Minggu, 26 May 2019
radarkediri
icon featured
Features

Wahyu Setiawan, Korban Tewas akibat Penganiayaan di Mojoroto

Terkenal Baik dan Berteman dengan Siapa Saja

16 Februari 2019, 13: 47: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

korban pembunuhan mojoroto

BANYAK TEMAN: Wahyu Setiawan semasa hidup. Dia dikenal supel dan mudah bergaul.

Selama ini Wahyu tidak pernah punya masalah dengan siapa saja. Pemuda itu juga dikenal ramah di lingkungan Kelurahan Dermo, Mojoroto. Tapi, guratan nasibnya menetapkan dia harus mengakhiri hidup dengan tragis. Tewas karena sayatan pisau.

IQBAL SYAHRONI

Suasana duka masih menyelimuti kediaman Sadiyat siang kemarin. rumah di Kelurahan Dermo, Mojoroto, Kota Kediri itu baru saja kehilangan salah seorang anggota keluarganya. Beberapa kerabat terlihat sibuk membungkus makanan ringan. Sebagai penganan yang dibawa pulang oleh tetangga yang datang mendoakan Wahyu Setiawan. Wahyu adalah putra Sadiyat yang meninggal dalam perkelahian.

Suasana duka makin kental karena hujan yang turun dari langit. Titik-titik air itu bergantian jatuh di tenda yang terpasang di depan rumah. Di bawah tenda, kursi plastik biru sudah tertata sebagian. "Acaranya (pengajian, Red) dimulai sehabis Maghrib," ujar Sadiyat.

Di tengah persiapan pengajian itu, Sadiyat terlihat masih dalam keadaan berduka. Anak sulungnya yang berumur 27 tahun ini meninggal dengan luka di leher dan wajahnya. Semuanya terjadi begitu cepat. Sadiyat tidak mengira akan mendengar kabar dari teman Wahyu bahwa anak laki-lakinya dibawa ke Rumah Sakit (RS) Muhammadiyah Ahmad Dahlan, Rabu (13/2) malam dalam keadaan luka parah.

Sadiyat menjelaskan, sebelum kejadian tak ada sesuatu yang aneh. Sepulang kerja di Warujayeng, Wahyu juga bertingkah biasa. "Pulang ke rumah ganti baju lalu pamitan. Seperti biasanya kalau keluar selalu pamit," imbuhnya.

Wahyu memang memiliki kebiasaan selalu berpamitan meminta izin ke orang tuanya jika ingin keluar. Sama seperti malam itu. Orang tua Wahyu tidak memiliki firasat apa apa. "Wahyu juga suka membantu teman temannya, tidak peduli pagi sampai malam. Jika Wahyu bisa menyanggupi, ya langsung saja menolong temannya," terangnya.

Orang tua Wahyu pun tidak mengerti masalah apa yang menimpa anaknya.  Kenapa ada orang yang tega menganiaya anaknya hingga meninggal dunia. Pasalnya, Wahyu juga dikenal bukanlah orang yang suka memulai masalah dengan orang lain.

Sadiyat dan istrinya yang menemani Wahyu dari saat dirawat di RS Muhammadiyah. Hingga dipindahkan ke RS Gambiran. Sadiyat menjelaskan, Saat di Muhammadiyah alat untuk scan tidak ada. Sementara lukanya cukup parah.

Hingga anaknya mengembuskan nafas terakhirnya, Sadiyat bersama dengan istrinya terus menemani. Mereka tak kuasa menahan kesedihan yang teramat dalam. Mereka juga sudah memasrahkan agar kejadian yang menimpa anaknya ditangani dengan pihak kepolisian dengan seadil-adilnya.

Sore saat Jawa Pos Radar Kediri berpamitan, hujan pun turun. Seakan menambah tebal duka yang menyelimuti rumah tersebut.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia