Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Jembatan Lama Kertosono Belum Tersentuh

Terancam Ambruk, Warga Masih Nekat Memancing

08 Maret 2019, 15: 29: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

jembatan kertosono

BERBAHAYA : Jembatan lama Kertosono yang kondisinya terancam ambruk sering dipakai warga untuk memancing di atasnya. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

  NGANJUK- Jembatan lama Kertosono yang ambles pada Februari 2018 silam belum tersentuh perbaikan. Meski sudah ditutup total, warga kerap memanfaatkan jembatan tersebut untuk aktivitas memancing. Padahal, jika dibebani terus menurus, lambat laun jembatan peninggalan Belanda itu terancam ambruk.

Kabag Humas Pemkab Nganjuk Agus Irianto mengatakan, perbaikan infrastruktur jembatan lama Kertosono sebenarnya sudah dikomunikasikan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Saat itu, dari kementerian memberikan dua opsi untuk program prioritas jalan dan jembatan.

Agus mengungkapkan,, sesuai visi misi Bupati Novi Rahman Hidayat, tahun ini perbaikan infrastruktur jalan menjadi prioritas. Karena itu, perbaikan atau pembangunan jembatan akan dilaksanakan setelah perbaikan jalan tuntas. “Dua infrastruktur ini sama-sama penting, tapi saat ini kondisi jalan rusak lebih menjadi prioritas utama bupati,” ungkap Agus.

Agus melanjutkan,  perbaikan jalan secara keseluruhan ditargetkan tuntas pada 2021. Seiring dengan perbaikan jalan, tidak menutup kemungkinan jembatan lama Kertosono itu dikerjakan pada 2020. “Kami rasa tidak hanya jembatan lama Kertosono, tapi perbaikan jembatan lainnya nanti bisa bersamaan dengan perbaikan jalan,” ucapnya.

Pasalnya, target awal untuk perbaikan jalan bisa terselesaikan hingga 65 persen. Ketika target itu sudah terealisasi, maka Pemkab Nganjuk bisa melakukan perbaikan infrastruktur jembatan dan jalan secara bersamaan. “Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap,” lanjutnya.  

Karena masih harus menunggu waktu perbaikan, Agus mengimbau agar warga tidak beraktivitas di atas jembatan. Dia khawatir jembatan bisa roboh sewaktu-waktu. Apalagi saat ini debit air Sungai Brantas mengalami kenaikan. Posisi jembatan yang sudah mengalami kemiringan karena ambles dan retak itu ditakutkan semakin tergerus karena tekanan air sungai yang terus membesar.

“Kami imbau warga tidak lagi beraktivitas di atas jembatan, berbahaya,” kata Agus. Sejak jembatan tersebut ditutup, warga terpaksa menyeberang menggunakan perahu tambang. Aktivitas penyeberangan yang berada di dekat jembatan itu ramai.

Selain warga Kertosono yang memanfaatkan perahu tersebut, banyak pula warga dari Jombang. Terutama mereka yang membuka usaha di Kertosono.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Soekonjono mengatakan, debit Sungai Brantas yang mengalami masuk dalam kategori aman. Meski arus sungai semakin deras, kaki jembatan dianggap kuat menahan tekanan air. “Tidak masalah (arus sungai Brantas deras, Red),” katanya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia