Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Banjir Terjang Empat Kecamatan di Nganjuk

Plengsengan dan Jembatan Ambles

12 Februari 2019, 16: 47: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

banjir

MENERJANG BANJIR: Warga Desa Jetis, Pace nekat melewati jalan yang tergenang air bah dari sungai Bodor, Minggu (10/2) malam lalu. Beruntung, air tidak sampai masuk ke pemukiman warga. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK - Hujan lebat yang terjadi sejak pukul 15.30 Minggu (10/2) sore lalu membuat sungai Kuncir dan sungai Bodor yang berhulu di gunung Wilis meluap. Akibatnya, sepuluh desa di empat kecamatan di Nganjuk pun terkena luapan air bah. Sebagian masuk ke perkampungan.

          Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, di Kecamatan Nganjuk, air bah menggenangi sebagian rumah warga di Kelurahan Ganungkidul. Kemudian, di Kecamatan Pace, total ada lima desa yang terkena banjir. Mulai Desa Batembat, Banaran, Kecubung, Jetis dan Plosoharjo.

sampah

TUNGGU PERBAIKAN: Personel TNI bersama tagana dan warga membersihkan sampah dari jembatan di Desa Suru, Kecamatan Ngetos ambrol setelah air bah menerjang bangunan baru itu, Minggu sore lalu. (Rekian - radarkediri.id)

          Air bah juga menggenangi tiga desa di Ngetos. Selain Desa Ngetos, air juga meluap di Desa Mojoduwur dan Suru. Demikian juga di Desa Cepoko, Kecamatan Berbek. “Total ada 17 rumah yang terendam akibat banjir,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Nganjuk Soekonjono.

          Sebanyak 14 rumah warga ada di Desa Cepoko, Berbek. Kemudian, tiga rumah warga lainnya yang terendam ada di Kelurahan Ganungkidul. Tiga rumah di Kota Nganjuk itu menurut Soeko terendam karena tanggul sungai Kuncir di dekat rumah mereka ambrol.

          Setelah tanggul sepanjang enam meter dan ketinggian dua meter itu ambrol, air bah langsung masuk ke rumah warga. “Selain masuk ke rumah, air juga merendam areal pertanian,” lanjut Soeko sembari menyebut hingga kemarin tanggul yang jebol itu belum diberi penahan.

          Adapun di delapan desa lainnya, menurut Soeko air tidak masuk ke perkampungan. Melainkan, meluap ke jalan-jalan desa. “Mengganggu arus lalu lintas,” terangnya.

          Sementara itu,  Yanti, 45, warga Desa Jetis, Pace mengungkapkan, banjir di desanya terjadi setiap tahun. “Biasanya air masuk ke dalam rumah, sekarang sudah dibendung jadi airnya hanya ada di jalan,” ucap perempuan berjilbab itu.

          Untuk diketahui, selain masuk ke perkampungan dan lahan pertanian, air bah juga membuat sejumlah fasilitas publik. Termasuk jembatan di Desa Suru, Ngetos yang baru dibangun akhir 2018 lalu.

          Demi, 71, warga Desa Suru mengungkapkan, jembatan di desanya ambrol setelah terkena luapan air sungai Sumberboto yang meluap sekitar pukul 17.00 Minggu (10/2) lalu. “Sekarang hanya bisa dilewati pejalan kaki. Motor tidak bisa lewat sini,” akunya.

Kemarin, anggota Tagana Nganjuk bersama anggota Koramil Ngetos membersihkan saluran air agar tidak mampet. Selain jembatan rusak, plengsengan di Dusun Suko, Desa/Kecamatan Ngetos juga ambles. Peristiwa itu terjadi sejitar pukul 17.00, hampir bersamaan dengan ambrolnya jembatan Desa Suru. Amblesnya plengsengan tersebut menyebabkan material masuk ke lahan pertanian milik Lasimin, 45, warga setempat.

Kerusakan plengsengan itu, kemarin ditinjau oleh anggota taruna siaga bencana (tagana). “Plengsengan yang ambrol ini mengancam akses jalan desa,” kata Agus Wiyono, anggota tagana.

Jika tidak segera diperbaiki dan diberi penahan, jalan desa di atasnya terancam ambrol. Sebab, saat ini masih ada bagian plengsengan lainnya yang retak.

Terpisah, Soekonjono yang dikonfirmasi tentang kerusakan infrastruktur desa menyebutkan, pihaknya masih menunggu laporan dari desa. Dia berharap pemerintah desa dan kecamatan bisa segera mengajukan surat ke BPBD Nganjuk. “Kami sudah melakukan asesmen. Tetapi, sesuai prosedur kami tetap menunggu surat dari pihak desa atapun kecamatan,” terangnya.  

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia