Selasa, 23 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Pakai Smartphone, Tulisan Soal Kecil

Sekolah Evaluasi USBN BKS dengan Ponsel Pintar

08 Maret 2019, 16: 46: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

siswa usbn

BUKAN MENCONTEK: Siswa SMAN 1 Tanjunganom mengerjakan soal USBN menggunakan ponsel, kemarin. Karena layar yang kecil, beberapa kali siswa harus memperbesar tulisan dengan di-zoom. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK–Ujian sekolah berstandar nasional (USBN) SMA berbasis smartphone dan komputer (BSK) di hari pertama kemarin, berjalan lancar. Meski demikian, siswa yang menggunakan ponsel pintar harus berusaha keras membaca tulisan soal yang berukuran kecil.

          Kepala SMAN 1 Tanjunganom Sigit Tri Tjahjono mengatakan, setelah didata lagi, jumlah siswanya yang menggunakan ponsel pintar saat USBN kemarin sebanyak 34 anak. Puluhan siswa tersebut tidak setiap hari mengerjakan soal menggunakan ponsel. Melainkan digilir. “Tiap dua hari sekali,” ujar Sigit.

Selama delapan hari ujian, lanjut Sigit, siswa hanya mendapat giliran ujian memakai ponsel selama dua hari. Selebihnya, siswa akan beralih ujian menggunakan komputer. Sebab, enam hari sisanya giliran siswa lain yang mengerjakan soal USBN menggunakan ponsel.

Di hari pertama USBN kemarin, Sigit menyebut tidak ada masalah berarti. Hanya saja, dari laporan proktor, siswa yang menggunakan ponsel pintar memang harus lebih bekerja keras membaca tulisan soal. “Karena dibanding di komputer, tulisan di ponsel lebih kecil,” tuturnya.

          Karena itulah, untuk tulisan yang terlalu kecil, siswa harus membesarkannya dulu dengan zoom. Terutama, ponsel pintar dengan ukuran layar di bawah 5 inci.

          Dengan kendala itu, sekolah akan mengevaluasi siswa yang layar ponselnya masih berukuran 4 inci. Di hari berikutnya, mereka diarahkan untuk menggunakan personal computer (PC) maupun laptop.”Kalau (tulisan, Red) terlalu kecil, kesulitan nanti membacanya,” urainya.

          Terpisah, Kepala SMAN 3 Nganjuk Lanang Suprihadi mengatakan, total ada 382 siswa yang mengikuti USBN di sekolahnya. Berbeda dengan SMAN 1 Tanjunganom, sekolah yang berlokasi di Keluarahan Begadung Nganjuk ini hanya menggunakan PC dan laptop. “Kami tidak memakai smartphone,”  ungkap Lanang.

          Dari jumlah siswa tersebut, lanjut Lanang, panitia membaginya menjadi empat ruangan. Masing-masing ruangan diisi sekitar 40 anak. “Yang memakai laptop sekitar 10 anak. Di setiap ruangan ada laptop,” terang pria asal Bondowoso ini.

          Dari evaluasi kemarin, panitia hanya menemukan kendala jawaban siswa yang belum terunggah di server provinsi. Pasalnya, setelah mengerjakan ujian, komputer dibiarkan logout otomatis. “Seharusnya bisa di-logout dengan akun milik siswa. Tapi tidak menjadi masalah berarti,” tandasnya.

          Dari ratusan siswa yang seharusnya mengikuti USBN, menurut Lanang hanya ada satu siswa yang tidak bisa  mengikuti USBN hari pertama karena sakit. Sesuai petunjuk teknis (juknis) dari provinsi, yang bersangkutan bisa mengikuti ujian susulan yang dimulai pada 20 Maret nanti.

          Untuk diketahui, USBN SMA dan SMK tidak serentak. Ujian SMK baru dimulai pagi ini sekitar pukul 07.00. Kemarin sejumlah sekolah masih melakukan geladi bersih persiapan USBN. (baz/ut)

”Kalau (tulisan, Red) terlalu kecil, kesulitan nanti membacanya.”

Sigit Tri Tjahjono

Kepala SMAN 1 Tanjunganom

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia