Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Ketika Satu Keluarga Pertahankan Keahlian Pijat Sangkal Putung

Tiga Generasi, Menyebar di Tiga Desa

26 Februari 2019, 13: 28: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

PIJAT TULANG: Adin memijat seorang pasien yang mengalami dislokasi tulang, di rumahnya, di Desa Turus, Gampengrejo.

PIJAT TULANG: Adin memijat seorang pasien yang mengalami dislokasi tulang, di rumahnya, di Desa Turus, Gampengrejo. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Garis silsilah keluarga ini diwarnai dengan orang-orang yang ahli dalam pemijatan. Berawal dari kakek, kemampuan pijat untuk persoalan tulang itu juga dikuasai anak cucunya. Mereka bertekad terus menjaganya.

IQBAL SYAHRONI

Lahan yang ditempati rumah di Desa Turus, Gampengrejo, Kabupaten Kediri itu tergolong luas. Halamannya cukup untuk menampung beberapa mobil. Di siang yang terik itu misalnya, ada lima mobil yang terparkir di halaman.

Rumah induknya juga besar. Memiliki belasan kamar. Berderet-deret. Masing-masing kamar berukuran sekitar 2 x 4 meter. Cukup untuk menampung satu tempat tidur kecil lengkap dengan kasurnya. Juga bisa menampung empat penunggu atau pengantar pasien.

Pasien? Ya, kamar-kamar itu memang untuk tempat pasien. Tepatnya, pasien pijat di tempat praktik milik keluarga H Chozin. Tapi bukan pijat sembarang pijat. Melainkan pijat sangkal putung. Pijat yang dikhususkan untuk membenahi tulang-tulang yang mengalami cedera atau kelainan.

Di tempat pijat itu terapisnya tak hanya H Chozin saja. Ada tiga lagi yang juga berpraktik sangkal putung. Hebatnya, semuanya masih terkait keluarga. Selain Chozin, juga dua anaknya yang bisa melakukan pijat sangkal putung. Kemudian, juga salah satu menantu dari Chozin, Adin Eko Purnomo. Bahkan, kalaupun masih kuat, istri Chozin pun bisa memijat.

Justru dari garis istri Chozin, Hj Siti Khotijah, itulah awal mula galur keahlian pijat itu bermula. Yaitu dari ayah Siti Khotijah, H Syarief. “Kakek saya adalah salah seorang pemijat sangkal putung terkenal di Kediri,” terang Siti Khalifa, anak kedua Chozin.

Masih menurut Ifa, panggilan Siti Khalifa, kakeknya memiliki 10 anak. Dan hebatnya, semua juga memiliki kemampuan pijat sangkal putung. Dan, semuanya juga berpraktik sangkal putung pula. Bila dihitung hingga saat ini, berarti sudah tiga generasi yang mempertahankan keahlian itu.

“Awalnya (pijat ini) malah dari (Dusun) Gilang, (Desa) Plosorejo (Kecamatan Gampengrejo). Karena Mbah dulu tinggalnya di sana,” terang Ifa.

Hingga saat ini ada enam anak Mbah Syarief yang meneruskan bakat memijat itu. Keenamnya membuka tempat pijat sangkal putung sendiri-sendiri. Tiga di Desa Plosorejo, Dua di Turus, dan Satu di Jongbiru.

Ifa menjelaskan bahwa awalnya kakeknya adalah petani. Singkat cerita, Syarief berupaya belajar menguasai ilmu sangkal putung dari seorang guru di Jawa Barat. Perjuangannya mendapatkan keahlian itu juga tidak mudah. Harus melalui perjalanan panjang yang penuh laku  tirakat.

Kemampuan itu kemudian diturunkannya kepada anak-anaknya. Seperti yang diakui oleh H Syafarudin, anak lelaki Syarief yang membuka praktik di Dusun Gilang. Menurut Syafarudin, saat kecil dia sering ikut ayahnya memijat.

Syafarudin bercerita, ayahnya membuka praktik memijat sejak 1960-an. Sementara dia mulai memijat pada awal 1991. Masih membantu, atau bergantian dengan sang ayah. “Awalnya bepergian, mengobati petani-petani yang keseleo. Kalau bapak istirahat, saya yang menggantikan,” paparnya.

Baru pada 2001 Syafarudin mulai berpraktik sendiri. Tepatnya usai sang ayah wafat. Pasien yang dia tangani sudah tak terhitung. Ada yang sembuh cepat, ada juga yang memakan waktu lama. "Saya hanya bisa menolong. Yang memberi kesembuhan tetap Yang Maha Kuasa," ujar pria 53 tahun itu.

Dalam memberi pelayanan pijat, Syafarudin tak pernah mematok tarif. Itu dia lakukan sesuai amanat sang ayah. Sebab, tujuan utama memijat adalah membantu sesama. Menolong yang kesusahan.

Karena itu pula mereka tak pernah mengiklankan diri. “Dari zaman dahulu selalu melalui mulut ke mulut. Tidak pernah promosi atau mengiklan. Kesannya nanti dicap jemawa karena bisa memijat, dan mempromosikan keahlian tersebut,” terangnya.

Setelah berbincang, Syafarudin kembali beraktivitas seperti biasa. Sarung dan kopiah masih dipakainya seusai pulang salat Duhur. Ia juga baru saja selesai memijat seorang yang datang dari Madiun. Yang mengeluh keseleo. Memang, pasien mereka banyak yang datang dari luar kota. Termasuk ada yang menginap pula. (fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia