Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
Tauhid Wijaya

Ke Offline Juga

17 Februari 2019, 15: 20: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

Tauhid Wijaya

Tauhid Wijaya

Share this          

Anak muda itu begitu antusias. Khas generasi milenial. Baru tamat SMA memang. Tapi, sudah punya usaha. Jualan sepatu. Jualan lemari. Di tokonya. Yang seluas layar HP itu. Konsumennya datang dari mana-mana. Luar kota. Luar provinsi. Luar pulau. Seantero Nusantara.

“Sinau begini ini sudah lama,” kata dia. Sejak masih sekolah.

Generasi milenial, sejak kanak-kanak, mainannya sudah gadget. Maklum. Makanya, penjelajahannya di dunia maya sudah sangat jauh. Setiap lorongnya sudah ia masuki. Barangkali. Meski, setiap saat pula muncul lorong-lorong yang baru. Yang kelak, umurnya tak mampu lagi merambahi setiap sudutnya.

Tokonya yang hanya seluas layar HP itu mampu mewadahi berapa pun barang yang dia jual. Dalam bentuk gambar. Foto. Kadang juga film. Video. Barang fisiknya sendiri bisa dia taruh di sudut kamar. Satu, dua, atau tiga. Tidak lebih dari sepuluh. Karena kamarnya yang tidak luas, jelas tidak akan mampu menampungnya.

“Barangnya ada di mana-mana,” ujarnya. Masih di gudang milik orang. Di toko milik orang. Atau, di mana saja tempat yang memungkinkan barang itu disimpan. “Alhamdulillah, sudah lumayan menghasilkan,” katanya. Bangga. Setidaknya mampu membiayai kebutuhan jajannya sendiri.

Internet memang menjadikan dunia ini lebih luas. Membuka ruang-ruang baru. Yang tidak hanya terbatas pada bulatnya bumi. Yang mampu menampung berapa pun material yang dimasukkan ke sana. Dalam bentuk data. Tulisan. Gambar. Suara.

Karenanya, anak-anak muda seperti itu bisa jualan apa saja di tokonya. Meja, kursi, sepatu, pakaian, makanan, obat-obatan, kendaraan, rumah, tanah, apa saja. Semua cukup ditempatkan di layar HP. Dengan syarat mengubah bentuk barang jualannya itu. Dari tiga dimensi menjadi dua dimensi.

Inilah yang dituding menjadi penyebab sepinya pusat-pusat perbelanjaan. Dan, diramalkan akan membunuh, mematikan, toko-toko fisik. Sejak kemunculan pertamanya. Bertahun-tahun lalu. Padahal, toko-toko offline tetap saja ada. Sampai sekarang. Mal, swalayan, demikian juga. Memang, ada yang tutup. Gulung tikar. Tapi, itu bukan disebabkan oleh banyaknya yang jualan online. Tapi, karena pengelolanya yang tidak mampu menarik perhatian orang untuk datang.

Lihat saja di kota ini. Borobudur, Golden, Kediri Mall, Ramayana, Ketos, toko-toko di sepanjang Jalan Dhoho, Jalan Pattimura, Jalan Yos Sudarso, semua masih berdiri tegak. Beraktivitas. Penurunan omzet barangkali ya. Ada. Tapi, kemampuan para pengelolanya untuk membuat orang datang menyebabkan mereka tetap bertahan.

Toko, warung, atau usaha apapun: buka, tutup, dan gulung tikar adalah fenomena yang sudah ada sejak dulu. Sejak zaman internet belum lahir. Sejak zaman jualan online belum semarak. Mereka yang bertahan selalu mereka yang mampu beradaptasi dengan zaman.

Bisnis memang selalu dinamis. Sebuah kesadaran yang memang musti tertanam dalam-dalam pada diri setiap pelakunya. Pun demikian pada diri anak muda itu. Pelaku bisnis online itu. “Ya, kadang cepat laku. Kadang lamaa.. sekali baru laku,” akunya.

Yang penting, kata anak muda itu, “Ditelateni saja. Jangan buru-buru menyerah.” Apalagi bagi pelaku bisnis seperti dia. Yang kelasnya masih pemula. Yang hasilnya belum seberapa. Yang ternyata pula, dia tetap punya cita-cita. Untuk mengembangkan bisnisnya. Jualannya. Tokonya. Agar tidak sekadar online. Tapi juga offline. Yang justru menjadi cita-cita besarnya. “Saya ingin punya toko yang sebenarnya. Agar orang bisa datang langsung untuk melihat-lihat barang dagangan saya.”

Ya, toko offline. Toko yang sebenarnya. Yang bisa mewadahi barang dagangannya. Dalam bentuk sebenarnya pula. Yang tiga dimensi. Yang bisa diraba. Yang bisa dicoba. Ke sanalah konsumennya bisa datang untuk mengecek, memilih, membandingkan langsung barang dagangannya. Tanpa khawatir merasa tertipu. Oleh gambar-gambar yang hanya bisa dilihat. Tanpa bisa diraba. Apalagi dicoba.

Jadi, jika sudah begini, masih layakkah online dianggap sebagai ancaman? Dunia selalu berbagi. Terlalu luas untuk ditempati sendiri. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia