Rabu, 24 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Features

Anas Ainur Rahman, Balita Penyintas Kanker Neuroblastoma

Dulu, Tiga Minggu Sekali Harus Kemoterapi

28 Februari 2019, 19: 07: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

anas ainur neuroblastoma

MENTARI: Anas Ainur Rahman (dua dari kanan) bersama orang tua dan kakaknya kemarin (27/2). Kesembuhan Anas menjadi cahaya bagi keluarganya. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Pasangan Slamet Pujianto dan Siti Nurhayati mendapat ujian berat saat anak bungsunya terkena kanker langka. Berkat keteguhan hati, ujian tersebut dapat mereka lewati.

ANDHIKA ATTAR

Anas Ainur Rahman sedang asyik bermain dengan kakaknya Adan Bima Maulana. Kedua bocah itu berlarian riang di dalam ruang tamu. Mereka bermain kejar-kejaran. Dengan santai, Anas berlari telanjang kaki. Menikmati permainan sederhana dengan kakaknya. Terlihat keakraban di antara keduanya.

Sekilas suasana rumah di Dusun Cakruk, Desa Tales, Ngadiluwih itu sama saja seperti kebanyakan rumah lainnya. Tidak ada perbedaan berarti jika diamati. Tetapi siapa sangka rumah sederhana dengan lantai yang belum jadi itu menyimpan berjuta cerita.

Keluarga kecil Slamet Pujianto dan Siti Nurhayati tersebut telah merasakan naik-turunnya kehidupan. Mengarungi biduk rumah tangga pada 2007 silam, ujian berat diterima setelah satu dasawarsa kemudian.

Kala ujian itu terjadi, hati Siti benar-benar hancur. Ibu muda tersebut harus mendapati kenyataan pahit dalam hidupnya. Dokter memvonis Anas, anak bungsunya terkena kanker. Belum lagi, kanker yang menyerang buah hatinya tersebut tergolong langka.

“Sejak hamil Anas hingga dia umur dua tahun semuanya normal. Suatu ketika saat ia tidur, saya usap perut bagian kirinya terasa ada benjolan. Saya curiga, besoknya langsung saya bawa ke rumah sakit,” cerita perempuan kelahiran 1989 tersebut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan ultrasonography (USG), Anas harus dirujuk ke RS Dr Soetomo Surabaya. Dari situlah awal mula Siti bersama Slamet mengetahui kondisi sebenarnya dari sang buah hati. Satu vonis yang sangat berat didengarkan oleh telinga orang tua manapun di dunia ini. Anas divonis mengidap kanker neuroblastoma. Saat itu, usianya baru menginjak dua tahun. Sebuah pukulan berat bagi perempuan asli Kediri tersebut.

Neuroblastoma sendiri berkembang dari neuroblast atau sel-sel saraf yang belum matang pada anak-anak. Salah satu yang efeknya adalah adanya benjolan berupa tumor padat.

Kanker ini sering terjadi pada salah satu kelenjar andrenal di atas ginjal atau pada jaringan saraf tulang belakang. Sama seperti kasus yang dialami oleh Anas, benjolan tersebut berada perut bagian kiri. Benjolan itu sendiri berada di sekitar ginjalnya. Menekan ginjal Anas hingga mengalami pembengkakan.

Slamet mengaku sudah tidak memikirkan apa pun saat itu. Di kepalanya hanya ada pikiran bagaimana Anas bisa sembuh. Meskipun tidak ada biaya dan nantinya bakal seperti apa Slamet tidak peduli.

“Yang penting berobat dulu. Kalau memikirkan biaya malah tidak berobat-berobat. Takut duluan dengan biayanya. Alhamdulillah ada saja rezeki untuk berobat Anas,” kenang Slamet.

Bocah yang kini berumur 4 tahun tersebut harus menjalani berbagai perawatan medis. Salah satunya adalah kemoterapi. Selama tiga minggu sekali mereka harus berangkat ke Surabaya untuk berobat. Pengobatan itu pun harus dijalaninya selama 1,5 tahun lamanya.

Perjalanan ke Surabaya ditempuhnya dengan kereta api. Menurutnya moda transportasi itu lebih terjangkau biayanya. “Ayo le numpak sepur nang Suroboyo (Ayo, nak, naik kereta api ke Surabaya, Red),” bujuk Slamet saat mengajak sang buah hatinya.

Bertiga mereka berangkat ke Surabaya setiap kemoterapi. Sedangkan Adan dititipkan kepada nenek di rumahnya. Beruntung rumah kedua orang tua Slamet dan Siti tidak terlalu jauh. Sehingga bisa dimintakan pertolongan menjaga Adan.

Tidak hanya kemoterapi, Anas juga menjalani operasi pengangkatan tumor. Beruntung operasi tersebut dapat berlangsung secara lancar dan sukses. Hingga tumor di perut Anas dapat terangkat total.

Hanya saja, ginjal Anas yang selama ini tertekan oleh tumor tersebut masih mengalami pembengkakan. Secara kasat mata, sejatinya tidak ada perbedaan berarti jika dilihat fisik Anas. Kini, bocah tersebut masih harus menjalani kontrol setiap bulannya.

Slamet yang bekerja sebagai penjual ikan lele, per harinya hanya mendapatkan sekitar Rp 40 – 50 ribu. Sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan biaya pengobatan sang anak. Selain menggunakan asuransi BPJS, ada saja orang yang membantunya untuk biaya berobat Anas. Jika ditotal semua pengeluarannya, hampir satu miliar rupiah untuk pengobatan si bungsu.

Dalam ujian tersebut, Slamet dan Siti saling menguatkan. Cinta mereka diuji kala itu. Cobaan tersebut dapat dilaluinya dengan baik. Bahkan ujian tersebut dirasakan semakin mempererat mereka sebagai sebuah keluarga. Cinta kasih mereka menebal seiring ujian dan cobaan.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia