Jumat, 23 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Perang Lawan Hoax

03 Maret 2019, 16: 15: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh: Endro Purwito 

Oleh: Endro Purwito 

Share this          

Berita Terkait

Istilah ‘perang total’ tiba-tiba ramai jadi pemberitaan di media online. Istilah yang dilontarkan salah satu tim kampanye calon presiden (capres) itu pun sempat menjadi polemik. Pasalnya, dianggap sebagai upaya yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan (kemenangan).

    Tak heran, lantaran definisi kata ‘perang’ cukup seram. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) mengartikannya dalam empat makna. Pertama, perang bermakna permusuhan antara dua negara (bangsa, agama, suku, dan sebagainya).

    Kedua, memiliki arti pertempuran besar bersenjata antara dua pasukan atau lebih (tentara, laskar, pemberontak, dan sebagainya). Ketiga, perang diartikan sebagai perkelahian atau konflik. Kemudian, perang juga bisa berarti cara mengungkapkan permusuhan.

    Sementara arti ‘perang total’ adalah perang modern untuk tujuan tidak terbatas dengan menggunakan dan melibatkan segala kekuatan nasional. Ada pula perang pena yang dalam KBBI diartikan polemik dalam surat kabar (majalah dan sebagainya); perdebatan tertulis yang dimuat dalam surat kabar untuk mempertahankan argumentasi masing-masing.

Tak seperti definisi di atas, awal Maret 2019 tengah terjadi ‘perang’ di Kediri dan sekitarnya. Tetapi yang ini tidak seram dan menakutkan. Sebab bukan perang sembarang perang. Bukan pula untuk berpolemik seperti kampanye politik. Namun, ini ‘perang’ beradu keterampilan dan kreativitas.

Ya, sejak 1 Maret lalu bertempat di convention hall Simpang Lima Gumul (SLG), Ngasem, Kabupaten Kediri terjadi Perang Mading (Majalah Dinding). Perang antarmedia sekolah ini termasuk dalam rangkaian ajang School Contest (SC) yang dihelat Jawa Pos Radar Kediri. Perhelatan tahun ini sudah yang ke-12 kalinya.

Pasukan perangnya adalah para pelajar dari berbagai sekolah (setingkat SMP/MTs dan SMA/SMK/MA). Senjatanya, keberanian, keterampilan, dan kreativitas. Strateginya, menuangkan ide dan gagasan dalam konstruksi mading yang unik dan menarik. 

Puluhan mading memenuhi ruang convention hall area monumen SLG yang menjadi ikon Kabupaten Kediri. Karya-karya yang ‘bertempur’ dalam Perang Mading itu pun tak sederhana. Baik berbentuk dua dimensi (2D) maupun tiga dimensi (3D) unjuk gigi. Konstruksinya atraktif. Menarik perhatian publik pengunjung Final Party School Contest (SC) XII.

Mereka yang dahulu mengira mading hanya sekadar tempelan lembar-lembar informasi, kini jadi geleng-geleng kepala. Tak menyangka, majalah dinding dapat dikreasi sedemikian rupa. Desainnya variatif dengan berbagai konstruksi menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan. Bahkan memanfaatkan barang bekas maupun limbah.

Tak sekadar berisi berita atau informasi yang dibutuhkan khalayak. Namun, banyak menu yang disajikan. Selain content berita-berita menarik dan karya sastra, ada grafis dan fotografi. Termasuk ilustrasi kreatif berupa kaligrafi, karikatur, kartun, maupun komik.

Lebih dari itu, keikutsertaan banyak peserta dalam ‘peperangan’ mading ini menunjukkan antusiasme mereka terhadap kebutuhan informasi sangat besar. Pasalnya, mading sejatinya merupakan karya jurnalistik yang berfungsi utama sebagai wahana komunikasi massa dan penyampai informasi. Mading merupakan wadah edukasi sekaligus hiburan yang bermanfaat.

Banyaknya pengunjung yang tertarik dengan ‘perang’ itu pun bisa menjadi indikasi minat baca masyarakat masih belum pudar. Bahkan, terus meningkat. Maka tak berlebihan kiranya menganggap mading-mading yang ‘berperang’ itu mampu memotivasi orang membaca. Dan mampu memberi inspirasi.

Manfaat positifnya, ilmu bertambah. Wawasan berkembang dan mencerdaskan. Bukankah membaca bisa membuka cakrawala berpikir. Membaca juga dapat menjadi nutrisi untuk otak maupun hati. Tentu saja, dengan bacaan-bacaan yang baik dan positif. Membaca kisah atau cerita yang memotivasi dan menginspirasi dapat mendorong pembacanya bersemangat menjalani hidup.

Itu lebih baik daripada membaca informasi bohong atau hoax. Atau mengakses kabar yang tak benar faktanya. Apalagi, disampaikan dengan provokasi serta menghasut. Orientasinya menjelek-jelekkan dan menyudutkan pihak lain yang tak sepaham atau sejalan dengannya.

Ini tentu tidak sehat. Berpotensi membuat pikiran kusut. Tak hanya itu, juga bisa bikin emosi terganggu. Ini bila informasi tak disaring. Namun, ‘pasukan perang mading’ rupanya telah memiliki kesadaran yang memadai untuk memilah  segala informasi.

Mereka mampu menyaring informasi secara cerdas. Mencernanya dengan pikiran positif dan meresapi dengan hati yang jernih. Hal itu, setidaknya, terlihat dari content mading yang mereka tampilkan dalam event SC XII 2019. Semua menolak hoax dan berupaya menangkalnya.

Ironisnya, di luar ‘pasukan mading’ itu masih ada masyarakat yang belum cerdas. Tanpa menyaring kebenaran informasi itu, mereka langsung menyebarkannya. Padahal hal tersebut dapat berdampak negative dan destruktif. Sebab selain tak bermanfaat, juga merugikan. Bukan hanya kepada pihak lain, tetapi juga diri sendiri.

Pasalnya, jika terbukti menyebarkan hoax, ada aturan hukum negara yang dilanggar. Konsekuensinya si pembuat maupun penyebarnya bakal berhadapan dengan otoritas hukum. Mereka harus mempertanggungjawabkannya.

Nah, Perang Mading sejatinya bisa menjadi upaya menangkal penyebaran informasi hoax. Sebab, semua content yang disajikan adalah informasi-informasi sesuai fakta. Berita-beritanya pun menginspirasi dan memotivasi.

Ajang itu pun bisa menjadi sarana edukasi bagi para kawula muda (pelajar) untuk menyampaikan informasi yang tepat, akurat, dan benar. Sehingga tak hanya ekspresif dan kreatif, ada optimisme ke depan mereka menjadi penyampai informasi yang jujur dan benar. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia