Minggu, 19 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Nganjuk Dikepung Banjir

Ratusan Hektare Tanaman Padi Terancam Puso

08 Maret 2019, 17: 02: 57 WIB | editor : Adi Nugroho

banjir nganjuk

MULAI SURUT: Warga menuntun sepeda motornya yang macet saat melintasi jalan di Kelurahan Cangkringan, Kota Nganjuk yang dipenuhi air bah. Jika dini hari kemarin ketinggian air sekitar 60 sentimeter, kemarin siang tinggal sekitar 30 sentimeter. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

   NGANJUK-Bencana banjir di Kabupaten Nganjuk semakin meluas dini hari kemarin. Total ada 22 desa dan kelurahan di delapan kecamatan yang tergenang air bah. Ratusan hektare tanaman padi ikut terendam dan terancam puso.

          Ketinggian air di delapan kecamatan di Nganjuk itu bervariasi. Mulai sekitar 20 sentimeter hingga ada yang mencapai 150 sentimeter (selengkapnya lihat tabel). Air bah masuk ke perkampungan warga mulai pukul 23.00 Selasa (5/3) malam.

          Di sebagian wilayah, air bah baru datang sekitar pukul 01.00 dini hari. Hingga kemarin siang, sejumlah wilayah di Kota Angin masih tergenang air. Di antaranya, di Kelurahan Cangkringan, Kota Nganjuk.

banjir nganjuk

LANGGANAN: Kompleks kios Pasar Payaman tak luput dari luapan air bah. Hingga kemarin siang, bagian dalam pasar masih tergenang. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

          Air bah dari sungai Cangkringan meluap dan merendam jalan raya hingga setinggi sekitar 60 sentimeter. Kondisi yang sama terlihat di Pasar Payaman, Kecamatan Nganjuk. “Air masuk sejak dini hari,” ujar Nyodi, 50, penjaga pasar.

          Jika sekitar pukul 01.00 dini hari kemarin ketinggian air di sana mencapai lutut orang dewasa, kemarin siang air sudah mulai surut. Yaitu, tinggal sekitar 30 sentimeter. “Pasar Payaman memang langganan banjir. Tapi ini yang paling parah,” lanjut pria asal Kelurahan Kartoharjo, Nganjuk itu. 

          Sementara itu, banyaknya wilayah Nganjuk yang terendam banjir membuat Wakil Bupati (Wabup) Marhaen Djumadi turun ke lapangan. Dia mengecek sejumlah lokasi banjir. Mulai di Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro, Kecamatan Pace dan beberapa wilayah lain di Nganjuk.

          Marhaen mengakui, bencana banjir yang terjadi di Nganjuk kemarin adalah yang paling parah. Meski demikian, dia bersyukur air bah yang datang dini hari itu cepat surut. “Hanya di beberapa lokasi saja yang masih tergenang,” urai pria yang kemarin memantau kondisi sejumlah dam dan area persawahan terdampak itu.

          Terpisah, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Soekonjono menambahkan, bencana banjir di sejumlah wilayah di Nganjuk kemarin diperparah dengan adanya tanggul sungai yang jebol. Sehingga, air bah langsung meluber ke perkampungan warga.

          Sesuai hasil asesmen BPBD Nganjuk, sedikitnya total ada 97 rumah terendam dan ratusan kepala keluarga menjadi korban bencana banjir. “Selain rumah warga, banjir juga mengenangi  polindes, TK pertiwi dan beberapa lembaga pendidikan,” urai pria yang akrab disapa Soeko ini.

          Untuk diketahui, banjir tidak hanya menggenangi perkampungan. Melainkan juga menggenangi area persawahan. Data sementara dari dinas pertanian, ada 102 hektare tanaman padi yang tergenang dan terancam puso.

          Ratusan hektare tanaman padi itu tersebar di lima kecamatan. Yaitu, Kecamatan Bagor seluas 51 hektare. Rinciannya, di Desa Sekarputih seluas 11 hektare, Desa Gandu 25 hektare, dan Desa Selorejo seluas lima hektare.

          Kemudian, di Kecamatan Berbek seluas 25 hektare. Rinciannya, Desa Sengkut 0,5 hektare, Desa Tiripan dan Desa Sonopatik masing-masing 5 hektare. Selanjutnya,  Desa Bulutawing 7,5 hektare dan Desa Sendangbumen tujuh hektare.

          Di Kecamatan Nganjuk, sawah yang terendam seluas 19 hektare. Masing-masing di Kelurahan Mangundikaran 13 hektare dan Kelurahan Cangkringan enam hektare. Sisanya, di Kecamatan Pace dan Patianrowo masing-masing delapan hektare dan tiga hektare.

          Plt Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Nganjuk Istanto mengatakan, pihaknya masih mendata total sawah yang terkena banjir. Sebab, selain mendata kerusakan tanaman, dinas juga perlu memastikan produktivitasnya. “Masih didata di semua kecamatan,” tutur Istanto.

          Dia mengungkapkan, mayoritas tanaman padi yang diterjang banjir berusia rata-rata 80-90 hari. Itu berarti tanaman tersebut menjelang dipanen. Karena itulah, tidak semua tanaman mengalami puso. “Bisa jadi produktivitasnya menurun nanti,” ujar pria yang juga Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Nganjuk ini.

          Apakah petani mendapat ganti rugi? Mengenai hal itu, Istanto mengatakan, pemkab sebenarnya tidak menyediakan ganti rugi tanaman yang puso. Namun, di musim tanam berikutnya, dispertan akan memberikan bantuan benih. “Tapi datanya perlu dipastikan dulu. Apakah puso atau hanya turun produktivitas,” ungkapnya.

           Selain bantuan benih, kata Istanto, petani yang mengikuti asuransi pertanian bisa melakukan klaim kerugian. Namun sampai kemarin, dispertan belum bisa mendata berapa petani yang terdampak banjir yang masuk dalam asuransi.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia