Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

-- Tumpangis --

14 Februari 2019, 16: 49: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

Sego Tumpang

Sego Tumpang

Share this          

Manusia adalah makhluk yang multikompleks. Multidimensi. Bisa menjadi apa saja. Bisa dipandang sebagai apa saja. Ruwet. Seruwet serabut-serabut otot, saraf, dan organ di dalam tubuhnya. Makanya, memandangnya hanya dalam satu dimensi, kita bisa salah.

Sebab, manusia bukan sekadar tubuh wadag. Yang bisa diindera oleh manusia lainnya. Tapi, dia juga jiwa. Pikiran. Nafsu. Akal budi. Yang pergerakannya, perubahannya, lebih cepat dibanding tubuh wadag-nya. Naik-turun. Bergejolak. Terus menerus. Seperti banyu umup, kata Al Ghazali dalam Ihya’-nya.

Dia bisa tiba-tiba pelit. Bisa tiba-tiba loman. Bisa tiba-tiba menangis. Bisa tiba-tiba tertawa. Bisa tiba-tiba malas. Bisa tiba-tiba rajin dan keras bekerja. Bisa tiba-tiba ramah. Bisa tiba-tiba marah. Bisa tiba-tiba baiiik sekali. Bisa tiba-tiba jahat.

Kemendadakan-kemendadakan itulah yang menandakan gejolak yang tak pernah berhenti pada diri manusia. Yang menandakan kompleksitasnya sebagai manusia. Dia bisa menjadi kapitalis. Tapi, juga sekaligus sosialis. Dia bisa menjadi jabbariyah. Tapi, juga sekaligus qadariyah. Dan, dia bisa menjadi seorang nasionalis. Tapi, juga sekaligus agamis. Religius.

Nasionalis-religius. Religius-nasionalis. Itu bisa menyatu dalam diri seorang manusia sekaligus. Makanya, menuduh seorang nasionalis sebagai tidak agamis dan sebaliknya, seorang agamis tidak nasionalis, bisa keliru.

Apalagi, tesis santri-abangan-priyayi yang diunggah Geertz sudah lama basi. Priyayi yang merupakan kelas sosial, dari dulu bisa berasal dari kaum santri maupun abangan. Sementara, yang santri maupun abangan sudah lama nge-blend. Batasnya makin tipis, atau justru malah sudah tiada.

Wong Bung Karno yang tokoh Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dan menjadi simbol kaum nasionalis itu rajin salat malam. Wong Moh. Natsir yang pendiri Majelis Syura Muslimin (Masyumi) itu pejuang kemerdekaan. Wong NU dan Muhammadiyah yang ormas Islam itu melahirkan para pahlawan. Wong Tjokroaminoto, bapak asuh tokoh-tokoh nasional kemerdekaan republik ini, adalah seorang nasionalis-agamis yang bahkan keturunan Kiai Hasan Besari.

Nasionalis. Agamis. Kapitalis. Sosialis. Bisa menjadi satu pada diri manusia. Berganti-ganti. Saat bekerja keras untuk mengumpulkan modal, dia bisa menjadi seorang kapitalis. Saat mendermakan hartanya kepada yang berhak, dia bisa menjadi sosialis. Saat mempertahankan, membangun, dan memperbaiki negaranya dia bisa menjadi nasionalis. Saat melakukan itu semua, dia bisa menjadi seorang yang agamis.

Karena agama tidak semata mengajarkan ritual. Tapi, juga mengajarkan itu semua. Bekerja keras. Peduli sesama. Mencintai bumi yang dipijak. 

Makanya, waktu barisan lincak sebelah lor menuduh barisan lincak sebelah kidul sebagai tidak nasionalis dan begitu pula sebaliknya kubu kidul menuduh kubu lor sebagai tidak agamis, ketenangan di warung sego tumpang segera terusik. Yang agamis menuduh yang nasionalis tidak agamis. Yang nasionalis menuduh yang agamis tidak nasionalis.

“Mereka akan menjauhkan negara dari kehidupan agama!”

“Mereka akan mengubah negara menjadi hanya berdasar satu madzhab, satu agama!”

Geger. Kasak-kusuk. Yang dituding jelas sama-sama tidak terima. Wong yang dituduh hendak menjauhkan negara dari kehidupan agama itu, tiap hari tetap rajin beribadah dan menggelar acara-acara bernuansa agama. Sementara, yang dituduh hendak mengubah negara menjadi satu agama, tiap hari juga boloan bahkan bekerja sama dengan warga lain yang lintas-agama.

Untunglah lincak lor dan lincak kidul dipisahkan oleh meja Mbok Dadap. Yang hanya mesam-mesem melihat keributan mereka. Yang satu merasa paling nasionalis. Yang satu merasa paling agamis. Hanya setelah membaca satu-dua narasi dari media sosial. Itu pun ndak tutug. Tapi, sudah disebar-sebar ke yang lain.

Mbok Dadap apal kecepal. Itu hanya keributan tiap pagi saat sama-sama antre. Dan, dia sudah tahu cara untuk menghentikannya.

“Kowe nganggo trasi dele ora?”

“Kae ndoge dadar apa ceplok?”

“Ra sah kakehan omong. Lek kurang njupuk dewe-dewe..”

Begitu katanya sambil membagi-bagikan sepiring nasi lengkap dengan peyek, tahu, tempe, trasi dele, dan kulupan yang diguyur sambel tumpang.

Begitu piring-piring itu sudah di hadapan kubu lor atau kidul, semua langsung diam. Menghentikan keributannya. Dengan membikin keributan baru: denting sendok beradu piring, kriuk rempeyek, dan suara kecap mulut.

Mbok Dadap tau, mereka semua nasionalis. Mereka semua juga agamis. Dan, satu ini yang pasti mempersatukan mereka di warungnya: mereka semua tumpangis! (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia