Selasa, 16 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Siap Bubarkan Demonstrasi Massa yang Anarkis

03 Maret 2019, 16: 30: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

aksi demo

TANGKAL PERUSUH: Personel jajaran Polres Kediri Kota latihan menghadapi unjuk rasa yang ricuh dalam latihan sispamkota, kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA – Polres Kediri Kota melaksanakan kegiatan latihan sistem pengamanan kota (sispamkota), kemarin (2/3). Simulasi untuk mengantisipasi aksi demonstrasi massa saat pemilihan umum (pemilu) itu dimulai sekitar pukul 07.30 WIB. Lokasinya di halaman Mapolres Kediri Kota.

Peragaan yang dipraktikkan seperti kejadian nyata itu diawali dengan sejumlah petugas kepolisian yang berperan sebagai massa yang berunjuk rasa. Mereka menyerang kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kediri. Massa meneriakkan pernyataan protes. Tidak puas dengan hasil pemilu. “Bubarkan KPU,” teriak salah satu peserta simulasi demonstrasi.

Menghadang agar pengunjuk rasa tidak masuk ke dalam gedung KPU, petugas polwan terlebih dahulu bergerak. Mereka mendinginkan suasana dan meredam gejolak massa.  Namun, ketika demonstran semakin membeludak, anggota Brimob Polri dan TNI diturunkan.

Latihan sispamkota ini merujuk pada skenario situasi demonstrasi massa yang ricuh. Di mana dalam peragaan terjadi konflik. Di sinilah disimulasikan cara menanggulangi ketika massa bertindak anarkis. Tidak hanya itu, dalam simulasi kemarin juga terdapat beberapa cara pembubaran massa sesuai dengan kericuhan yang dibuat.

Terlihat saat simulasi, untuk membubarkan massa yang mulai melempari petugas menggunakan bola-bola air, petugas menggunakan kendaraan water cannon.

Dalam kegiatan yang dibuka oleh Kapolres Kediri Kota AKBP Anthon Haryadi itu memang terdapat berbagai rangkaian pembentukan pengendali massa (dalmas). Mulai dari tim negosiasi, dalmas awal, dalmas lanjutan serta tim penindakan massa yang bertindak anarkis.

“Jika ketika dilakukan negosiasi tidak berhasil dan massa justru semakin anarkis, maka akan dilakukan tindakan tegas,” terangnya.

Dalam simulasi sipamkota itu dikerahkan sebanyak 502 personel. Mereka terdiri atas anggota jajaran polresta, Brimob, dan TNI. Latihan ini sangat penting dilaksanakan dalam rangka kesiapam personel.  Selain itu juga memeriksa kesiapan sarana prasarana (sarpras) yang akan digunakan dalam pengamanan pemilu 2019. “Sedangkan untuk petugas yang disiagakan pada hari H, dua kali lipat dari yang ikut latihan tadi (kemarin, Red),” tutur Anthon.

Ketika hari H, tepatnya pada pemilu yang berlangsung 17 April 2019, polresta akan mengerahkan sebanyak 602 personel. Jumlah tersebut belum gabungan dari personel BKO Brimob, TNI, dan petugas perlindungan masyarakat (linmas). Gabungan petugas tersebut nantinya akan ditugaskan di setiap tempat pemungutan suara (TPS) yang berada di masing-masing kelurahan dan desa.

Berdasarkan keterangan yang didapat Jawa Pos Radar Kediri, tingkat kerawanan di seluruh TPS tergolong tinggi. Petugas Polres Kediri Kota telah melakukan rapat koordinasi untuk menetapkan yang rawan. Di mana status kerawanan terbagi menjadi tiga. Yaitu kurang rawan, rawan, hingga sangat rawan. “Setidaknya ada 100 personel yang standby di mapolresta nantinya,” ungkap Anthon.

Sedangka untuk antisipasi yang dilakukan saat pra pemilu dengan mempertebal lapisan pengamanan. Tidak hanya itu, namun juga menambah petugas pengamanan. Di antaranya 1 SKS Brimob dan 1 SKS TNI.

Sementara untuk pemantau ketika proses pemilu berlangsun, baik Polri, Brimob, dan TNI akan melakukan pemantauan dengan jarak 50 meter dari setiap TPS. Sehingga kerawanan yang muncul dapat ditertibkan dengan cepat.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia