Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Aiptu Sujadi, Polisi yang Selamatkan Korban Banjir di Tol Ngawi

Panggul Dua Bocah Lewati Kawat Berduri

10 Maret 2019, 19: 19: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

polisi penyelamat korban banjir tol ngawi

HEROIK: Aiptu Sujadi, anggota Satlantas Polres Kediri yang menyelamatkan korban banjir di Tol Ngawi. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Aiptu Sujadi, anggota Satlantas Polres Kediri, enggan dianggap pahlwanan. Dia merasa yang dilakukannya murni atas dasar rasa kemanusiaan.

Kaki kanan Noah Nayotama, anak Aiptu Sujadi, seakan enggan untuk menekan pedal gas. Keluarganya kala itu sedang menuju pulang ke Kediri setelah liburan pada Kamis (7/3) lalu. Berada di jalan tol Ngawi-Kertosono, seharusnya ia bisa memacu kencang mobilnya.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Mobil berjalan melambat. Pandangan keluarga Sujadi tertuju pada sisi kiri jalan tol. Mereka mengamati luapan air yang membanjiri sebuah perkampungan di sana. Daerah pemukiman warga saat itu hanya terlihat atapnya.

Tak lama mereka menyusuri jalan dengan pelan, terdengar teriakan. Suara permintaan tolong itu terdengar sangat parau. “Suaranya sudah sangat-sangat putus asa. Saya yang mendengarnya tidak kuasa untuk membiarkannya,” kenang pria dua anak tersebut.

Nanda Sapto Wati, istri Sujadi, sempat merekam melalui kamera gawainya. Dari video yang diunggah tersebut memang terdengar suara lelaki yang meminta tolong. Nanda sendiri sudah histeris dan bingung ketika kejadian itu berlangsung.

Pasalnya dari kejauhan mereka melihat pria tersebut tidak sendirian. Ia bersama seorang perempuan dan dua anak. Keberadaan anak itu membuat tangis Nanda pecah. Rasa haru di dadanya membuncah.

“Hati saya langsung tergugah. Kalau sudah di posisi seperti itu, saya yakin siapa saja pasti akan melakukan sama seperti yang saya lakukan. Itu semua atas dasar kemanusiaan,” ungkapnya.

Tak berpikir panjang, polisi yang biasa disapa Jadhi tersebut meminta sang putra untuk meminggirkan kendaraan. Ia kemudian melangkah melalui pagar pembatas jalan tol dan memasuki lautan air. Perlahan-lahan badannya pun semakin menghilang terendam air bah tersebut.

Kedalamannya bervariasi. Terkadang kepalanya juga sampai terendam. Terkadang dalamnya setinggi dadanya saja. Tekad Jadhi lebih tinggi dari kedalaman banjir tersebut. Hingga tak lama ia mencapai batas perkampungan dan kawasan tol yang dipisah kawat berduri.

Keberadaan kawat berduri sendiri seperti penghalang bagi korban banjir itu. Mereka telah mengarungi banjir ratusan meter hanya untuk mendapati kawat berduri itu.

Prioritas pertama dalam misi penyelamatan dadakan adalah kedua anak kecil tersebut. Kedua bocah itu ditengarai masih berumur 3 dan 5 tahun. Satu per satu bocah dipanggul melewati kawat berduri hingga akhir Jadhi bisa menangkapnya. Jadhi kemudian menepikan bocah tersebut ke daratan yang lebih tinggi. Anak pertama Jadhi pun tak tinggal diam, ia turut membantu ayahnya menangkap sang bocah dari daratan.

Tantangan berikutnya adalah mengeluarkan ibu dan paman dari kedua bocah tersebut. Pasalnya, mereka tak mungkin bisa menggunakan cara evakuasi yang sama dengan lewat atas kawat berduri. “Akhirnya saya benggang (renggang, Red) kawatnya dibantu sang paman. Saya tarik ke atas sedangkan kawat satunya diinjak ke bawah oleh paman bocah itu,” ucap pria lulusan SPM Mojokerto 1994 tersebut.

Singkat cerita, ibu dan paman kedua bocah itu pun bisa diselamatkan. Tanpa ada luka yang berarti. Hanya saja, karena sudah terlalu lama berada di dalam air, mereka pun kedinginan. Terutama kedua bocah tersebut. Keduanya sampai menggigil dan jemarinya biru-biru. Nanda langsung memberikan kaus kepada anak tersebut. Sementara bocah satunya diberikan selimut.

“Memang sudah menjadi kewajiban bagi anggota kepolisian untuk menolong masyarakat. Tetapi di luar itu semua, sebagai sesama manusia memang sudah sewajarnya saling menolong,” tuturnya bijak.

Jadhi sendiri mengaku baik-baik saja setelah menolong korban banjir tersebut. Ia tidak mengalami luka atau semacamnya. Hanya gatal-gatal saja yang dirasakannya. Berkat aksinya, keluarga korban banjir itu dapat diselamatkan dan bisa mendapatkan perawatan. Ada sebuah posko evakuasi yang berada sekitar 800 meter dari lokasi tersebut.

Kini, Jadhi telah bisa berhubungan dengan keluarga yang diselamatkan itu melalui sambungan video call. Keluarga itu pun telah sehat. Mereka sekarang menumpang di rumah saudaranya di Magetan. “Kami sekeluarga berencana mengunjungi keluarga tersebut kalau nanti ada waktu liburan. Kami ingin melihat keadaan mereka secara langsung,” akunya.

Atas aksinya tersebut, Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal Saiful Faton pun memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, apa yang dilakukan Jadhi patut ditiru oleh anggota lain. “Apa yang dilakukannya (Jadhi, Red) patut kita contoh. Memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi,” pujinya.

Apa yang dilakukan Jadhi memang aksi heroik. Apresiasi dan penghargaan pun sudah sepatutnya diberikan. Tetapi bagi Jadhi, hal itu bukanlah yang dicarinya. Menurutnya bisa menolong keluarga tersebut justru menjadi berkah baginya. Tuhan telah memilihnya untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia