Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Events

Mereka Yang Juara Perang Mading School Contest XII 2019 Kategori SMP

Wawancara Polisi untuk Materi Cyber Crime

06 Maret 2019, 09: 11: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

smpk petra mading school contest xii

CYBER CRIME: Kru mading dari SMPK Petra berpose dengan karya mereka saat berlangsungnya Final Party SC XII lalu. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Usia belia tidak menjadi halangan untuk berkarya. Sikap kritis yang mereka suguhkan tidak kalah dengan peserta kategori di atasnya. Karya mereka layak diganjar gelar juara.

ANDHIKA ATTAR

Puluhan orang-orangan dari bubur kertas terpajang dalam mading 3D buatan peserta asal SMP Petra Kediri. Berbagai gaya, bentuk dan aktivitas berbeda menjadi representasi kemajemukan masyarakat zaman sekarang.

mading sc xii mts al mahrusy

KREATIF: Kru Mading MTs Al Mahrusy dan hasil karyanya yang meraih best performance. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Mading itu menggambarkan fenomena lapangan dengan akurat. Mulai dari aktivitas swafoto lalu diunggah diakun medsos hingga vlogging, mereka rekam dalam karyanya.

Sorotan utama karya mereka adalah sebuah kubus transparan dengan rangka warna biru. Jika diamati dengan seksama, ruangan tersebut menggambarkan sebuah kantor. Lengkap dengan orang dan perlengkapan kantor. Seperti halnya meja, kursi, hingga komputer.

Rasa penasaran ruang kantor apa yang mereka gambarkan terjawab dengan sebuah tulisan. Pada bagian kiri atas terdapat kertas cetak bertuliskan Unit Pidana Khusus Cyber Crime. Jelas sudah apa yang mereka gambarkan dalam ruangan tersebut.

“Kami berkunjung langsung ke Polresta Kediri untuk memperdalam materi tentang kejahatan di dunia maya. Beberapa artikel yang kami buat juga berasal dari kunjungan tersebut,” jelas Reivan Arya, ketua tim Perang Mading dari SMPK Petra Kediri, yang meraih gelar best overall kelompok SMP.

Reivan bersama timnya menghabiskan waktu sekitar tiga minggu untuk merampungkan mading 3D tersebut. Lengkap dengan segala artikel, pernak-pernik, dan ornamen di dalamnya.

Pembuatan karya tersebut juga tidak terlepas dari penggunaan barang bekas. Seperti halnya untuk membuat orang-orangan mereka menggunakan bubur kertas. Bahannya adalah koran bekas hasil meminta kepada guru dan teman-teman sekolah.

Dalam membuat 30 orang-orangan, mereka menghabiskan dua bak bubur kertas. Sekitar lima hari lamanya mengerjakannya. Setiap pulang sekolah hingga menjelang petang. Mereka pun kompak membagi tugas dalam kelompoknya sehingga selesai tepat waktu.

Karya remaja SMP tersebut tidak melulu menampilkan keluhan atau kritisme tanpa solusi. Ada sebuah tulisan yang terpampang jelas dalam karya mading mereka. Sebuah semboyan positif yang mereka sampaikan. Yaitu “I control social media, I reach my future”.

Karya tak kalah hebat dibuat oleh perwakilan MTs Al Mahrusy. Mereka merepresentasikan dunia maya sebagai samudra lepas. Sedangkan penggunanya digambarkan sebagai awak kapal. Mengarungi samudra lepas untuk menuju pesisir pantai.

Ada dua kapal yang dibuat oleh mereka. Satu kapal berbentuk utuh tanpa ada kerusakan. Kapal ini menggambarkan masyarakat yang menggunakan medsos secara positif. Sedangkan kapal satunya digambarkan patah dan terbagi di bagian lambung tengah kapal.

“Kapal kedua menggambarkan masyarakat yang tidak bijaksana dalam menggunakan medsos. Sehingga mereka gagal dalam mengarungi samudra dan menuju pesisir pantai,” terang Tanta Pahlevi, ketua tim Perang Mading MTs Al Mahrusy.

Mading 3D yang mereka buat memang terkesan simpel dalam presentasinya. Namun ide dan kreativitasnya sangat mengena. Belum lagi kualitas artikel yang mereka buat. Hebatnya, karya tersebut hanya dibuat oleh delapan pelajar saja dalam waktu seminggu. Gagasan, perspektif dan kreativitas mereka pun membuahkan hasil positif. Mereka meraih titel best performance.

Sementara, gelar best content direbut oleh mading dari MTsN 2 Kota Kediri. Dalam karyanya, mereka membuat dua tingkat realitas lapangan setelah adanya medsos. Tingkat bawah menggambarkan masyarakat kota dengan segala hiruk-pikuknya sehingga semakin menjadi individualis.

Sementara itu, tingkat kedua digambarkan dengan suasana pedesaan di mana medsos masih belum begitu menggurita. Masyarakatnya pun masih suka bersosialisasi dan bermain permainan tradisional. Penggambarannya sendiri mereka mengambil dari masyarakat di kaki gunung Wilis. Lengkap dengan sebuah gunung di tengahnya.

Representasi gunung Wilis pun menjadi daya tarik bagi pengunjung. Belum lagi mereka mengajak pengunjung untuk berinteraksi. Yaitu dengan membuat eksperimen erupsi gunung Kelud. “Kami menggunakan soda makanan, sabun cuci, air cuka dan pewarna makanan untuk eksperimennya,” papar Najma Brighitta A.

Dengan eksperimen tersebut, tak ayal karya mereka mendapat respon positif dari pengunjung. Terbukti dari banyaknya pengunjung yang mencoba eksperimen tersebut.

“Kami sampai kehabisan bahan baku eksperimen. Stok air cuka yang kami beli pasti habis dalam sehari,” ujar Najma dengan bangga.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia