Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features
Arung Brumbung

Telusur Irigasi Kuno di Desa Brumbung

06 Maret 2019, 09: 29: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

arung brumbung kediri

BERSEJARAH: Arung kuno di Desa Brumbung, Kepung. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Satu lagi peninggalan bersejarah di Kabupaten Kediri yang nyaris terlupakan. Kali ini tiga arung kuno atau saluran air berupa terowongan buatan di bawah tanah peninggalan nenek moyang didata oleh Komunitas Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri (Pasak).

Arung tersebut berada di Desa Brumbung, Kecamatan Kepung. Belum diketahui secara pasti sejak kapan arung tersebut dibuat. Yang jelas dari karakteristiknya mirip dengan arung Surowono, Desa Canggu, Badas, yang selama ini lebih dulu dikenal.

Tak banyak yang tahu lokasi arung tersebut. Letaknya di area persawahan bekas penemuan prasasti Brumbung I dan Brumbung II. “Daerah sawah sekitar sini disebut watu tulis. Ada tiga gua di bawah. Yang satu seperti sumur,” kata Maliyadi, petani yang ada di daerah watu tulis itu.

Dari pantauan, ada tiga arung yang bisa ditemukan. Lokasinya berada di lembah yang masih dialiri air. Kondisinya lembab, dengan berbagai macam jenis vegetasi. Arung berbentuk sumur yang letaknya paling atas. Dari pendataan tim Pasak, diameternya sekitar 2 meter. Kedalamannya belum diketahui. Sebab, setelah dilihat, di dasar sumur terdapat percabangan yang mengarah ke tenggara.

“Belum ada yang berani masuk sini. Karena takut tidak ada jalan tembusnya,” ungkap pria 60 tahun tersebut.

Sementara dua arung lainnya berada lebih ke bawah. Jaraknya sekitar 100 meter dari arung pertama. Arung kedua yang dimaksud berbentuk gua. Dengan tinggi 1,5 meter. Lebar bibir arung 1 meter. Sementara jika masuk ke dalam semakin menyempit hanya 70 sentimeter. Satu orang dewasa masih bisa masuk ke dalam. “Kalau yang ini pernah dimasuki sampai ke dalam. Katanya ada percabangan. Ada warga sini yang pernah masuk,” ujar Yadi.

Arung ini berada sekitar 10 meter di bawah persawahan. Letaknya di bagian dasar tebing. Dari dalam mengalir deras air jernih di atas mata kaki. Kondisi dindingnya sudah menjadi batuan padas. Sementara arung terakhir berukuran lebih kecil dibanding arung kedua. Tingginya 2 meter, tetapi tidak bisa dimasuki orang.

Menurut Ketua Pasak sekaligus Penggiat Budaya Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib, arung kuno di Desa Brumbung ini tidak terlepas dari teknologi pengairan di zaman kerajaan dahulu. Namun dia belum bisa menyebut secara pasti sejak kapan arung tersebut dibuat. Yang jelas itu merupakan bukti sejarah kejayaan Kediri masa lalu. Terutama pada sistem pengairan yang digunakan untuk irigasi areal persawahan. Apalagi di daerah Kepung juga dikenal dengan penemuan Prasasti Harinjing. Yang berisi tentang penganugerahan tanah perdikan kepada sang Bagawanta Bhari. Atas kehebatannya dalam membuat sebuah saluran irigasi yang kini dikenal dengan Sungai Serinjing.

Dari penjelasan Novi, sebenarnya di daerah Kabupaten Kediri banyak arung kuno. Terutama di bagian timur. Hanya, sebagian besar telah tertutup akibat aktivitas vulkanik Gunung Kelud. “Terutama di daerah Kecamatan Kepung yang dikenal cukup banyak sumber mata airnya,” sebutnya.

Menurutnya arung Brumbung tersebut masuk kategori arung besar. Karena bisa dilalui orang seperti halnya arung yang ada di Surowono. Di sekitar arung, juga masih ditemukan pecahan keramik dan batu bata merah. Bukti bahwa kawasan itu dahulu memang menjadi daerah yang sempat dihuni.

Sebelumnya Novi juga pernah menyinggung, bahwa arung bawah tanah merupakan sebuah karya nenek moyang yang luar biasa. Mereka memanfaatkan teknologi saluran bawah tanah untuk mengambil urat-urat air. Dengan membuat lorong-lorong yang cukup dalam. “Kami tinggal mengubah pandangan masyarakat, bahwa arung yang selama ini dianggap angker bisa menjadi tempat eksotis yang menarik. Tentunya dengan tetap menjaga kelestarian karya leluhur yang adiluhur tersebut,” pesannya. 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia