Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Events

Mereka Yang Juara Perang Mading School Contest XII 2019 Kategori SMA

Cicil Pembuatan Mading 3D

04 Maret 2019, 18: 12: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

perang mading sc xii smkn 1 kediri

JUARA: Mading SC XII 2019 dari SMKN 1 Kota Kediri. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Juara tidak dihasilkan dalam satu malam. Perlu kerja keras dan dedikasi. Begitu juga para juara Perang Mading SC XII 2019 kategori SMA ini.

ANDHIKA ATTAR

Dari kejauhan terlihat kerangka manusia. Berwarna putih. Dipajang dalam peti mati hitam berukuran 1,6 meter. Cahaya terpancar dari peti mati itu. Ritmis, kelap-kelip, menghilangkan kesan ngeri dari kerangka dan peti mati.

perang mading sc xii sman 7 kediri

UNIK: Mading dari SMAN 7 Kediri. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Begitu didekati lampu justru padam. Peti dari triplek tersebut kembali gelap. Tiba-tiba tengkoraknya bergerak. Menengok ke kanan dan kiri berulang-ulang. Dengan mata bersinar merah merekah.

Saat dijauhi tengkorak itu kembali diam. Peti pun kembali menyala. Begitu seterusnya siklus yang dibuat oleh tim D’Jour. Peserta Perang Mading SC XII 2019 dari SMKN 1 Kota Kediri, peraih kategori best overall.

Kerangka manusia itu berbahan kawat dan koran. Menjadi poin penting bagi mereka. Signature yang ditorehkan dengan sangat kuat. Ibarat tinju, desain itu adalah sebuah uppercut. Pukulan telak ke rahang para penantang.

 “Kami menggunakan sensor ultrasonic. Kalau tidak ada yang mendekat kepalanya akan diam. Ketika didekati akan bergerak dan matanya menyala,” terang Alfian Yudha, anggota tim yang membidani sistem motorik tersebut.

Sambil membuktikan penjelasannya, ia pun mempraktikkan. Mendekat. Menjauh. Diulanginya beberapa kali. Semuanya berhasil, sesuai dengan apa yang mereka janjikan.

Alfian harus menghabiskan waktu selama tiga hari untuk merampungkan sensor dan motor tersebut. Motor yang dipakainya juga tidak bisa dengan mudah didapatkan di Kediri. “Di Kediri ada yang jual, tetapi harganya bisa berlipat-lipat. Akhirnya saya membelinya dari Surabaya lewat online shop,” ceritanya.

Selain desain dan kreativitas, kekuatan artikel juga menjadi poin plus bagi mereka. Memang, dalam tim tersebut dibagi per divisi. Yaitu mulai layout, konsep, desain, perlengkapan dan artikel itu sendiri.

Mengerjakan semua kebutuhan dan konsep yang mereka buat tidaklah sekejap mata. Sekitar satu bulan lamanya para anggota terkuras waktu dan tenaganya untuk merampungkan proyek itu.

“Setiap Senin-Jumat, sepulang sekolah kita mengerjakannya. Malah kalau hari Sabtu kita full mengerjakannya,” beber Bintang Abdillah Putra, ketua tim D’jour.

Mading SMAN 7 Kota Kediri juga menyikapi fenomena masyarakat yang “gila” dengan medsos. Tiap saat selalu terpaku melihat layar ponselnya. Dari keresahan itu, mereka berusaha mengejawentahkan ke dalam bentuk materiil.

Akhirnya diperoleh ide  untuk merepresentasikan layar ponsel seperti mata Dewi Medusa. Yaitu seorang dewi dari legenda Yunani yang memiliki rambut berwujud ular.

“Kita ibaratkan melihat ponsel itu seperti menatap mata Medusa. Lama-kelamaan kita akan menjadi patung,” ujar Aulia Ramadhani Azzahra, ketua tim Exma SMAN 7 Kota Kediri.

Seperti halnya dinding yang dibuat dari kertas semen dan boneka Danbo dari triplek yang dilapisi serbuk gergaji. Masih banyak lagi item yang berasal dari bahan daur ulang. “Kebetulan di sekolah sedang ada pembangunan. Kami minta kertas semen pun dari sana. Habis 15 kertas semen ini semuanya,” ungkap Aulia.

Kerja keras dan kreativitas yang ditunjukkan tersebut berkat kekompakan dalam tim. Uniknya, dalam tim ini semuanya adalah perempuan. Tidak ada satu pun pria yang tergabunga dalam timnya. Mereka membuktikan bahwa pekerjaan pria juga bisa dilakukan oleh perempuan.

Konsep, desain dan eksekusi yang mereka tampilkan pun mampu menarik hati para juri. Atas hasil karyanya, juri mengganjar 15 anggota tim tersebut dengan gelar juara. Yaitu dalam kategori Best Perform Perang Mading SC XII 2019 tingkat SMA sederajat.

Tak hanya tim dari SMAN 7 Kediri saja yang menerapkan konsep daur ulang dalam karyanya. Tim dari MAN 2 Kota Kediri pun menerapkan hal yang sama. Bahkan tim yang mengusung konsep Disruptif Inovatif ini mayoritas menggunakan barang bekas.

“Hanya cat, dacron dan beli produk sponsor yang kita beli langsung. Lainnya dari barang bekas yang masih bisa kami manfaatkan,” aku Jauhari Lutfil.

Beberapa barang seperti potongan lengan seragam bekas, sabut kelapa, serbuk gergaji dan koran bekas. Barang-barang tersebut didapatkannya dari tempat yang tak jauh dari sekolah. Seperti halnya koran bekas ia mintakan dari sekolah dan anggota tim lain.

Tim ini juga memanfaatkan barang bekas dari kompetisi serupa pada tahun lalu. Mereka tidak ingin menyianyiakan barang yang masih digunakan tersebut. Alhasil, pengeluaran untuk membuat karya tersebut hanya memakan biaya sekitar Rp 500 ribu. “Pengeluaran itu juga sudah termasuk untuk konsumsi kami semua,” ujarnya.

Selain konsep dan semangat yang mereka terapkan, penyampaian materi serta pesan juga patut diacungi jempol. Oleh karena itu mereka berhasil menyabet Best Content SC XII 2019 kategori SMA sederajat.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia