Selasa, 18 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Syahrial Zaki, Bocah yang Jadi Korban Keganasan Demam Berdarah Dengue

Saat Sedang Dirawat pun Masih Rajin Salat

14 Februari 2019, 16: 54: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

DALAM KENANGAN: Zaki (depan) semasa hidupnya saat berfoto dengan kakak dan orang tuanya.

DALAM KENANGAN: Zaki (depan) semasa hidupnya saat berfoto dengan kakak dan orang tuanya.

Share this          

Zaki adalah satu dari belasan korban meninggal dunia karena demam berdarah di Kabupaten Kediri pada tahun ini. Meski merasa kehilangan, keluarganya mengaku sudah berusaha mengikhlaskan.

ANDHIKA ATTAR

Siang kemarin sangat terik. Panas matahari terasa menyengat di kulit. Namun, itu seperti tak menggoyahkan seorang lelaki yang beraktivitas di gudang penggilingan padi di Dusun Jatisari, Desa Krenceng, Kepung, Kabupaten Kediri.

Syahrial Zaki, bocah yang jadi korban DBD.

Syahrial Zaki, bocah yang jadi korban DBD.

Sengatan hawa panas seperti tak terasakan. Bertelanjang dada, lelaki bernama Mujito Muhammad Ichwan itu merapikan karung-karung berisi beras. Tubuhnya berselimut sekam halus limbah dari penggilingan.

Pekerjaan itu sudah biasa dia lakukan. Sudah makanannya sehari-hari. Dan, saat ini bahkan ada sesuatu yang baru yang membuat lelaki berambut putih itu berusaha menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Berusaha melupakan kenyataan hidup bahwa dia baru saja ditinggal pergi untuk selamanya oleh anak bungsunya, A. Syahrial Zaki. Buah hati Mujito dengan Sri Mulyani itu meninggal Selasa (12/2) pagi. Setelah menjadi korban keganasan DBD.

Di pabrik penggilingan padi tersebut Mujito hanyalah seorang pekerja. SEmentara dia tinggal dan menetap di satu bangunan sederhana yang masih di area pabrik. Sudah 11 tahun ia menempati bangunan tersebut bersama keluarganya. Tepatnya sejak Zaki berusia tiga bulan. Keseharian keluarga sederhana ini pun dihabiskan lingkungan pabrik tersebut. Termasuk dengan Zaki kecil.

Bocah kelahiran 2007 silam tersebut dikenal sebagai bocah yang baik dan penurut. Terutama kepada kedua orang tuanya. Mujito dan istri bak kehilangan salah satu permatanya. “Salat lima waktunya rajin dia (Zaki, Red). Kalau belum salat isya, tengah malam pasti bangun untuk salat,” kenang Mujito, dengan mata berkaca-kaca.

Pria kelahiran 1965 silam itu seringkali dibangunkan Zaki. Yang memintanya  untuk menemani mengambil air wudu. Setelah itu, Mujito juga akan diminta menunggui hingga salat isya selesai dilakukan.

Beberapa hari sebelum kepergiannya, Zaki juga sempat meminta hal serupa kepada sang ayah. Menemani mengambil wudu dan salat isya. Namun kala itu, Mujito sedang ingin bercanda dengan sang buah hati.

“Waktu wudu di sebelah saya temani. Tetapi waktu salat isya saya goda tidak saya temani. Tapi ternyata dia juga ndak nyari-nyari dan tetap salat. Mungkin dia sudah terasa kalau sudah dekat waktunya,” tuturnya sembari menundukkan kepala.

Di mata orang tuanya, Zaki dinilai sebagai anak yang rajin salat. Entah ada kepentingan lain, pasti akan dikesampingkan jika belum salat. Bahkan pada saat menjalani perawatan intensif di rumah sakit pun ia tetap tidak meninggalkan salatnya.

“Senin subuh saya bawa ke RS Vita Medika (Kepung). Setelah diinfus, Zaki sempat bingung kalau belum mandi dan salat subuh. Padahal kondisinya sudah kritis tapi dia masih ingat salat,” ganti sang bunda menimpali.

Kebiasan tersebut memang telah dibiasakan sedari dini oleh orang tuanya. Sehingga saat sudah besar, sudah menjadi kebiasaan. Bahkan kebutuhan untuk anak-anaknya. Mujito dan istri pun tidak perlu lagi susah payah menyuruh salat atau mengaji kepada anaknya. Mereka sudah tanpa diperintah sadar apa kewajibannya.

Di sekolah pun ia dikenal sebagai murid yang baik. Nilai pelajarannya pun diklaim sang Ayah sangat memuaskan. Beberapa kali Zaki mendapatkan nilai sempurna pada saat ujian. Mujito bercerita bahwa suatu ketika Zaki bercerita kalau dapat nilai 25. Sang Ayah pun sedikit gemas, kok bangga sekali dengan nilai seperti. “Tapi 25-nya dikali empat Yah,” kenang Mujito menirukan jawaban dari Zaki.

Bocah kelas 5 SD itu juga dinilai sebagai pribadi yang mudah bergaul dan banyak temannya. Hampir bisa dipastikan sepulang sekolah ia hanya akan beristirahat sebentar dan makan siang. Tak lama setelahnya, Zaki sudah bermain dengan teman-temannya.

Namun sikap berbeda ditunjukkannya pada Kamis (7/2) lalu. Sepulang sekolah Zaki langsung rebahan di kamar. Tanpa menyentuh makanan sedikit pun. Padahal biasanya Zaki sangatlah lahap kalau makan. Apalagi saat sang Ibu membuatkan soto ayam. Hari itu, gejala dari DB sudah mulai menjangkitinya.

Mujito dan istri mengaku sangat kehilangan dengan kepergian si bungsu untuk selamanya. Tetapi mereka berusaha mengikhlaskan hal tersebut. Mereka sadar, apa yang sudah digariskan Tuhan tidak bisa manusia tawar. Cinta dan kasih untuk Zaki kini akan mereka wujudkan dalam bentuk doa.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia