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Kota Kerdiri Ferry Silviana Abu Bakar mengatakan, kain tenun ikat Kediri ini memiliki motif yang beragam. Seperti ceplok, es lilin, salur, dan lurik.  Sedangkan untuk pewarnaan disesuaikan dengan tema.

“Motif-motif tersebut adalah ciri khas dari tenun ikat Kediri dan sampai saat ini motif-motif itu masih ada dan terus mengalami perkembangan,” kata wanita yang karib disapa Bunda Fey ini.

bunda fey

KENALKAN KEDIRI: Bunda Fey mengangkat buket bunga di JFF. (Humas Pemkot Kediri for radarkediri.id)

Untuk warna yang ditampilkan pada ajang JFF, Bunda Fey menyebut Didiet Maulana-lah yang mendesain tenun ikat Kediri. Desainer tersebut mengolah kain tenun kebanggaan Kota Kediri itu dengan warna yang terinspirasi dari epos Warisan Panji Sekartaji. Memang,  pada pagelaran ini tenun ikat Kediri membawa tema ‘Warisan Agung Panji Sekartaji’. Dengan 16 outfit karya desainer Didiet Maulana.

“Tema ini terinspirasi dari kisah keberanian Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji untuk mengembara menemukan cinta sejatinya,” jelasnya.

Istri Walikota Kediri ini menjelaskan mengenai persiapan mengikuti JFF 2019 kemarin. Pengrajin terlebih dahulu diberikan pemahaman sebelum kain yang akan ditampilkan diolah. Termasuk bekerjasama dengan IKAT Indonesia untuk memberikan edukasi kepada para perajin. Di Kota Kediri juga berbeda dengan daerah lain, karena ada regenerasi-regenerasi penenun.

“Persiapan cukup panjang karena sudah melewati workshop dan pelatihan dulu. Alhamdulillah perajin di Kota Kediri bisa berpikir terbuka dan mau diberi masukan. Serta banyak penenun muda di Kota Kediri yang berbeda dengan daerah lain,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya Pemkot Kediri juga memberikan dukungan agar kain tenun ikat Kediri semakin dikenal masyarakat luas. Hal ini terwujud dengan adanya surat edaran untuk menggunakan seragam berbahan tenun kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan swasta. Serta adanya program yang diberikan kepada anak-anak SMK untuk menenun.

Sementara untuk tantangan ke depan, dalam mengembangkan tenun ikat Kediri ini adalah material bahan bakunya. Selama ini bahan baku masih impor. Sehingga harga tidak stabil dan berdampak pada margin keuntungan.

Ke depan, Bunda Fey berharap tenun ikat Kediri dan wastra lokal lainnya akan terus ada. Masyarakat luas mau menggunakan tenun ikat Kediri dalam tema ragam apapun. Untuk memperkenalkannya secara luas, Pemkot Kediri bersama Dekranasda memiliki event tahunan Dhoho Street Fashion dengan menggandeng desainer-desainer nasional. “Kita harus kencang untuk membuat pelatihan dan workshop. Setiap tahun kita juga membuat event tahunan untuk mengangkat wastra lokal kita. Dengan begitu masyarakat dan pengrajin akan lebih terbuka bahwa kain tenun kita itu keren, casual ataupun gown ,” jelasnya.

Sebelumnya, tenun ikat Kediri juga sudah pernah tampil dalam fashion show tingkat nasional seperti Jakarta Fashion Week serta dalam event internasional yakni fashion show di Paris dan London. 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia