Selasa, 16 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Hari Perempuan

10 Maret 2019, 19: 31: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

OLEH: HABIBAH A. MUKTIARA

OLEH: HABIBAH A. MUKTIARA

Share this          

Sudah 110 tahun berlalu, semenjak penetapan hari perempuan nasional. Hari peringatan nasional pertama kali dirayakan di New York, pada 28 Februari 1909. Setelah mengalami proses yang cukup panjang, peringatan tersebut akhirnya ditetapkan pada 8 Maret. Di mana dengan adanya peringatan tersebut, bertujuan merangkul masyarakat untuk maju dan melakukan aksi untuk membantu menggerakan kesetaraan gender.

Pesan ini telah disebarkan ke seluruh dunia. Tidak hanya kepada jutaan perempuan dan anak perempuan. Juga laki-laki yang ikut serta meperingati hari bersejarah bagi perempuan.

Tujuan dasar dari peringatan hari perempuan Internasional ini adalah mencapai kesetaraan gender secara utuh oleh perempuan di seluruh dunia. Namun sayang, meski peringatan ini telah lama dicetuskan pada kenyataan masih banyak perempuan belum diperlakukan setara dalam kehidupan sehari-hari hingga di dunia pekerjaan.

Banyak perempuan di dunia masih mendapatkan komentar-komentar yang meragukan. Di mana komentar tersebut ditunjukan pada perempuan dari bermacam pekerjaa. Mulai dari mahasiswa, ahli bedah, pengusaha, menteri, hingga guru. Di mana komentar mengejutkan tersebut, diyakini tidak akan diterima jika mereka adalah seorang pria.

“Kenapa sekolah tinggi-tinggi? Nanti nggak ada cowok yang mau lho,”

Komentar-komentar tersebut, hanya ditunjukan kepada kaum perempuan saja. Seolah-olah perempuan yang berpendidikan tinggi, mengancam derajat kaum laki-laki.

Tidak hanya itu saja, banyak perempuan mendapatkan pelebelan yang tidak masuk akal. Seperti halnya perempuan dicap murahan hanya karena pulang malam. Padahal, tidak ada pelebelan laki-laki murahan. Padahal bisa jadi perempuan tadi harus berjuang menafkahi keluarga.

Masih banyak kasus perempuan yang menjadi korban victim blaming. Menjadi yang paling rentan menjadi korban kekerasan, rentan dicap nakal, hingga binal. Bahkan masih banyak masyarakat memandang perempuan hanya sebagai ibu dan istri.

Dengan pelebelan identitas yang terbatas tersebut maka semakin banyak perempuan yang kesulitan untuk menujukan potensi secara maksimal. Namun kini banyak kelompok feminis yang mendorong pemerintah, untuk memberikan ruang dan kebebasan agar perempuan bisa membuat indetitas sendiri.

Memang pastinya susah menjadi perempuan untuk tinggal di negara yang kental dengan budaya partriaki seperti Indonesia.Untuk menghadapi hal tersebut, mereka harus bersatu saling mendukung sesama perempuan di luar sana. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia