Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Pemprov Siapkan Produksi Pascapanen

Khofifah Kunjungi Sentra Tanaman Porang

11 Maret 2019, 15: 13: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

kunjungan khofifah

KOMODITAS EKSPOR: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (baju putih) bersama Wabup Marhaen Djumadi (kiri) dan sejumlah pejabat, mengunjungi sentra tanaman porang di Desa Bendoasri, Rejoso, kemarin. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK – Pemprov akan menyiapakan produksi porang pascapanen. Kemarin, Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi salah satu sentra tanaman umbi-umbian itu di Desa Bendoasri, Kecamatan Rejoso. Khofifah memastikan porang menjadi andalan ekspor dari Jawa Timur (Jatim).

          Khofifah mengatakan, salah satu keunggulan hasil hutan bukan kayu di Jatim adalah tanaman porang. Selain di Madiun, Kabupaten Nganjuk merupakan sentra tanaman tersebut. “Tapi tidak banyak masyarakat yang mengetahui (tanaman porang),” ujarnya.

          Dengan potensi tersebut, dia mengungkapkan, pemprov akan berupaya memproteksi dan memfasilitasi para petani yang tergadung di lembaga masyarakat desa hutan (LMDH). Sebab, olahan porang berpotensi menjadi komoditas ekspor dari Jatim.

          Beberapa produk olahan porang adalah mi, jeli, kosmetik dan tepung. Karena itulah, pemprov akan menyiapkan produksi pascapanen porang di Nganjuk. “Tadi kami sudah mendengar penjelasan soal kendala produksi pasca panen. Petani membutuhkan peralatan,” ujar mantan menteri sosial (mensos) ini.

          Untuk kebutuhan produksi, pemprov akan membantu pengadaan alat perajang dan oven. Khofifah mengatakan, oven yang digunakan harus berbasis listrik. “Jangan memakai kayu. Nanti khawatir (kayu) ambil di hutan,” terang Khofifah.

          Selain pasca panen, Khofifah mengungkapkan, pihaknya juga fokus pada perlindungan petani di LMDH. Hal itu sesuai hasil rapat terbatas (ratas) dengan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) dan Kementerian BUMN beberapa waktu lalu.

          Dari hasil ratas, kata Khofifah, pemprov harus memastikan LMDH di Jatim terkeadritasi. Saat ini, ada sekitar 1.500 LMDH yang terakreditasi notaris. Kemudian ada 330 yang sudah mengantongi surat keputusan (SK) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkunham).”Sebanyak 155 LMDH belum terakreditasi,” ujar gubernur pengganti Soekarwo ini.

          Status akreditasi tersebut, menurut dia, sangat penting untuk memasukkan petani LMDH dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). Di Nganjuk, pemprov akan berkoodinasi dengan bupati agar segera mengajukan RDKK ke Kemenhut dan LH. “Dengan masuk ke RDKK, mereka nanti bisa menerima pupuk, alsintan (alat mesin pertanian) dan bibit,” ungkapnya.

          Selama ini, kata Khofifah, salah masalah yang dialami petani porang adalah penyakit. Tanaman yang terserang penyakit menyebabkan produktivitas menurun. Dari rata-rata 15 ton menjadi 5 ton per hektare (ha). Untuk kendala tersebut, pihaknya akan menginstruksikan dinas kehutanan (dishut) bekerjasama dengan kampus. “Perlu ada kajian dan penelitian khusus porang,” ujar perempuan kelahiran Surabaya ini.

          Sementara itu, Ketua LMDH Artomoro Desa Bendoasr Riyanto mengakui tanaman porang di desanya sangat potensial. Untuk porang basah, harganya Rp 6 ribu – 8 ribu per kilogram (kg). Sedangkan yang kering harganya bisa mencapai Rp 50 ribu per kg. “Di desa kami, jadi petani porang merupakan mata pencaharian,” kata Riyanto.

          Untuk diketahui, sebelum berkunjung ke Bendoasri, Khofifah membuka hari ulang tahun (harlah) ke-73 Muslimat NU di Desa Gempol, Kecamatan Rejoso. Kemarin, selain Wakil Bupati (Wabup) Marhaen Djumadi, sejumlah pejabat teras pemprov, perhutani, dan pemkab juga hadir.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia