Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

-- Hati-Hati --

24 Februari 2019, 19: 54: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh: Andhika Attar

Oleh: Andhika Attar

Share this          

Ratusan desa di Kabupaten Kediri sedang disibukkan dengan agenda pengisian perangkat. Hal itu terjadi karena telah lama ada kekosongan beberapa lowongan perangkat yang ada. Kebetulan, tahun ini ratusan desa yang kekurangan perangkat tersebut menggelar seleksi untuk mengisi kekosongan jabatan yang ada.

    Berbagai lowongan pun dibuka oleh pemerintah desa. Masing-masing desa tidak selalu sama kebutuhannya. Ada yang hanya kosong satu lowongan. Namun ada juga desa yang mengalami kekosongan hingga tujuh buah lowongan.

Lowongan yang dibuka pun ada bermacam-macam. Mulai sekretaris desa, kepala urusan, kepala seksi dan kepala dusun. Tergantung kebutuhan dari masing-masing desa.

Melihat banyaknya lowongan kursi staf desa yang kosong, ada satu hal miris sebenarnya. Di satu sisi pemerintahan desa dituntut untuk bisa memberikan pelayanan prima oleh masyarakat. Tetapi di sisi lain roda atau ban penggeraknya sendiri sedang ada kebocoran.

Lalu bagaimana bisa kendaraan bernama desa tersebut melaju kencang dengan ban yang bocor. Sekalipun desa tersebut memiliki mesin yang besar tetap akan lambat pula jika bannya bocor. Tetap akan bisa berjalan sebenarnya, namun akan ada yang dikorbankan. Entah itu bannya akan semakin rusak atau pantat dari pengendaranya yang merasa tidak nyaman.

Analogi kekosongan dan kebocoran itulah yang sekarang sedang ditambal. Ratusan desa pun mulai menggelar pengisian perangkat di bulan-bulan awal tahun ini. Dengan harapan agar kekosongan perangkat tersebut segera dapat di atasi.

Pengisian perangkat desa sekarang dijalankan secara mandiri oleh tim dari desa itu sendiri. Hanya saja tetap dilakukan kerja sama dengan pihak ketiga. Yaitu dengan pihak perguruan tinggi yang memiliki akreditasi minimal B. Pihak ketiga ini bertugas membuat soal untuk seleksi kandidat perangkat tersebut.

Tim pengangkatan perangkat desa (TPPD) memiliki beban besar yang diemban di pundaknya. Melakukan pengisian perangkat di mana pesertanya adalah tetangga bahkan saudara sendiri tentu memiliki kesan tersendiri. Tantangannya adalah TPPD harus bisa mengedepankan independensi.

Sejatinya, setiap pengangkatan, entah apa pun itu bentuk dan pelaksananya sangatlah rawan mendapatkan serangan. Terlepas itu karena memang ada indikasi kecurangan maupun hanya hembusan isu negatif belaka.

Tidak bisa kita pungkiri, untuk pemilihan jabatan politis pasti akan melibatkan pusaran uang di dalamnya. Praktik politik uang masih saja kita lihat, rasakan, endus bahkan kita alami.

Jika kita lihat ke belakang, peran penyokong dana juga memiliki andil tersendiri atas terpilihnya salah seorang dengan jabatan politis. Tak asing pula di telinga kita dengan istilah botoh. Keberadaannya bisa kita rasakan, tetapi tak jarang kita tidak bisa melihatnya secara nyata. Layaknya hantu dari masa lalu.

Banyak mata yang akan menaruh perhatian pula dalam pengangkatan perangkat desa ini. Tidak hanya dari peserta sendiri, warga lainnya yang tidak mengikuti seleksi tersebut akan tetap menaruh perhatian. Hanya saja mungkin kadarnya yang akan berbeda-beda.

Ada salah satu ketua TPPD yang saya temui beberapa hari yang lalu. Pria tersebut mengaku sangat berhati-hati dengan setiap tahapan yang dilakukan. Setiap fase, ia berusaha menjalaninya sebaik mungkin. Bahkan untuk persyaratan dan berkas saja ia mengaku melakukan dua kali pengecekan terhadapnya. Demi sebuah kehati-kehatian.

Hal itu dilakukannya karena ia sadar betapa besarnya potensi konflik yang bisa terjadi ke depannya. Yaitu apabila ada kandidat yang merasa dirugikan atau dicurangi oleh panitia. Ia sangat memahami potensi kerawanan tersebut. Oleh karenanya ia berusaha sebisa mungkin untuk amanah dengan tugasnya.

Di zaman seperti sekarang, perlu diingat bahwa peran teknologi sudah merambah pelosok-pelosok. Kecepatan informasi sangat berbeda jauh dengan dahulu kala. Sehingga tidak hanya mata warga yang akan mengawasi. Tidak menutup kemungkinan perangkat kamera juga akan menjadi saksi. Entah itu foto atau video dari gawai sudah banyak dikuasai warga.

Belum lagi dengan adanya potensi berita hoax yang disebarkan oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab. Bisa saja dari kandidat yang kalah memberikan sebuah umpan lambung sebuah kebohongan. Kita semua harus lebih waspada dengan adanya potensi tersebut.

Di lain sisi, cerita-cerita usang nepotisme harus segera disingkarkan. Jangan hanya karena kerabat lalu diangkat. Padahal wawasan dan kemampuan nol besar. Warisan usang yang harus segera dibuang.

Di zaman sekarang, berbuat positif saja bisa mendapat cibiran. Apalagi jika ketahuan berbuat curang. Semoga ia beserta semua panitia lain di desa manapun bisa melakukan itu. Menjalankan pengangkatan perangkat sebaik mungkin. Sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri yang bertugas di Kabupaten Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia