Kamis, 19 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Petani Panen Padi Lebih Awal

Diterjang Banjir, Kualitas Gabah Turun

11 Maret 2019, 14: 24: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

Petani Padi

TERANCAM RUGI: Petani di Desa Buduran, Bagor mengikat tanaman padi mereka yang ambruk setelah terendam banjir beberapa hari lalu agar tidak mati. Untuk menekan kerugian, Mereka terpaksa memanen padinya sepuluh hari lebih awal dari jadwal masa panen. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK – Banjir yang menerjang pada Rabu lalu (6/3), membuat sejumlah petani di Kabupaten Nganjuk harus panen lebih awal. Dari yang seharusnya 90 hari menjadi 80 hari. Akibatnya, selain kualitas gabah menurun, harganya pun anjlok.

          Sukiran, petani asal Desa Buduran, Kecamatan Bagor mengaku, sawahya sempat terendam banjir tiga hari yang lalu. Meski air sudah surut, tanaman padinya yang berumur 70 hari banyak yang ambruk. “Terkena air banjir,” ujarnya.

          Kemarin, pria 56 tahun itu menegakkan lagi tanamannya dengan cara mengikat beberapa batangnya. Dengan cara tersebut, menurut Sukiran, tanaman padi masih tetap hidup. “Harus diikat  supaya tegak lagi,”ungkap Sukiran.

Panen Padi

PRODUKTIVITAS TURUN: Sejumlah petani di Desa Buduran, Bagor memanen padi mereka yang belum cukup umur agar kerugian mereka tidak semakin besar setelah tanamannya terendam air bah. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

          Meski demikian, kata Sukiran, hasil panen padi tidak maksimal setelah ambruk. Pasalnya, padi terpaksa dipanen sekitar 10 hari lagi atau saat berumur 80 hari. Padahal idealnya tanaman tersebut baru dipanen ketika sudah berumur 90 hari.

          Dengan luas sekitar 250 ru, Sukiran mengungkapkan, biasanya hasil panen padi sekitar 22 kuintal atau  2,2 ton. Sedangkan setelah diterjang banjir bulan ini, dia memprediksi kuantitasnya menurun. “Kira-kira sekitar 2 ton saja,” ungkapnya.

          Selain kuantitas, kata Sukiran, kualitasnya juga tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya. Karena itulah, dia memperkirakan harga gabah kering panen Rp 3.600 per kilogram (kg).

Di luar itu, petani juga membutuhkan biaya tambahan untuk pekerjaan mengikat padi. Upah per harinya sebesar Rp 70 ribu per orang. “Ini saya kerjakan dua orang,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Nganjuk Gunawan mengatakan, total sawah yang terendam banjir seluas 202,34 hektare (ha). Selain padi, sebagian juga ditanami bawang merah. “Lahan bawang merah kecil. Hanya setengah hektre di Grojogan, Berbek,” kata Gunawan.

          Dari total tanaman yang terendam, kata Gunawan, tersebar di delapan kecamatan. Yakni di Kecamatan Berbek seluas 33,5 ha; Kecamatan Ngetos 0,14 ha, Kecamatan Loceret 0,75 ha; Kecamatan Bagor 86 ha, dan Kecamatan Nganjuk 19 ha. Kemudian ada Kecamatan Baron 33,95 ha; Kecamatan Patianrowo 8 ha, dan Kecamatan Tanjunganom 21 ha.

          Hingga kemarin, dia mengaku, belum bisa mengkalkulasi kerugian para petani. Sebab, sebagian besar sawah yang terendam sudah surut. Sehingga tanaman padi bisa hidup lagi. Hanya tiga kecamatan yang sawahnya masih terendam air kemarin.

Yakni di Kecamatan Tanjunganom, Kecamatan Patianrowo, dan Desa Garu, Kecamatan Baron. “Kami akan evaluasi terus. Jika lebih dari tiga hari masih terendam, besar kemungkinan akan mengalami puso,” ujar pria asal Desa Salamrojo, Kecamatan Berbek ini.

          Lebih jauh Gunawan mengatakan, sebagian petani yang sawahnya terdampak banjir memang terpaksa panen lebih awal. Pasalnya, jika tidak segera dipanen, dikhawatirkan akan terendam lagi ketika turun hujan. “Lebih baik dipanen sekarang. Khawatir nanti banjir lagi,” ungkapnya.

          Dia menerangkan, gabah yang dipanen lebih awal dipastikan menurun kualitasnya. Biasanya gabah berwarna kehitaman. “Kalau harganya kami tidak memantau. Karena tergantung pasar. Mudah-mudahan tetap di atas HPP (harga pokok pembelian),” kata Gunawan.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia