Selasa, 12 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Jatuh Bangun Yayuk Sri Rahayu Merintis Konsep Pertanian Terintegrasi

Olah Kotoran Sapi Jadi Biogas dan Kompos

11 Maret 2019, 14: 55: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

Biogas

BERDAYAKAN WARGA: Yayuk Sri Rahayu berada di sawahnya yang diolah dengan konsep pertanian terpadu. Dia sukses meningkatkan perekonomian petani. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

Berbekal trial and error  bertahun-tahun, Yayuk Sri Rahayu mengenalkan pertanian terintegrasi (integrity farming). Kini di rumahnya, perempuan asal Desa Putren, Kecamatan Sukomoro ini mengelola  hasil pertanian dan peternakan terpadu.

ANWAR BAHAR BASALAMAH

Yayuk Sri Rahayu mengajak ke gudang tempat penyimpan gabah, kemarin siang. Dari rumahnya di Dusun Bulu, Desa Putren, Kecamatan Sukomoro, jaraknya hanya sekitar 50 meter ke utara. Selain menyimpan gabah hasil panen, area seluas 16 ru itu juga dijadikan Yayuk sebagai pengolahan biogas.

          Di sana, dia memiliki enam ekor sapi. Kotoran hewan ternak tersebut kemudian diolah menjadi biogas dan pupuk kompos. “Pupuk itu kami bawa ke sawah untuk menyuburkan tanaman padi,” kata Yayuk mengawali perbincangan tentang pertanian terintegrasi.

          Sebelum mencebur di bidang pertanian, selepas kuliah pada 1999, Yayuk bekerja sebagai quality assurance engineer (QAE) atau pengendali mutu di sebuah perusahaan ritel rumah tangga asal Swedia. Pekerjaan tersebut dilakoninya hingga 2003. “Saya merantau di Jakarta,” kata perempuan 43 tahun ini.

          Dari Ibu Kota, Yayuk kemudian merantau ke Jogjakarta. Sembari kuliah S2 di Universitas Gajah Mada (UGM), dia tetap bekerja sebagai QAE. Hanya perusahaan tempatnya bekerja saat itu berpusat di Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

          Dari sanalah perjalan hidupnya dimulai. Setelah bermukim di Jogja, Yayuk yang menikah pada 2005, beberapa kali mengalami keguguran. Akhirnya, bersama Trisulo, sang suami, mereka sepakat kembali ke kampung halaman di Desa Putren pada 2007. “Mungkin karena faktor stress pekerjaan dan makanan,” ujarnya.

          Di tempat kelahirannya, Yayuk mewarisi sejumlah lahan milik orang tuanya. Saat itu, dia memiliki sawah seluas 2,5 hektare (ha). Setelah menabung beberapa tahun, perempuan asli Desa Putren ini membeli tanah lagi menjadi 4,5 ha.

          Meski bukan lulusan pertanian, Yayuk bersama suaminya mencoba mengolah lahan tersebut. Saat itu, modalnya hanya percaya diri mewarisi ilmu pertanian dari sang kakek. “Saya elektro, suami saya lulusan (teknik) sipil. (Bertani) hanya warisan dari kakek,” ungkap ibu satu putra ini seraya tertawa.

          Di awal merintis itu, Yayuk pertama kali menyerahkan lahan garapan ke petani di desanya. Saat itu, sawah ditanami tanaman padi. Hasil keuntungannya dibagi berdua. Namun setelah berjalan beberapa tahun, hasilnya kurang memuaskan. “Kami tidak bisa mengontrolnya. Kami yang dikontrol,” kata Yayuk.

          Selain itu, setelah padi dipanen, banyak jerami yang dibuang dan dibakar. Padahal menurutnya bagian itu masih bisa dimanfaatkan untuk mengurangi biaya produksi pertanian. Karena itulah, mulai 2010, dia belajar tentang pertanian teritegritas.

          Karena tidak punya latar belakang ilmu pertanian, Yayuk berbekal mencoba dan praktik di lapangan. Meskipun banyak mengalami kegagalan , dia tidak menyerah. “Kuncinya trial and error. Saya juga cari di internet dan tanya ke beberapa ahli pertanian,” ujarnya.

          Setelah gagal beberapa kali, Yayuk mulai merintis konsep pertanian tersebut. Karena itu, untuk mewujudkannya, pada 2012, dia membeli lima ekor sapi untuk diternak. “Sejak tahun itu saya memulainya,” ungkap perempuan berjilbab ini.

          Pada dasarnya, kata Yayuk, konsep pertanian terpadu terdiri dari 4F. Yakni food (makanan manusia), feed (makanan ternak), fertilizer (sisa produk biogas dan kompos), dan fuel (bahan bakar berupa kotoran sapi). “Semuanya harus dipenuhi,” ujarnya.

          Dia lantas mencotohkan pertanian terintegrasi di tempatnya. Pertama, Yayuk bermitra dengan 12 petani di desanya. Para petani bertugas mengolahan lahan dengan menanam tanaman padi dan kedelai. Dalam satu musim, padi ditanam dua kali.

          Hasil panen dari padi menjadi gabah dan beras. Dia mengatakan, beras olahan itu kemudian dipasarkan sendiri. Selain beras, padi juga bisa diolah menjadi bekatul dan sekam. “Bekatul untuk tambahan nutrisi pakan ternak, sedangkan sekam untuk menyuburkan tanaman,” ujarnya.

          Tidak hanya itu, jerami atau daun padi yang mengering dimanfaatkan sebagai pakan ternak.  “Dulu kami buang-buang. Sekarang nilanya sangat berharga,” kata Yayuk.

          Untuk pengolahan ternak, kotoran sapi diolah menjadi biogas dan pupuk kompos. Untuk sementara, biogas baru bisa dimanfaatkan dua kepala keluarga (KK)  “Semuanya tertigerasi. Tidak ada yang terbuang,” terang Yayuk.

          Yayuk menambahkan, selain menanam padi, sebagian lahannya juga ditanami tanaman labu dan gambas. Selain disayur, buah tanaman tersebut juga bisa dibuat aneka macam kerajinan tangan. Di antaranya lampu hias, celengan, wadah minuman.

          Namun berbeda dengan padi, labu dan gambas mulai ditanam pada awal musim kemarau. Saat ini, Yayuk masih membutuhkan banyak perajin agar nilai tambah tanaman tersebut bisa memperbaiki perekonomian warga setempat. “Perajinnya yang masih kurang,” katanya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia